SHARE

Oleh: Peter C. Aman OFM, Direktur JPIC-OFM Indonesia


Keselamatan merupakan tema pokok dalam teologi kristiani, karena hal tersebut terkait erat dengan pengakuan iman akan Yesus Kristus sebagai Tuhan, Penebus dan Juruselamat. Keselamatan yang dikerjakan Allah dalam dan melalui Yesus Kristus diungkapkan dalam banyak istilah seperti penyelamatan, rekonsiliasi atau pembebasan, dll. Kata-kata ini jelas mengarah kepada suatu perubahan atau peralihan dari suatu keadaan negatif ke keadaan positif atau dari kondisi tidak selamat ke kondisi selamat, dari kondisi terbelenggu ke kondisi kebebasan.

Umumnya dipahami bahwa yang menjadi alamat karya keselamatan adalah manusia yang terbelenggu dosa, hidup dalam keadaan tak berahmat, jauh dari Allah, jahat dan mengabaikan kebenaran. Pemahaman tentang keselamatan seperti itu tidak seluruhnya benar dan sesuai dengan maksud karya penyelamatan itu sendiri. Karya keselamatan ditujukan kepada alam semesta dan segenap makhluk ciptaan. Pokok ini akan disoroti dalam tulisan ini.

Saling Terkait dan  Tak Terpisahkan

Apa yang paling pokok dalam ajaran Kitab Suci tentang manusia dan ciptaan adalah bahwa makhluk ciptaan dan manusia tidak menciptakan diri berkat kekuatan dan energi dari dirinya sendiri. Semuanya adalah ciptaan Allah, Sang Pencipta tunggal. Semua diciptakan Allah dan diciptakan dalam kesatuan serta saling melengkapi sebagai suatu kesatuan semesta yang terkait satu sama lain, yang disebut ekosistem semesta.

Kehidupan makhluk dalam alam semesta ini saling terkait satu sama lain dalam satu kesatuan utuh (ekosistem). Manusialah yang paling rentan, lemah dan memiliki ketergantungan mutlak pada makhluk ciptaan lainnya. Kendati demikian, manusia sebagai makhluk moral, juga dimandati suatu tugas dan tanggungjawab memelihara serta meningkatkan  keutuhan seluruh makhluk ciptaan. Tanggungjawab moral ini berakar pada hakekat manusia itu sendiri sebagai makhluk relasional. Manusia dan seluruh keberadaannya terbingkai dalam jaringan relasi dengan sesama, alam dan Allah sendiri.

Di hadapan persoalan ekologis yang mengancam keutuhan ciptaan dan keberlangsungan hidup seluruh makhluk ciptaan, dibutuhkan suatu pemahaman dan pendekatan baru terhadap makhluk ciptaan serta hubungannya dengan kehidupan manusia. Makhluk ciptaan bukanlah sarana  atau obyek yang ada serta diciptakan demi memenuhi kebutuhan dan kepentingan manusia. Makhluk ciptaan memiliki nilai pada dirinya sendiri lepas dari kebutuhan dan kepentingan manusia.

Saat ini semakin disadari kebutuhan akan suatu pemahaman teologis (soteriologis) baru tentang keterkaitan seluruh makhluk ciptaan dan bahwa keberlanjutan hidup dan keberadaan seluruh makhluk ciptaan amat bergantung pada keutuhan kesaling-terkaitan serta kesatuan semua ciptaan. Sejalan dengan itu juga disadari bahwa makhluk ciptaan bukan lagi hanya sekedar obyek kebutuhan hidup atau seni, sebaliknya merupakan sasaran karya keselamatan Allah dalam Yesus dan karenanya merupakan bagian integral dari karya keselamatan Kristus.

Kristus Kosmik dan Penebusan Universal

Gaudium et Spes 34 (GS) secara implisit mengajukan suatu teologi (soteriologi) ekologi dengan mengacu kepada dua teks terkenal dari Paulus yakni Rom 8: 18-23 dan Kol 1:15-20. Kedua teks ini berbicara tentang penebusan universal yang dikerjakan Kristus dan karenanya Kristus tak terpisahkan dari keseluruhan alam atau kosmos (Kristus kosmik).

