SHARE

Dari Jakarta Menuju Verona

Dua tahun silam, Kongres Internasional JPIC OFM dilangsungkan di Jakarta, pada 2014. Tahun ini, 30 Mei-3 Juni 2016, kongres serupa diselenggarakan di Verona, Italia. Hadir dalam kongres Internasional ini, delegatus-delegatus, yang adalah para koordinator JPIC tingkat Konferensi dari setiap Konferensi.

Persaudaraan OFM memiliki 13 Konferensi JPIC yang tersebar di seluruh dunia. Dalam Konferensi Internasional JPIC di Verona, para delegatus Konferensi telah bersama-sama menghasilkan tiga butir kesepakatan yang merupakan isu penting zaman ini.

Ketiga hal itu adalah gaya hidup (life style), Pertambangan (mining) dan perpindah/migrasi penduduk (migration). Dua hal pertama merupakan peneguhan kembali Dokumen Jakarta (selanjutnya DJ) yang dihasilkan dalam pertemuan Internasional JPIC pada 2014 di Jakarta.

Hal terakhir merupakan keputusan baru berdasarkan fakta kemanusiaan yang saat ini dialami oleh para saudara di seluruh wilayah Eropa berkaitan dengan pengungsian besar-besaran masyarakat dari wilayah konflik Timur Tengah. Dalam konteks inilah pertemuan Verona menghasilkan pernyataan “ Verona Statement” (selanjutnya SV), yang menegaskan kembali Dokumen Jakarta dan isu baru berkaitan dengan fenomen pengungsian, migrasi.

Kita dikarunia kebijaksanaan dan contoh yang dipaparkan di hadapan kita dalam Ensiklik Laudato Si (LS). Ensiklik yang mengulas secara mendalam spirit Fransiskus dari Assisi. Baik dalam isi maupun metodenya, kami merekomendasikan dan menasehati semua saudara untuk:  Pertama, mengambil semua tantangan dari LS. Kedua, merespon undangan dari Definitor General untuk 2017, selaras dengan keputusan-keputusan Kapitel General 2015, untuk merangkul sebuah pertobatan ekologis yang diperhadapkan kepada kita.

Dokumen ini menyediakan sebuah kerangka kerja bagi kita untuk hidup sebagai pria perdamaian dan keadilan dan selaras dengan jeritan saudari kita, Ibu Bumi. Berkaitan dengan itu, setiap Konferensi (BOLIVARIANA, CONO SUR, COMPI, BRASILIANA, EAC, SAAOC) mengajukan program kegiatan, antara lain mempromosikan pemahaman dan implementasi Ensiklik LS, meninjau kembali atau mempelajari bersama dokumen-dokumen Konferensi, khususnya DJ dan LS  dengan melibatkan seluruh komunitas dan keluarga besar Fransiskan.

Khusus untuk Konferensi kita, SAAO, kami mengusulkan agar semua saudara menaruh perhatian, studi menuju implementasi isi LS dalam kehidupan sehari-hari dengan melibatkan Keluarga besar Fransiskan di seluruh Nusantara.

Dengan jalan itu, kita dapat mewartakan secara luas spiritualitas kosmik Fransiskan yang berkaitan dengan nilai-nilai keadilan, perdamaian, keadilan dan keutuhan Ciptaan (JPIC). Dengan kata lain, kita semua diajak untuk memeuni seluruh Nusantara ini dengan nilai-nilai Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (JPIC) yang merupakan identitas kefransiskanan kita. Tiga kesepakatan Verona mencakup hal-hal sebagai berikut:

  1. Gaya Hidup (Life style)

Dalam spirit LS, kita dipanggil untuk melihat secara kritis gaya hidup personal dan komunitas kita untuk menilai dampaknya bagi orang lain dan lingkungan. Setiap tahun kita melihat di hadapan kita konsekuensi dari hubungan kita yang retak dengan Ibu Bumi dan dalam persaudaraan kita. Kita harus menilai apa yang bisa kita ubah dan merangkul perubahan tersebut.

Menanggapi hal tersebut, maka setiap Konferensi merancang program-program, seperti animasi, promosi, lokakarya dan pameran berkaitan dengan gaya hidup manusia yang berdampak pada perubahan iklim. Selain itu sebagian program diciptakan untuk mendorong penyusunan rencana kerja ekologi di setiap entitas berdasarkan spirit pertobatan ekologis (personal dan komunal).

