SHARE

Menjaga Keutuhan Ciptaan: Kesadaran Liturgis

Menjaga ciptaan bukanlah komittmen sekunder dalam hidup dan misi gereja. Hal ini merupakan bagian itegral dari kerjabersama Allah untuk memastikan bahwa semua manusia dan segala ciptaan mempunyai hidup dalam kelimpahan. Seluruh ciptaan, bukan hanya manusia, dipanggil untuk selamat dalam dalam Yesus Kristus (bdk. Yoh, 1:1-3); Kol 1:15-20; Ibr. 1:3 dan 2 Ptr. 3:3-13).

Alam adalah hasil tindakan kreatif Allah dan merupakan rumah di mana kita hidup dan bergerak. Tuhan menciptakan dunia dengan cara dimana ia terikat sangat erat dengan kehidupan manusia. alah telah membuat manusia bertanggungjawab terhadap seluruh dunia, memberikan manusia pria dan wanita tugas untuk mempromosikan keharmonisan dan mengembangkan ciptaan dengan penuh cinta dan perhatian (Bdk. Kej, 1:26-30; 2, 15). Karena itu kehidupan manusia mempunyai hubungan yang tak terpisahakan dengan lingkunganya.

Kita semua mengetahui bahwa liturgi adalah pusat dari kehidupan komuitas Kristiani. Melaluinya kita membenamkan diri dan menjalin relasi yang tepat dengan Allah, sesama dan lingkungan. Melaluinya kita mengungakpakan keyakinan kita akan Allah dan karya-Nya. Karena itu, keyakinan pada Allah Pencipta, kasih kita kepada ciptaan Allah dan komitmen kita untuk menjaga ciptaan Allah sudah seharusnya menjadi bagian integral dari pengalaman liturgi dan pengalaman hidup. Dalam bait pertama Credo, kita sering ungkapkan iman kepada Allah ini: “Aku Percaya akan Allah , Pencipta langit dan bumi”.

Alam dibaca secara simbolik dalam Gereja dan benda-benda di alam memiliki arti khusus dalam mengkomunikasikan keselamatan seperti terungkap dalam lambang-lambang sakramen (air, cahaya, kegelapan, roti, anggur, minyak). Dalam kitab Mazmur, perumpamaan-perumpamaan Yesus, nyanyian Gereja dan doa-doa Perayaan Ekaristi terdapat banyak referensi. Meski demikian ungkapan iman akan Allah sebagai Pencipta dan sumber hidup seringkali hanya implisit dan tersembunyi dalam perayaan-perayaan liturgi Gereja.

Pada moment krisis dan meningkatnya kerusakan lingkungan, pentinglah bahwa Gereja secara umum dan persaudaraan Fransiskan secara khusus diajak untuk lebih jelas mengekspresikan iman kepada Allah Pencipta.

Spiritualitas Fransiskan sangat membantu tugas ini, kita dapat memulihkan kembali elemen alam ini dalam liturgi dan kita juga dapat menemukan cara untuk menentukan waktu khusus dalam satu tahun untuk merefleksikan tentang Allah Pencipta dan tentang anugerah kehidupan.

Paus Fransisus baru-baru ini mendeklarasikan tahun litugi dengan menambahkan masa Penciptaan yang dimulai pada tanggal 1 September (hari untuk merayakan dan mempromosikan Pemeliharaan ciptaan) sampai pekan kedua Oktober (- berpuncak pada Perayaan St. Fransiskus) untuk tujuan ini.

Apa yang dapat kita lakukan?

Gunakan moment-moment dalam penanggalan liturgi untuk menyoroti aspek ciptaan.

Perayaan Natal adalah waktu yang tepat untuk mengangkat tema konsumerisme dimana prodak dari konsumerisme adalah sampah. Di keluarga, komunitas maupun di paroki dapat direfleksikan bagaimana merayakan Natal secara ekologis.

Pada masa Puasa kita seringkali  diajak untuk kembali pada praktek keadilan, tetapi kita sedikit sekali mendengar ajakan untuk mempraktekan keadilan ekologis, jarang seakali kita diajak untuk melakukan pertobatan ekologis. Paus Yohanes Paulus II dalam beberapa kesempatan mengajak kita untuk melakukan pertobatan ekologis.