Kedua teks ini menggaris-bawahi bahwa Yesus sebagai gambar sejati Allah merupakan pusat dari segala sesuatu. Melalui Dialah misteri hidup manusia dinyatakan dan dipulihkan sehingga manusia dapat mengambil bagian dalam karya Allah menyempurnakan dunia dan mengambil bagian dalam karya penebusan Kristus (cf. GS 34.67).

Kristis kosmik adalah suatu gagasan alkitabiah dan dapat membantu kita merefleksikan alam dalam persepektif kristologis. Ini tidak berarti seolah-olah kristologi memiliki sejumlah jawaban siap saji di hadapan persoalan lingkungan hidup masa kini. Namun, ketika menyadari bahwa setiap orang Kristen berakar pada Kristus – yang datang menganugerahkan hidup dalam kelimpahannya (cf. Yoh 10:10) –  maka setiap orang Kristen mestinya sadar bahwa persoalan ekologi masa kini merupakan tantangan iman baginya. Setiap orang Kristen mesti peduli pada persoalan ekologis bukan karena keprihatinan ekologis semata-mata tetapi dari imannya akan Kristus. Selain dua surat Paus di atas, teks Yoh 1:3-5.14 juga mengajukan konsep Kristus kosmik.

Teks-teks ini menampilkan dua hal pokok: pertama, kesatuan segala sesuatu dengan Kristus, karena segala sesuatu diciptakan dalam Dia dan untuk Dia. Jadi Kristus berada pada pusat kesatuan manusia dan kosmos secara keseluruhan. Kedua, karya keselamatan dalam dan melalui Kristus mengena pada atau tertuju kepada segala sesuatu (penebusan universal).

Dalam Injil Yohanes kata ‘Sabda’ (Λογος) adalah sesuatu yang aktif – yang ada sebelum awal zaman dan turut serta dalam penciptaan. Melalui atau dalam Dia segala sesuatu diciptakan (cf. Yoh 1:3-5). Kristus adalah kebijaksanaan Allah (cf. 1 Kor 1:24). Dia ada bersama Allah ketika penciptaan (Ams 8:22-23).  Refleksi tentang Kristus sebagai Kebijaksanaan Allah, memberikan satu perspektif baru dalam teologi ekologi. Hal itu digarisbawahi Paulus dalam Kol 1:15-20 bahwa Yesus adalah gambar Allah yang tak kelihatan; segala sesuatu dipersatukan dalam Dia sebagai yang sulung dari segala ciptaan, karena Ia ada sebelum segala sesuatu dan segala sesuatu ada dalam Dia dan diciptakan untuk Dia.

Dalam membahas perikop ini Michael Trainor (2004) membagi Kol 1:15-20 atas dua bagian, yakni ayat 15-17 dan 18b-20, sedangkan ay. 18a adalah penyambung kedua bagian itu.  Kedua bagian ini memilki pokok yang berbeda. Bagian pertama menekankan Kebijaksanaan Allah yaitu Kristus sendiri, sedangkan bagian kedua menekankan peran Kristus Penebus yang mempersatukan segala sesuatu dengan diri-Nya. Jadi Kristus mendamaikan dan mempersatukan segala sesuatu (rekonsiliasi) dengan dan dalam diri-Nya. Kristus ditampilkan sebagai Kristus kosmik dan bahwa karya keselamatan yang dikerjakan-Nya mencakup segenap alam citpaan.

Semua Makhluk Menantikan Pembebasan

Kesatuan Kristus dengan ciptaan menemukan bentuk sempurna dalam ‘penjelmaan’ (inkarnasi). Sabda menjadi daging (sarx, Yoh 1:14). Kata ‘daging’ menekankan makna sejati penjelmaan yakni bahwa Yesus Kristus memasuki realitas dunia dalam segala dimensinya, bahwa kelahiran, hidup dan kematian-Nya tercakup dalam bingkai sejarah dunia dan alam semesta. Dengan penjelmaan, Kristus (Kebijaksanaan Allah) secara nyata hadir di tengah ciptaan dan menjadi pusat segala ciptaan dan sejarahnya. Alam semesta lantas memilki matra Kristus (Christic dimension).