Semua gagasan berkaitan dengan hal ini mesti menjadi sebuah kurikulum (JPIC) untuk pendidikan awal para saudara. Agar pemahaman kita semakin mendalam dan luas, perlulah diciptakan hari-hari studi dan refleksi untuk memperdalam Ensiklik LS dan sejumlah dokumen persaudaraan berkaitan dengan Ekologi, seperti “Care for Creation in Daily Life of the Friars Minor“.  Semua refleksi, studi dan lokakrya itu diharapkan dapat membantu setiap saudara dan komunitas untuk menghayati setiap hari, sebuah gaya hidup baru yang tidak membebani Ibu Bumi.

Pertemuan tingkat Konferensi-Konferensi Eropa di Verona untuk merefleksikan sejumlah isu yang mengemuka di wilayah pelayanan para saudara di seluruh Eropa, lebih-lebih isu pengungsian.
Pertemuan tingkat Konferensi-Konferensi Eropa di Verona untuk merefleksikan sejumlah isu yang mengemuka di wilayah pelayanan para saudara di seluruh Eropa, lebih-lebih isu pengungsian.
  1. Pertambangan (Mining)

Kami ingin memaparkan di hadapan para saudara terkait masalah pertambangan, yang sudah menghancurkan seluruh dunia. Mineral-mineral bumi mendatangkan anugerah bagi kita, namun terlalu sering teknik-teknik pertambangan, perpindahan dan ketidakberdayaan orang, polusi tanah dan air, korupsi dan arogansi dari banyak korporasi tambang dan ketidakadilan dalam pembagian keuntungan tambang, mendesak kita untuk mempertanyakan nilai apa yang sesungguhnya mereka bawa.

Setiap saat kita mendengar sharing dari para saudara tentang bahaya pertambangan dan perjuangan mereka tak kenal lelah untuk menegakkan keadilan bagi semua yang terlibat dalam industri ini. Kami menasihati saudara-saudara untuk berdiri teguh dalam solidaritas dengan orang-orang miskin dan Ibu Bumi untuk memperbaiki ketidakseimbangan yang terjadi.

Untuk menanggapi masalah ini, masing-masing Konferensi mengajukan sejumlah kegiatan konkret yang melibatkan persaudaraan maupun masyarakat sipil. Muara dari usulan-usulan yang diajukan setiap Konferensi terarah kepada usaha untuk membangunkan kesadaran para saudara akan dampak buruk pertambangan di seluruh dunia, yang mengancam hajat hidup orang banyak, khususnya kaum miskin dan Ibu Bumi.

Karena itu, pentinglah setiap saudara baik personal maupun komunitas bekerja sama untuk menyediakan informasi terkait masalah pertambangan. Para saudara didorong agar membangun kerja sama dengan organisasi-organisasi masyarakat dan agama untuk melawan daya rusak pertambangan. Sebagai contoh, para saudara di Jerman berinisiatif untuk bekerja sama dengan Lembaga-lembaga sipil di Jerman untuk membantu advokasi tambang di Kolumbia dan Indonesia. Para saudara di Konferensi N.S Guadalupe memperkuat gerakan di Honduras dan El Salvador untuk bebas dari penderitaan dan kehancuran akibat tambang di wilayah tersebut. Untuk memperkuat advokasi, maka kegiatan penelitian untuk menghimpun data-data yang akurat sangat dibutuhkan.

  1. Perpindahan Penduduk (Migration)

Ketidakseimbangan dari sebuah krisis ekonomi, sosial, dan keagamaan juga telah menciptakan fenomena perpindahan penduduk, migrasi. Hal ini selalu ada bersama kita, tetapi pada skala ini banyak negara dan kelompok telah membatasi keramahan dan sambutan kepada orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah dan keluarga mereka. Tak sedikit orang yang apatis,  meninggalkan mereka tanpa bantuan keuangan atau tempat tinggal yang layak.

Situasi ini mungkin akan meningkat di tahun-tahun mendatang akibat perubahan iklim yang mendesak semakin banyak orang keluar dari tanah air tradisional mereka. Bagaimana kita menanggapi saudara-saudari kita ini? Mereka akan menjadi salah satu isu besar di masa depan dan menantang kita untuk berdiri dalam solidaritas dengan para peziarah yang tak berdaya zaman kita ini.

Permasalah ini dirasakan paling hebat di sejumlah Konferensi Eropa. Gelombang pengungsian akibat situasi perang di wilayah Timur Tengah dan Afrika mendesak sejumlah negara Eropa untuk membuka diri dan bersedia untuk memberi tumpangan pada para pengungsi. Sayangnya, sambutan dan keterbukaan ini menimbulkan dilema di beberapa negara dan kelompok yang tidak menginginkan kehadiran para pengungsi, yang dapat merusakan tatanan kehidupan masyarakat yang sudah mapan.

