SHARE

Menjadi mandiri: Pasien Rumah Singgah St Antonius PaduaNatalia (20) dibuang sang ibu dan tak tahu jalan pulang. Naomi Nur (60) menderita stroke selama dua tahun tanpa ada keluarga yang membantu. Sementara Edi Iskandar (30) tak berdaya membiayai pengobatan sakit tangan dan kakinya. 

Mereka adalah tiga dari tujuh orang penghuni Rumah Singgah St Antonius Padua di Jl Tanah Tinggi 3 No 7B, RT06/RW01, Kelurahan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat. Berbagai latar belakang memaksa para pasien, sebutan bagi penguhi rumah singgah, tak punya pilihan lain. Kedatangan mereka ke rumah singgah pun melalui berbagai cara.

Beberapa pasien ditemukan oleh pengurus rumah singgah dalam kondisi sakit dan tergeletak di pinggir jalan. Ada pula yang dititipkan oleh teman atau saudara. “Bahkan, ada pasien yang tiba-tiba muncul di depan rumah singgah,” ungkap Koordinator Rumah Singgah Cicilia Landowero.

Untuk mengantisipasi bila terjadi sesuatu pada pasien selama di rumah singgah, pengurus selalu berusaha menemukan pihak yang bertanggung jawab. “Kemungkinan terburuk adalah saat pasien meninggal. Pernah juga ada pasien tersangkut kasus kriminal,” Cicil beralasan.

Para pasien memiliki jadwal harian yang mengatur segala aktivitas. Cicil membuatnya secara sistematis agar pasien merasa memiliki rumah singgah sebagai rumah bersama. Pasien yang sehat dituntut mengurus diri sendiri. Mulai dari membersihkan diri, rumah, serta mencuci baju, termasuk baju pasien yang sakit parah. “Karena ada pasien yang harus disuap, dimandikan, dan melakukan aktivitas lain di tempat tidur,” terang Cicil. Maka, pasien diminta mempedulikan sesama dan tidak bergantung pada pengurus.

Faktor usia membuat pasien hanya melakukan kegiatan di lingkup internal. Sebulan sekali mereka mengadakan Perayaan Ekaristi bagi yang Katolik. Sedangkan Lebaran, Natal, dan Hari Orang Sakit se-Dunia diperingati bersama-sama. Sesekali umat atau kelompok doa di lingkungan sekitar datang berkunjung.

“Sejak tahun 2002, pasien mendapat perawatan kesehatan dari seorang dokter yang datang atas inisiatif sendiri setiap Kamis,” ujar Valentinus Dulmin, staf Justice, Peace and Integrity of Creation Ordo Fratrum Minorum (JPIC-OFM Indonesia). Pengurus pun selalu terbuka pada masyarakat. Setiap kunjungan dokter, masyarakat ikut memeriksakan diri. Sehingga masyarakat selalu kooperatif terhadap kegiatan rumah singgah.

Selain dari JPIC-OFM Indonesia, dana operasional rumah singgah juga berasal dari jaringan kerja dan donatur. “Selama ini kami mendapat bantuan uang, kebutuhan sehari-hari, tempat tidur, dan sebagainya,” urai Cicil.

Pengurus selalu memikirkan cara pembiayaan pasien, meliputi makan, tempat tinggal, obat, dan akomodasi saat rawat inap di rumah sakit. Mereka bekerja sama dengan RS St Carolus dan RS Atma Jaya Pluit untuk mendapat keringanan biaya pengobatan.

Keberpihakan Fransiskan

Rumah Singgah St Antonius Padua resmi berdiri pada 1999 sebagai bagian sosial karitatif JPIC-OFM Indonesia. JPIC adalah salah satu dewan dalam ordo Fransiskan yang bergerak dalam bidang keadilan, perdamaian, dan keutuhan ciptaan.

JPIC memiliki empat bidang kerja, yaitu sosial karitatif, animasi, penelitian, dan pengembangan (litbang), serta ekologi. “Kami bekerja untuk menjawab tantangan zaman dengan spiritualitas St Fransiskus Asisi,” terang Cicil.

Awalnya, para saudara muda – sebutan untuk frater Fransiskan – bersimpati pada kaum marginal. Tahun 1999, mereka menyewa satu rumah kecil di Paseban untuk menampung tunawisma dan anak jalanan. Lalu, mereka mendapat hibah sebuah rumah yang layak untuk karyanya di tahun 2004, dan membentuk struktur pengurus rumah singgah, serta lebih menata pasien. Karena termasuk dalam program Forum Komunikasi Saudara Muda Fransiskan (FORKASI), para frater yang studi di Jakarta bertanggung jawab terhadap rumah singgah.

Saat ini, sekitar 30 frater bertugas menjaga pasien setiap hari, pukul 20.00-07.00 WIB. Seorang perawat dan tukang masak bertugas pada pukul 08.00-16.00 WIB. Seorang frater lagi bertugas pada pukul 14.30-20.00 WIB. Para frater ini secara bergiliran mengasuh pasien. Mereka dilatih secara sederhana oleh perawat tentang teknik memandikan dan menyuapi pasien.