Ini berarti bahwa penebusan segala sesuatu hanya dapat terjadi dalam dan melalui Dia. Paulus menggarisbawahi hal itu baik dalam Kol 1:15-20 maupun dalam Rom 8:18-23. Namun surat Roma ini menampilkan satu sisi lain lagi terkait dengan alam ciptaan yang oleh Paulus dibedakan dari manusia. Dalam ay 20 Paulus menulis: “karena segala makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan” dan bahwa makhluk ‘telah diperbudak kebinasaan’ (ay.21). Segala makhluk telah diperbudak dan membutuhkan penebusan. Tetapi siapa (apa) yang memperbudak segala makhluk?

Pertanyaan ini tak dijawab Paulus. Yang ditegaskan di sana adalah bahwa segala makhluk ingin dibebaskan. Seperti manusia, makhluk pun diperbudak, hanya saja perbudakan manusia dilakukan oleh sesamanya atau disebabkan oleh sesamanya. Sebaliknya makhluk bukan-manusia tidak dapat menyebabkan perbudakan, hanya menderita perbudakan. Lantas apa makna perbudakan di sini? Sheila E. McGinn (2004) menawarkan jawaban ini: “perbudakan di sini dimaksudkan bahwa makhluk dihalangi untuk menjadi seperti yang dimaksudkan dari keterciptaannya sebagai makhluk yakni suatu tujuan abadi pada dirinya. Makhluk diperbudak bukan karena kesalahan atau kejahatannya sendiri. Tetapi karena Allah menciptakan segala sesuatu dalam ruang dan waktu (keterbatasan) maka perbudakan itu pun akan segara berakhir ketika Allah menyatakan kemuliaan-Nya. Makhluk seperti halnya manusia akan menerima pembebasan”.

Manusia dan segenap ciptaan akan dibebaskan oleh Kristus dan dipersatukan dengan Dia berkat kebangkitan-Nya. Itulah sebabnya bagi Paulus kebangkitan Kristus merupakan pusat sejarah manusia dan alam semesta (cf. Ef. 1:9-10). Kebangkitan berarti pemulihan dan pembaharuan segala sesuatu, karena itu alam semesta bukan hanya tempat terjadinya penebusan tetapi sasaran penebusan itu sendiri.

Dengan kebangkitan-Nya Kristus tidak menarik diri dari kesatuan-Nya dengan segala makhluk, tetapi sebaliknya segala sesuatu disentuh, diubah dan diberi makna baru karena Dia hadir dalam segala sesuatu dan menjadi pusat segala sesuatu. Karl Rahner menggarisbawahi hal ini ketika mengemukakan bahwa dengan kebangkitan-Nya Kristus tidak meninggalkan kubur serta bumi sekali untuk selamanya, tetapi kebangkitan menyingkapkan bahwa ‘tubuh dan tanah’ telah diubah ke dalam kemuliaan dan menjadi tempat tinggal yang Allah yang tak berhingga dan didiami Roh Putera. Kristus tidak meninggalkan alam semesta dan segala isinya karena semua itu adalah milik-Nya dan tubuh-Nya. Berkat kebangkitan-Nya Kristus hadir dan ada dalam segala sesuatu.

Kalau demikian maka perayaan Paskah adalah perayaan pemulihan dan pembaharuan segala sesuatu. Perayaan Paska adalah perayaan penebusan ekologis, bukan hanya manusia. Segala makhluk memiliki hubungan mendalam dengan Dia yang bangkit. Kasih-Nya menyembuhkan luka serta memulihkan kehancuran. Kebangkitan Krisitus memulihkan dan menyempurnakan segenap ciptaan.

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here