Sebelum pertemuan tingkat Delegatus Konferensi, para animator JPIC Konferensi Eropa melakukan sebuah pertemuan, yang berlangsung hampir seminggu untuk membahas secara mendalam tema tentang migrasi atau pengungsian. Masalah ini diperdalam lagi dalam pertemuan internasional para delegatus konferensi dan menghasilkan satu butir kesepakatan berkaitan dengan kepeduliaan terhadap masalah migrasi.

Masalah ini sangat serius dan menyedot perhatian publik dunia. Dalam kaitan dengan itu, Paus Fransiskus mendorong Gereja-Gereja agar membuka tangan dan bersedia menerima saudara-saudari pengungsi yang mengembara karena konflik peperangan.

Untuk itu setiap Konferensi mengusulkan kegiatan-kegiatan, antara lain mendalami dan memahami fenomena migrasi, menyediakan rumah atau penginapan bagi pengungsi (contoh rumah “La 72” di Tenosique, Tabasco), atau bahkan Konferensi Itali mendesak Minister General untuk membuka Kuria bagi keluarga migran dan pengungsi.

Selain membangun kesadaran ke dalam persaudaraan, membangun jejaring kerja dengan forum, jaringan, atau organisasi yang terlibat aktif mengurus masalah pengungsi atau kaum migran juga dirasa penting. Mengambil langkah-langkah konkret untuk membantu masyarakat dan para saudara yang sedang menderita akibat gejolak perang di Ukraina.

Sdr. Mike,OFM - Koordinator JPIC Konferensi Asia Selatan, Australia dan Oceania (SAAOC)- sedang memaparkan laporan dari Konferensi. Paling kanan, direktur JPIC Kuria, Br. Jaime Campos, OFM.
Sdr. Mike,OFM – Koordinator JPIC Konferensi Asia Selatan, Australia dan Oceania (SAAOC)- sedang memaparkan laporan dari Konferensi. Paling kanan, direktur JPIC Kuria, Br. Jaime Campos, OFM.

Jadi, hasil kesepakatan pertemuan internasional JPIC di Verona bermuara pada tiga isu besar dan penting itu,  Kesepakatan Verona (Verona Statement) ini menguatkan Dokumen Jakarta (2014) dan akan menjadi materi final yang diajukan ke Definitorium General untuk mempersiapkan pedoman kerja (animation guidelines) JPIC pada tahun 2017.

Untuk itu, Sdr. Lino Gregorio Redoblado, Defintor Asia, penanggung jawab bidang JPIC Ordo berkenan hadir dan mempresentasikan materi yang membantu para peserta untuk menyiapkan gagasan dan rancangan panduan animasi JPIC 2017.

“Perdamaian, Keadilan dan Keutuhan ciptaan adalah tiga topik yang benar-benar terkait, tidak dapat dipisahkan….sebagai bagian integral dari alam semua kita terhubungkan dengan sebuah ikatan yang tak kelihatan dan membentuk semacam keluarga universal, suatu persekutuan luhur yang memenuhi kita dengan rasa hormat yang suci, lembut dan rendah hati” (Bdk. Ls 92 & 89).

Dari perspektif ini, kita sebagai saudara Dina diutus untuk merangkul wilayah-wilayah pinggiran dunia kita zaman ini dengan segenap hati kita yang terpaparkan dalam dimensi Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan.

Dibimbing oleh LS dan Materi-materi dokumen JPIC, kita diajak untuk menyusun rencana-rencana praktis dan pilihan-pilihan cerdas untuk membangun pola pendekatan penginjilan yang diinspirasikan oleh St. Fransiskus, yang merupakan ‘contoh unggul dalam melindungi yang rentan dan dalam suatu ekologi yang integral, yang dihayati dengan gembira dan otentik’ (LS 10).

Gagasan yang menukik pada pengalaman praktis hidup sehari-hari akan menjadi basis  pendidikan dan misi bagi para saudara dalam menciptakan inisiatif-inisiatif cerdas di bidang formasi, evangelisasi, karya pastoral, karya sosial-karitatif di seluruh wilayah Nusantara.

 Michael P. OFM Koordinator JPIC Konferensi Asia Selatan,

Australia dan Oceania (SAAOC)

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here