SHARE

Setiap tanggal 22 April, secara internasional dirayakan Peringatan Hari Bumi. Peringatan Hari Bumi diadakan untuk meningkatkan kesadaran seluruh warga planet bumi akan tempat yang mereka tinggali dan diami. Oleh Paus Fransiskus, Bumi adalah Rumah Kita Bersama.

Spirit yang sama telah dimulai oleh St. Fransiskus Asisi yang menghayati seluruh bumi sebagai biaranya. Karena itu, “biara” ini mesti dijaga, mesti dirawat biar tidak mengalami kerusakan dan menghancurkan kehidupan yang ada di dalamnya.

Dengan merayakan hari bumi, warga planet ini diajak untuk kembali bahkan mesti bersedia mendegarkan suara-suara alam dan terutama suara-suara warga bumi lainnya.

Blusukan

Istilah blusukan menjadi sangat trend dan populer di kalangan masyarakat sekarang. Istilah itu seakan-akan baru terbangun dari tidurnya. Maklum, istilah blusukan baru mulai populer ketika Jokowi (sekarang Presiden) menjadi kandidat calon presiden RI yang ke-7. Tak mengherankan, blusukan seakan-akan menjadi bagian dari karakter yang melekat dalam diri Jokowi.

Istilah blusukan adalah salah satu ungkapan kerinduan yang terdalam dari setiap pribadi. Kerinduan yang telah lama terpendam dalam diri. Tapi, hampir setiap orang tidak sadar atau bahkan tidak tahu bahwa mereka sedang dilanda rasa rindu.

Kerinduan itu pun terbaca ketika Jokowi hadir dengan karakter blusukannya. Tanpa penjelasan yang masuk akal, tanpa kajian yang idealis, Jokowi muncul sebagai figur dambaan setiap pribadi. Mengapa demikian?

Kehadiran Jokowi memang benar-benar memberi ruang untuk mengobati kerinduan setiap orang. Kerinduan untuk kembali kepada alam. Tentu, sepintas ini kesimpulan yang terlalu naif.

Tapi, saya melihat bahwa kehadiran Jokowi di tengah orang miskin, tempat-tempat kumuh, dan pinggir kali, sungai yang kumuh merupakan suatu fakta yang persuasif. Fakta yang mengajak setiap pribadi untuk mendengar berbagai suara alam. Torehan dan rintihan penderitaan suara alam menggugah orang untuk mengambil langkah dan kebijakan yang tepat.

Revolusi Mental

Tak mengherankan, pekikan revolusi mental ala Jokowi membangkitkan semangat setiap orang untuk mengobati kerinduan. Lantas, kita tanya, apa itu revolusi mental sebenarnya ala Jokowi?

Seorang budayawan, Radhar Panca Dahana menjelaskan bahwa revolusi mental yang dimaksud adalah sebuah abstraksi atau transendensi dari figur Jokowi sendiri.

Entah diakui atau tidak, Jokowi mengambstraksi dan mentransendensi kecerdasan holistiknya yang didaur dari kultur dan abad tradisional atau primordial. Cara berpikir holistik itu tidak dikerangkeng atau dikurung dalam boks logosentrisme european, yang celakanya sudah dianggap given oleh umumnya kaum terpelajar Indonesia.

Pada titik inilah, urgensi dari pemikiran trendi itu memiliki posisi argumen fundamentalnya. Revolusi mental tidak dapat diselenggarakan hingga ke tingkat praktis atau kebijakan politis jika hanya mengacu pada perhitungan-perhitungan akali yang diproduksi oleh sekumpulan ahli ilmu sosial. Ia juga harus menyertakan kearifan lokal. Kearifan yang dimaksudkan adalah gugusan pengetahuan yang luas, kaya dan dalam/ dari tradisi lokal yang dibangun dan dikembangkan oleh etnik dan ratusan sebetnik di seluruh persada negeri.

Dengan demikian, revolusi mental berarti menjadi manusia yang hidup dan tidak hanya mengandalkan rasionalisme-positif-materialistiknya. Karena, hal itu akan membuat manusia terjerat dalam perhitungan-perhitungan praktis, pragmatis, dan cenderung opotunistis sebagaimana para teknokrat pemerintahan-pemerintahan.

Tentu saja, kita bertanya, mengapa revolusi ini menjadi kerinduan setiap orang? Hal itu disebabkan kecerdasan holistik yang merupakan bagian dari revolusi mental itu, selama ini dilupakan bahkan dinafikan oleh adagium klasik Cogito Ergo Sum (saya berpikir, maka saya ada). Adagium itu mempengaruhi prilaku manusia yang selama ini cenderung eksploitatif terhadap alam. Bahkan, terhadap sesama manusia. Karena, adagium ini mengarahkan orang untuk melakukan perhitungan-perhitungan praktis, pragmatis dan cenderung oportunistis.

Oleh karena itu, blusukan kiranya menjadi ajakan ekologis untuk kembali kepada alam. Kembali kepada alam berarti mendengar rintihan penderitaan alam dan mengambil sikap serta kebijakan yang memulihkan keadaan alam. Selamat Memperingati Hari Bumi!! (Boni Ogur, Mahasiswa Tingakt IV STF Driyarkara, Jakarta)

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here