SHARE

JPIC-OFM Indonesia menjadi bagian dari Koalisi Jakarta untuk Pede (KOJA-PEDE) dalam aksi unjuk rasa menuntut intervensi Kementrian Dalam Negeri  terkait upaya menyelesaikan koflik kepemilikan Pantai Pede, Selasa 14/6, di gedung Kemendagri, Jln. Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat

Koalisi yang terdiri dari aktivis, mahasiswa, pemuda, dan tokoh agama asal Nusa Tenggara Timur ini bahkan mendesak agar Kemendagri segera memanggil Gubernur NTT Frans Leburaya yang mereka anggap dengan sengaja membangkang terhadap mandat Undang-undang No.8 Tahun 2003 Terkait Pembentukan Kabupaten Manggarai Barat.

Mereka menegaskan bahwa UU tersebut dengan jelas memerintahkan agar semua aset milik kabupaten induk (Manggarai) serta Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ada di wilayah Kabupaten Manggarai Barat wajib diserahkan ke Manggarai Barat. Namun hingga saat ini, salah satu aset milik Pemprov NTT yaitu lahan di pantai Pede belum diserahkan.

Sejak 2004 hingga 2014, Pemkab Mabar telah beberapa kali meminta aset tanah tersebut untuk segera diserahkan, namun pihak Provinsi NTT terus menerus menolak permintaan itu. Mirisnya lagi, Gubernur NTT, Frans Leburaya, tega melakukan perjanjian kerja sama dengan pihak ketiga/investor, PT Sarana Investama Mangabar (PT SIM), milik pengusaha Setya Novanto yang kini menjadi Ketua Partai Golkar, untuk pembangunan hotel dengan masa kontrak 25 tahun.

Langkah Pemprov NTT ini memicu arus penolakan yang dasyat dari masyarakat setempat. Masyarakat sipil mendesak agar lahan itu ditata menjadi ruang publik, dimana masyarakat bisa berekreasi, sebab Pantai Pede adalah satu-satunya wilayah pantai di Labuan Bajo yang masih bisa diakses bebas oleh publik, setelah wilayah lainnya dikuasai investor.

Di bawah langit mendung siang itu,  Koalisi Jakarta untuk Pede menuntut komitmen Kemendagri untuk segera menyelesaikan konflik ini dengan memerintahkan Gubernur NTT agar menyerahkan Pantai Pede, sebagaimana mandat UU.

“Penyelesaian sengketa ini,” kata Ovansius Wangkut selaku koordinator aksi “sekaligus mengakhiri konflik horisontal dan vertikal yang selama bertahun-tahun terjadi.” Kemendagri, menurutnya, adalah lembaga yang ditugaskan negara dan memiliki wewenang untuk itu.

Bahasa Seni

foto: JPIC-OFM Indonesia
foto: JPIC-OFM Indonesia

Siang itu orasi demi orasi disampaikan secara berapi-api, dengan suara lantang dan  menggunakan kekuatan verbal yang lugas, kritis, dan menohok. Namun ada bahasa lain yang digunakan orang-orang muda, yakni puisi dan aksi teatrikal. Deklamasi puisi dan aksi teatrikal mengawali langkah sepuluh utusan koalisi yang diijinkan masuk dan bertemu pihak Kemendagri bagian Humas dan Hukum.

Dalam aksi teartikal itu, si Gadis Pede, ditarik dari berbagai sisi. Namun pada akhirnya, setelah ditarik ke sana kemari oleh berbagai kepentingan, rakyat keluar sebagai pemenang. Pede milik rakyat dan digunakan untuk kepentingan publik seluas-luasnya. Akankah kemenangan itu menjadi kenyataan atau selamanya akan menjadi hayalan belaka?

Di depan orang-orang muda KOJA-PEDE yang tak sampai seratus jumlahnya, di atas pagar kantor Kemendagri, wajah sang proklamator dan pencetus Pancasila, Soekarno, berkibar-kibar pada setiap umbul-umbul bertulisakan selamat Hari Kelahiran Pancasila yang ditetapkan dan ramai dirayakan 1 Juni lalu.

Saya jadi ingat, tentang orang muda, Soekarno pernah begitu optimis ketika mengatakan, “…beri aku 1 pemuda niscaya akan kuguncangkan dunia!” Apakah dengan mengatakan ini kita hendak mengabaikan yang tua? Tidak. Karena Bung Karno pun mengatakan “Beri aku seribu orang tua niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya!”

“Kita berharap banyak pada orang muda!” bisik seorang peserta aksi yang enggan disebut namanya. “Ada begitu banyak kepentingan yang bermain di Pede,” tambahnya.

Di tangan orang muda, perubahan itu mungkin! Ia bukan hayalan kosong, melainkan mimpi yang punya isi, dan cepat atau lambat, akan menemukan bentuk perealisasiannya.

Resistensi yang dasyat, baik dari kalangan muda maupun tua, untuk menyelamatkan Pede dari cengkeraman privatiasi, kiranya berakhir dasyat! Pede menjadi Natas Labar (halaman bermain) seperti tersampaikan dengan baik dalam sebuah lagu yang didengarkan terus-menerus siang itu.Sebagai Natas Labar ia menjadi ruang yang bisa diakses semua, tanpa batas, tanpa sekat.)***

Johnny Dohut OFM

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here