SHARE

Dalam ensiklik Laudato Si, Paus Fransiskus menyoroti besarnya pengaruh gaya hidup konsumtif terhadap persoalan ekologis dewasa ini. Melalui surat ini, beliau mengajak semua umat beriman dan semua orang yang berniat baik untuk mengubah gaya hidup konsumtif yang disinyalir menjadi salah satu penyebab masifnya persoalan lingkungan hidup. Adalah tanggunjawab semua manusia beriman untuk berjuang menjaga bumi rumah kita bersama ini, salah satunya dengan mengatasi gaya hidup konsumtif.

Setiap agama punya ajaran yang dapat membantu umatnya untuk mengatasi gaya hidup konsumtif. GSS berkesempatan mewawancarai Bapak Suhadi Sendjaja, Maha Pandita Utama Aliran Buddha Niciren Syosyu Indonesia (NSI) di kantor Pusatnya yang bertempat di Jl. Minangkabau no. 25, Manggarai Jakarta Selatan untuk meminta pendapatnya sesuai dengan perspektif Budhis dalam menghadapi masyarakat konsumtif.

Keserakahan, Kemarahan dan Kebodohan

Budha Sakyamuni, pendiri Budha Niceren Syosyu membagi tiga masa. Masa 1000 tahun setelah Budha meninggal disebut masa sadharma. 1000 – 2000 tahun setelah Budha meninggal disebut masa pratirupa dimana muncul stupa-stupa dan patung-patung, dan yang terakhir 2000 tahun dan seterusnya adalah masa akhir dharma.

Akhir dharma ini berarti masa dimana kekuatan dharma itu mulai tenggelam, dharma-dharma yang sudah dibabarkan oleh Budha Sakyamuni. Ciri-cirinya adalah manusia lebih dikuasai oleh keserakahan, kemarahan dan kebodohan.

Karena landasannya adalah keserakahan, maka ketika seseorang mencari atau membeli dan mengkonsumsi sesuatu tidak lagi didsarkan pada kebutuhan. Walaupun sudah punya masih terus ingin membeli. Serakah itu artinya tidak pernah merasa cukup. Dengan demikian, ukuran yang paling bagus itu adalah cukup, bukan banyak.

Kemarahan menimbulkan rasa dengki dan iri hati, tidak mau kalah sama orang. Melihat seseorang sudah memiliki sesuatu, dia tidak mau kalah, padahal ia sudah memiliki barang. Masyarakat kita, seperti Produsen juga berusaha untuk memproduksi sebanyak-banyaknya.

Nah, agar banyak yang membeli, dia merancang iklan, diskon, sehingga pembeli pun terpancing. Jadi ketika sikap serakah dan amarah bertemu dengan sikap serakah dan amarah juga, maka jadilah masyarakat konsumtif yang “berkobar-kobar”. Salah satu wujud dari kemarahan adalah munculnya prinsip “Saya belanja maka saya ada”. Sikap ini adalah kesombongan yang bersumber pada dirinya sendiri.

Apalagi, sikap serakah dan amarah dilengkapi dengan kebodohan. Kebodohan tidak berarti tidak memiliki pengetahuan tetapi tepatnya lebih pada tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang tidak baik. Orang tidak lagi sadar dan tahu bahwa yang dilakukannya adalah yang salah. Salah jadi benar, benar jadi salah. Kebodohan juga berarti lebih dikuasai oleh hawa nafsu. Hawa nafsu semakin memperparah sikap tidak mudah puas dan keserakahan.

Ketiga sikap dasar ini mempunyai peran yang sangat besar dalam melahirkan masyarakat konsumtif dewasa ini. Peran agama persis dibutuhkan pada titik ini, untuk mengingatkan umat akan kecendrungan hidup yang dikuasai oleh ketiga sikap ini. Melalui pengajaran-pengajaran, melalui latihan-latihan bahkan melalui doa dan meditasi, umat diingatkan akan besarnya pengaruh hidup konsumtif. Dengan ajaran-ajaran, peringatan-peringatan, latihan-latihan, umat diharapkan bisa mengambil sikap yang tepat di hadapan tawaran-tawaran yang menggiurkan pada masa sekarang.

Tips Khusus

Pada masa sadharma sikap ini dapat diatasi dengan pengajaran 42 tahun kehidupan Budha, semakin memasuki zaman akhir dan seterusnya dibutuhkan ajaran yang lebih kuat dan disitulah ajaran 8 tahun terakhir kehidupan Budha dibutuhkan, yaitu Sadharmapundarika Sutra. Dan ajaran Budha dari dulu sampai sekarang adalah hukum karma yang tidak pernah berubah. Apa yang kita alami sekarang sebagai bagian dari gaya hidup konsumtif, akan kita rasakan karmanya.Penderitaan yang kita rasakan karena gaya hidup konsumtif hanyalah akibat dari karma kita yang serakah, penuh dengan rasa amarah, dan kebodohan.