“Keberpihakan pada yang miskin dan tertindas adalah semangat kami,” ujar Valen. Cicil menambahkan bahwa spirit St Antonius Padua dipilih karena ia seorang Fransiskan yang berpihak pada kaum lemah, miskin, dan tersingkir (KLMT). Maka, rumah singgah hadir untuk menemani dan berkomunikasi dengan pasien. Tak hanya menjaga, mereka juga melakukan pendekatan psikologis. Cicil berharap kehadiran mereka membantu penyembuhan pasien agar dapat kembali beraktivitas seperti semula.

Awalnya, rumah singgah hanya bersifat shelter atau tempat menampung sementara. Pasien harus kembali ke tempat asal bila kondisinya telah pulih. Namun, keadaan pasien yang sakit, renta, tanpa keluarga dan tempat tinggal, membuat para pengurus harus menemani mereka hingga menghadapi ‘maut’.

Rumah singgah pun sempat menampung sejumlah pekerja seks komersial (PSK) yang hamil dan hendak melahirkan. Mereka memberi fasilitas kesehatan serta alternatif perawatan bayi. “Kami bekerja sama dengan panti asuhan yang mau merawat bayi-bayi tersebut,” jelas Cicil.

Tahun 2005, jumlah pasien rumah singgah mencapai 21 orang dewasa dan tujuh bayi. Namun, kini tinggal tujuh orang pasien yang dirawat. Enam di antaranya berusia lanjut. Latar belakang pasien yang tak begitu jelas menyebabkan pengurus bingung saat hendak mengembalikan mereka. Berdasar standar operasional (SOP) rumah singgah, kriteria pasien antara lain bisa beraktivitas, ada penanggung jawab, serta segera keluar setelah sembuh.

“Kami pernah mengembalikan seorang pasien pada anak kandungnya selaku penanggung jawab. Tapi, ia ditolak anaknya dan terpaksa kami bawa kembali. Kami tak mungkin menolak orang miskin dan sakit,” ujar Cicil miris. Kenyataan ini membuat pengurus lebih fleksibel melihat kriteria pasien.

Pasien asal Kalimantan Naomi Nur merasa sedih karena stroke yang dideritanya selama dua tahun. Ia meminta pada Tuhan agar bisa segera sembuh, kembali bekerja, dan tak bergantung pada orang lain. Harapan serupa juga disampaikan Edi Iskandar. Meski sakit, ia berusaha membantu menyapu, mengepel, hingga mencuci baju pasien lain. Ia sangat terhibur saat ditengok oleh istri dan seorang anaknya.

Sementara Natalia merasa bersyukur tinggal di rumah singgah. Ia pun selalu membantu pekerjaan pengurus. Harapannya kini hanya bertumpu pada sang anak yang berusia tiga tahun dan berada di sebuah panti asuhan.

Tak meninggalkan

Kendala seperti beberapa pasien yang tidak menganggap rumah singgah sebagai rumah bersama serta ‘bandel’ saat menjalani diet sewaktu sakit kerap dihadapi pengurus. “Para frater tidak dididik sebagai perawat. Sehingga rasa jijik saat mengurus pasien yang muntah, buang air, atau mengganti popok adalah hal wajar,” ucap Cicil. Valen pun merasa susah mengarahkan anak jalanan yang sempat mampir di rumah singgah.

Tapi, hal ini tak mengurungkan tekad mereka. Perjumpaan dengan pasien justru bisa direfleksikan sebagai pengalaman batin yang indah. Bahkan, perawat rumah singgah Suster Anastasia Mei mengaku menjalankan tugas dengan senang hati dan semangat melayani.

Kemandirian, hidup sederhana, dan menghargai orang lain adalah nilai-nilai yang hendak ditanamkan pada pasien. Valen menginginkan agar saat keluar dari rumah singgah, para pasien memiliki kemampuan sebagai bekal bekerja. “Tapi, kenyataannya, rumah singgah kini seperti panti jompo. Saat keluar, pasien tak bisa apa-apa lagi bahkan ditolak keluarganya,” imbuhnya.

Namun, pengurus senantiasa menghibur para pasien bahwa di balik kesakitan mereka, ada karya Allah. Suster Mei pun berdoa demi kemajuan rumah singgah dalam menolong lebih banyak orang miskin. “Kalau bisa pasiennya juga bertambah biar tak seperti panti jompo lagi,” gurau suster yang bertugas sejak tahun 2002 ini.

Veronika Novita L.M./Alexander Aur

Sumber: Majalan HIDUP – http://www.hidupkatolik.com/2013/04/24/rumah-singgah-st-antonius-padua-seperti-panti-jompo#sthash.civII1bl.dpuf

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here