SHARE

Para pemuda sebagai agen perubahan harus dibekali deng­an pengetahuan dan kedisiplinan diri yang tinggi.

JPIC OFM Indonesia kembali meng­adakan pelatihan untuk Kader Pemuda Penjaga dan Penyelamat Kampung (KP3K), di Pagal 12-23 Juni 2016 lalu. Para peserta pelatihan berasal dari 4 Kabupaten yang berada di Pulau Flores yaitu Manggarai, Manggarai Timur, Manggarai Barat, dan Nagekeo.

Pelatihan yang dilaksanakan di Pusat Ekopastoral Fransiskan di Pagal, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai ini merupakan upaya dari JPIC OFM Indonesia untuk berbagi ilmu dan informasi kepada para pemuda demi bertambahnya wawasan dan pengetahuan tentang bagaimana melakukan penjagaan dan penyelamatan kampung halam­an dari berbagai persoalan.

Selain itu pelatihan ini juga sebagai sarana untuk melatih kedisiplinan, kepekaan dan cepat tanggap terhadap persoalan yang mungkin akan terjadi di kampung.

Dalam kegiatan ini peserta yang terdiri dari pemuda-pemuda dibekali materi tentang persoalan lingkungan hidup, pencegahan perdagangan manusia, kebudayaan, hukum adat,  dan undang-undang desa.

“Persoalan lingkungan hidup, kerusakan alam akibat pertambang­an, krisis air minum, adanya kejahatan kemanusiaan berupa perdagangan manusia dan pembangunan desa merupakan sisi-sisi kehidupan yang perlu dicegah dan diselamatkan”, kata P. Mike Peruhe OFM, kordinator pelatihan.

Lebih jauh Direktur JPIC- OFM Indonesia, Pater Peter C. Aman OFM menyatakan bahwa para pemuda seharusnya menjadi garda terdepan dalam perjuangan menyelamatkan kampung halaman dari kejahatan-kejahatan korporasi yang ingin menghancurkan lingkungan alam yang merupakan sumber kehidupan masyarakat.

“Persoalan lingkung­an hidup ini merupakan persoalan global.  Dan kita juga sadar, merusak lingkungan hidup juga adalah bukan hanya orang-orang lokal tetapi juga perusaha­an-perusahaan korpo­rasi-korporasi global. Maka yang menjadi lawan kita, atau yang lebih tepat tantang­an kita untuk memulihkan ciptaan bukan sesuatu yang sederhana, bukan sesuatu yang mudah. Kita berhadapan dengan raksasa yang memang ingin merusak alam secara masif,” kata Pater Peter.

Sementara itu, Danggur Konradus, salah seorang pemateri menegaskan bahwa untuk menjadi penjaga dan penyelamat kampung  pertama-tama harus mengerti dan memahami adat istiadat yang ada di kampung.

Norma, kebiasaan dan adat istiadat yang dalam masyarakat adat sekarang ini berangsur-angsur mulai hilang dan tidak dipertahankan lagi. Padahal adat istiadat dalam masyarakat hukum adat merupakan bagian penting dari kehidup­an berbangsa dan bernegara. Menurutnya perlu melakukan rekonstruksi ulang terhadap masya­rakat hukum adat.

Yos Syukur, pemateri yang melatih aspek kedisiplinan meng­atakan, saatnya para pemuda mengambil peran dalam kehidup­an bersama di masyarakat.

Pemuda dipanggil untuk berperan sebagai pewarta nilai-nilai keadilan, perdamaian dan keutuh­an ciptaan. Pemuda harus dapat menjadi pelopor perubahan menuju masyarakat yang sejahtera. Namun perubahan tersebut hanya bisa tercapai kalau para pemuda memiliki disiplin diri yang tinggi.

Para peserta juga diberi ke­sempatan untuk berlatih melakukan penelitian singkat  secara khusus tentang  air, pertanian, dan hutan di daerah sekitar Pagal, Kecamatan Cibal, Kabupaten Manggarai.

“Kami senang diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan ini. Pelatihan ini menyadarkan kami bahwa sebenarnya ada banyak persoalan yang sedang terjadi di kampung kami, tetapi kami tidak tahu bagaimana memecahkannya. Semoga pelatihan ini membantu kami untuk lebih memahami dan tanggap atas persoalan yang terjadi di kampung kami,” ungkap Franky salah satu peserta pelatihan.

Pelatihan ini ditutup dengan perayaan Ekaristi syukur dan pengutusan. Dalam perayaan Ekaristi tersebut para pemuda dikalungi Rosario sebagai sarana untuk terus menerus mengembangkan iman dan bekerja berlandaskan iman kepada Yesus Kristus dalam spiritualitas hidup St. Fransiskus dari Assisi. Pada kesempatan tersebut para pemuda juga membuat janji untuk menjaga kampung halaman mereka masing-masing.

“Kami berjanji bersama seluruh keluarga umat manusia dan komunitas bumi, dalam kesatuan dan kesetiaan pada spiritualitas St. Fransiskus dari Assisi menjaga dan melindungi kampung halaman, mengupayakan masyarakat global yang berkelanjutan, yang dilandaskan pada hormat terhadap alam, hak-hak asasi manusia yang universal, keadilan ekonomi dan budaya damai,” demikian ikrar janji para pemuda.***

(Valens Dulmin – Staf JPIC OFM )

 

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here