SHARE

Tak banyak hal yang dapat kita ingat tentang awal kisah kita di dunia ini. Satu hal yang sering kita dengar tentang itu adalah tangis melengking seorang bocah mungil ketika baru saja keluar dari rahim ibu.

Ini tentu saja berbeda dengan kisah cinta pada pandangan pertama yang membuat kita tersenyum bahagia bila mengingatnya. Kisah tentang detik pertama kita di dunia adalah kisah tentang tangisan. Tetapi kita bahkan tak tahu mengapa kita menangis.

Pernah kutanyakan pada orang-orang yang lahir lebih awal dariku, “Mengapa seorang bayi menangis ketika pertama kali hadir di dunia?” Kita tak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Mereka hanya bilang bahwa bayi menangis karena diliputi kecemasan dasar seorang manusia.

Ketika dilahirkan ke dunia manusia meninggalkan rahim ibu yang nyaman, penuh kehangatan, dan aliran kasih sayang. Ketika dilahirkan ke dunia, manusia seperti terlempar ke dunia asing. Ketika itu manusia diliputi kecemasan lalu menangis sekehendaknya tanpa ada seorang pun dapat membendung tangisan itu.

“Kecemasan?” Aku semakin bingung dengan jawaban itu, “Kenapa manusia merasa cemas?” pikirku penasaran.

Sekarang, kita telah berusia belasan tahunan. Kita sudah mengalami banyak hal di dunia ini. Sekarang kita tidak membutuhkan lagi banyak penjelasan tentang kecemasan seorang bayi yang baru lahir.

Kita sudah cukup dewasa untuk sadar betapa mencemaskan dunia ini bagi seorang bayi yang baru lahir. Dunia yang sudah rusak karena ulah manusia ini sungguh mencemaskan. Kerena itu, tangisan bayi itu akan selalu terdengar bahkan sampai tua pun manusia akan menangisi dunia yang telah rusak ini.

Manusia memanggilnya ‘Ibu Bumi’. Apakah kita masih pantas memanggilnya ibu, bila ternyata kita telah melukainya? Lihatlah betapa mencemaskan keadaan ‘Ibu Bumi’ saat ini. Lihatlah luka yang menganga karena penebangan liar, penambangan yang merusak lingkungan, pembuangan sampah sembarangan, dan pembangunan yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan.

Belum lagi daftar panjang kepunahan ciptaan karena perburuan liar, pengeboman ikan, tumpahan minyak dan pembakaran hutan. Siapakah yang bertanggung jawab atas semuanya itu? Manusia bukan?

Kita manusia tidak bisa dan tidak boleh mengabaikan tangisan ‘Ibu Bumi’ untuk memulihkan luka yang telah kita torehkan pada tubuhnya. Inilah saatnya kita menyembuhkan luka-luka pada tubuhnya.

Kita harus mengubah cara kita memperlakukan ‘Ibu Bumi’. Sudah saatnya kita memulihkan hubungan yang tidak harmonis dengan ‘Ibu Bumi’. Seperti seorang anak tidak pantas menyakiti hati ibunya, kita pun tidak patut melukai ‘Ibu Bumi’ tempat kita berpijak dan menggantungkan hidup.

Hari bumi ini hendaknya menjadi saat kita merefleksikan perlakuan buruk kita terhadap Ibu Bumi. Inilah saatnya kita mulai mengubah sikap kita. Refleksi ini hendaknya menjadi kekuatan untuk mengubah kebiasaan buruk kita merusak lingkungan.

Sebagai makhluk yang mulia, manusia hendaknya belajar untuk menghargai Ibu Bumi sebagai tempat tinggalnya. Manusia juga harus belajar untuk menghargai ciptaan lain sebagai makhluk yang sederajat dengan kita.

Mari kita balut luka ‘Ibu Bumi’ dengan merawat serta menjaga kelestariaannya. Semoga peringatan hari bumi ini membangkitkan semangat kita untuk menghargai dan menjaga kelestarian ‘Ibu Bumi’ yang kita cintai ini. Sebab pada rahimnyalah kita menggantungkan hidup kita.

Semoga tidak terdengar lagi tangisan cemas bayi yang baru lahir. Semoga bumi kita semakin terjaga kelestariannya dan kita pun hidup bahagia selamanya. SELAMAT HARI BUMI! (Alders Jangkar, OFM, Mahasiswa Tingkat II STF Driyarkara jakarta)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here