Barangkali pada masa puasa dapat kita isi dengan mengadakan studi bersama tentang masalah-masalah ekologi. Kita bisa mengadakan doa bersama dengan pendalaman tema-tema tersebut sambil bertanya ke dalam diri pertobatan ekologis mancam apa yang Tuhan serukan ke dalam hatiku.

Tema-tema yang dianjurkan misalnya: Pemanasan global; air; sumber-sumber energi; sampah; makanan hasil modifikasi; ekologi dalam kehidupan sehari-hari; konsumsi yang bertanggungjawab. Kemungkinan lain yang dapat dilakukan pada masa puasa atau paskah adalah mengadakan doa bersama dimana “Pohon Salib” dihiasi dengan sayur dan tumbuh-tumbuhan yang menandakan bahwa kematian Yesus Kristus memperbarui segenap ciptaan.

Pemberkatan binatang. Beberapa negara memiliki tradisi pemberkatan binatang. Aslinya perayaan ini berasal dari daerah pedesaan, seperti pemberkatan benih, binatang untuk membajak sawah, dan lain sebagainya, yang kemudian diteruskan ke kota-kota seperti pemberkatan binatang peliharaan, anjing pelacak, kuda-kuda para polisi, dll. Untuk pemberkatan, dapat diatur dengan bacaan dan doa-doa yang sesuai, dapat menjadi tempat evangelizazi yang luar biasa. binatang bukan hanya untuk dikonsumsi tetapi terutama mempunyai peran penting dalam rantai kehidupan dan sangat membantu untuk memperlancar bahkan mempertahankan kehidupan.

Pada Pesta St. Fransiskus secara khusus menyoroti hubungan St. Fransiskus dengan segenap ciptaan. Di sekitar perayaan ini keluarga, komunitas, sekolah, paroki, dll dapat mempersiapkan tema-tema khusus untuk direnungkan dan mewujudkanya dalam aksi nyata.

Masa Penciptaan: merayakan “The Day of Creation: yang diperingati mulai tangal 1 September dan berpuncak pada Pesta St. Fransiskus. Untuk ini dapat diisi dengan konfrensi, doa bersama dan aktifitas ekologis lainnya yang dapat dipraktekan baik secara pribadi, keluarga, komunitas, maupun tingkat paroki.

Merayakan hari-hari internasional berkaitan dengan Hari Air Sedunia (22 Maret), Hari Ibu Bumi (22 April) dan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (05 Juni). Rencanakan kegiatan yang sesuai untuk komunitas, pendidikan ekologis, katekese, doa dan proyek-proyek lainnya.

Termasuk intensi yang dapat didoakan sepanjang tahun; misalnya, berdoa untuk meminta pengampunan atas kesalahan dan kejahatan yang dibuat terhadap lingkungan; mendoakan usaha untuk memelihara ciptaan; menyampaikan syukur untuk anugerah ciptaan dan untuk hasil yang disediakan Tuhan. Gunakan lagu-lagu dan himne yang merayakan ciptaan dan mempromosikan pemeliharaannya; termasuk juga homili dengan tema-tema ciptaan.

hal-hal lain yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran dan kontemplasi ekologis,
Mendekorasi ruangan di rumah, sekolah, kantor atau komunitas  dengan poster yang menginspirasikan semangat perhatian terhadap ciptaan, mislanya poster “Gita Sang Surya” atau kata-kata lain yang sesuai mislanya “Segala Makhluk memuji Tuhan” dan seterusnya.

Gunakan pot untuk dekorasi di Gereja, Rumah, Sekolah, Komunitas, untuk mengurangi bunga hiasan dan bunga-bunga plastik.Gunakan kertas daur ulang atau bekas pakai untuk materi-materi yang disiapkan. Untuk kegiatan-kegiatan di atas dan kegiatan lainnya, dan tempatkan wadah untuk pemilahan samapah dalam acara-acara yang diselenggarakan.

(Charles Talu, OFM – Berdasarkan Dokumen Care For Creation in The Dailly Life of Friars Minors)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here