Untuk mengatasi itu, kita perlu memberbaiki sikap serakah, amarah dan kebodohan itu. Budha mengajarkan bahwa, untuk memperbaiki sesuatu, janganlah kita memperbaiki akibatnya, tetapi perbaikilah atau bersihkanlah sumbernya. Kita tidak perlu meributkan masyarakat konsumtif tetapi mari kita memperbaiki sikap hidup yang mengakibatkan gaya hidup konsumtif. Maka kita mengajak umat untuk hidup hemat, hidup berdasarkan nilai-nilai, berdasarkan apa yang benar-benar dibutuhkan, bukan berdasarkan keinginan.

Peduli Lingkungan

Nenek moyang dari kerusakan atau kehancuran lingkungan hidup salah satunya adalah masyarakat konsumtif. Masyarakat konsumtif tidak lagi memikirkan akibat tindakannya terhadap lingkungan hidup.

Dalam Budhis Niceren Syosyu berlaku suatu prinsip E Sho Funi. E artinya lingkungan (makrkosmos), Sho artinya manusia (mikrokosmos), dan Funi artinya bukan dua. Jadi, maksud dari E Sho Funi adalah manusia dan lingkungan itu bukan dua tetapi satu. Dengan demikian manusia dan lingkungan ini satu bukan dua, ada dua eksistensi tetapi bukan dua melainkan satu, karena kita saling membutuhkan, saling menunjang, dan saling mempengaruhi. Karena perasaan kita dipengaruhi keserakahan, kemarahan, dan kebodohan maka perilakunya juga berakibat merusak lingkungan. Manusia tidak lagi memikirkan untuk tidak menjaga kebersihan, mengeksploitasi hutan sebanyak-banyaknya demi keuntungannya sendiri.

Sekarang kita merasakan akibatnua, perubahan iklim. Alam tidak lagi bekerja secara teratur, tidak lagi berjalan sesuai dengan waktunya. Semuanya sudah terganggu. Mikrokosmos tidak lagi memegang kebenaran yang hakiki sehingga alam semesta sebagai makrokosmos juga tidak bisa mengatur dirinya.

Saatnya Kita Sadar

Sekarang saatnya kita sadar. Kita mesti berubah. Salah satunya adalah menanam pohon. Kita harus memulai dari diri kita, mulai dari kelompok kita. Janganlah kita menunggu tetapi mari kita memulai. Peran serta komunitas agama sangat diharpakan untuk bisa memperbaiki perilaku kita, memperbaiki dikap dasar manusia.

Berdasarkan penghayatan akan ajaran Buddha yang sesungguhnya, Maha Pandita Utama NSI ini pernah menerima penghargaan dari kementrian Lingkungan Hidup pada tahun 2014. Dengan konsep Eco Viharanya, beliau berhasil menjadi penggerak pelestarian lingkungan hidup di sekitar Wihara yang berada di kaki Gunung Salak, Kabupaten Bogor.

Pria lulusan SMA Regina Pacis Bogor pada tahun 1972 ini menegaskan pentingnya menjalankan E Sho Funi sebagai way of life. Memlihara lingkungan adalah cara hidup yang sudah ditanamkan sejak kecil. Disadarkan akan betapa berharganya apa yang ada di sekitar. Misalnya saat makan, seseorang disadarkan akan pentingnya makanan, dan bahkan butiran-butiran nasi itu memiliki jiwa, yang membuat kita bisa makan, dan makan secukupnya serta tidak membuang-buang makanan.

Jadi relasi antara mikrokosmos dan makrokosmos adalah way of life dari seorang Budhis. Kita mesti menyadari bagaimana alam semesta memelihara kehidupan kita, memberikan sinar matahari, udara yang segar, air yang menyehatkan. Tetapi ketika kita merusaknya, dia tidak lagi mampu memelihara kita.

Kewajiban kita adalah melahirkan generasi yang berpikiran tepat dan benar yang mampu menjadi pemimpin-pemimpin yang mampu menjaga lingkungan. Memiliki perilaku-perilaku yang ramah terhadap lingkungan.

Hidup Secara Proporsional dan Kosntruktif

Di tengah keragaman Bangsa Indonesia, Bpk Suhadi menekankan pentingnya mempersiapkan umatnya untuk mengubah mental, atau seperti bahasa Presiden Jokowi merevolusi mental. Yang paling mendasar adalah bagaimana setiap komunitas bisa meningkatkan kualitas dirinya, sehingga menjadi manusia yang manusiawi. Dalam NSI kita diajak untuk merevolusi jiwa, meningkatkan kualitas jiwa. Kita mengajak banyak orang dengan sikap dan cara hidup kita. Kita dapat lebih bersikap bijak, hidup secara proporsional dan konstruktif.

Karena itu marilah kita memahami dharma secara tepat, menjalankan dharma yang sesungguhnya, seperti yang diajarkan oleh Budha, sehingga kita dapat mengubah prilaku kita. Banyak perilkau kita yang salah karena memiliki cara pikir yang salah. Karena itu, perlu terus menerus belajar dharma yang baik. Mari kita terus memperbaiki sumber dari permasalahan yang kita hadapi jangan memperbaiki akibatnya. Mari kita memperbaiki sumber air dharma daripada memperkeruh kolam yang diakibatkan karma kita yang buruk.

(Sdr. Charlest, OFM dan Sdr. Johnny, OFM)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here