SHARE

Tulisan ini bermaksud menelisik relevansi dari Kompedium Aiaran Sosial Gereja untuk dunia masa kini .

Bila dicerimati dengan saksama, gambar pada buku Kompendium Ajaran Sosial Gereja (ASG), adalah lukisan yang terpampang pada dinding gedung dewan kota Siena. Lukisan tersebut terpampang di sana dengan suatu maksud, yakni mengingatkan para anggota dewan kota bahwa keputusan apa pun yang mereka ambil di ruang itu, yang menanggung akibatnya (baik atau buruk) adalah rakyat.

Lukisan yang sama juga memberikan pesan lain, bahwa rakyat akan selalu mengalamatkan ketidakpuasan mereka kepada pemerintah. Juga ketika rakyat kecewa dan tidak suka pada cuaca buruk atau bencana alam. Pemerintah juga diingatkan bahwa rakyat tidak berkewajiban memberikan pujian, jika pemerintah bekerja dengan baik.

Pesan yang disampaikan amat jelas bahwa pemerintah harus memerintah dengan baik, mewujudkan keadilan dan kebenaran dengan penuh bijaksana. Itu adalah kewajiban pemerintah, dan rakyat berhak menuntutnya.

Warisan Nilai Kitab Suci dan Tradisi Gereja

Apa yang dituntut rakyat dari pemerintahnya, seperti memerintah dengan adil, mewujudkan kesejahteraan umum, menghargai martabat pribadi manusia, sebenarnya merupakan pokok dari ASG, sejak zaman dahulu sampai masa kini. Hal-hal tersebut merupakan tema pokok dari Kompendium.

Tema-tema tersebut bukanlah hal yang serba baru, tetapi merupakan butir-butir kebijaksanaan sejak dahulu kala, yang bersumber dari KS dan tradisi rohani Gereja berabad-abad. Selain ajaran yang tradisional, Kompendium juga berisi ajaran-ajaran baru, yang merupakan penerapan ajaran tradisional, dalam dunia modren yang dapat kita temukan dalam dokumen-dokumen ASG dari para Paus, sejak Rerum Novarum (1891).

Rerum Novarum berbicara tentang persoalan mendesak pada masa itu, yakni hak-hak kaum buruh dalam suatu masyarakat yang adil. Tuntutan demi kesejahteraan umum juga ditandaskan kembali oleh Pius XI di tengah krisis finansial dan regim totaliter selama tahun 1930-an.

Yohanes XXIII berbicara tentang “tanda-tanda zaman” berhadapan denga tantangan global semakin terasa pada awal paruh kedua abad 20. Dia memosisikan Gereja sebagai kolaborator dalam membangun dunia, bersama dengan semua orang yang berkehendak baik.

Pembangunan mesti diarahkan kepada pembangunan manusia seutuhnya . Soal lain yang muncul pada masa itu adalah bahaya nuklir. Ancaman bahaya nuklir, menurut Yohanes XXIII, semestinya dihadapi dengan memajukan system yang membantu mewujudkan kesejahteraan universal .

Selanjutnya, Gereja Katolik menekankan bahwa ASG amat penting dan relevan, sebagaimana tertuang dokumen Konstitusi Pastoralnya. Untuk mengatasi persoalan dunia kontemporer kerja sama dan dialog dengan dunia amat penting. Kemudian Paulus VI menyampaikan suatu kebenaran dasariah tentang pembangunan dalam jargonnya yang terkenal “pembangunan adalah nama baru dari perdamaian” .

Visi kemanusiaan Paulus VI, diinspirasi oleh nilai-nilai spiritual yang bahkan sekarang ini muncul kembali dan terasa penting. Yohanes Paulus II dalam tulisan-tulisannya, mengulang kembali tema-tema tentang kerja dan pentingnya kerja bagi martabat pribadi manusia.

Kerja merupakan fundasi bagi keadilan social. Menulis menjelang runtuhnya system Uni Soviet, beliau menengaskan pentingnya solidaritas, bagi demokrasi dan ekonomi bebas, sebagai landasan bagi perkembangan manusia yang sejati.

Relevansi

Pentingnya nilai-nilai yang dipromosikan Kompendium, tidak saja untuk warga Gereja, tetapi juga untuk semua orang yang berkehendak baik, yang ingin meningkatkan pengetahuannya serta membangun relasi yang adil dengan semua orang. Dunia masa kini membutuhkan hal-hal nyata, yang positif dari iman, serta bantuan untuk menghadapi kesulitan masa kini.

Bagi orang-orang biasa, tentu tidak mudah menyisihkan waktu untuk mendalami materi-materi inspiratif yang tertuang dalam Kompendium, dalam menghadapi soal-soal masa kini. Sedangkan bagi yang berpeluang mendalami Kompendium, tentu saja mereka dapat menemukan materi yang amat bermanfaat dan membantu.

Saat ini iman dan praktek hidup beriman cenderung melemah, atau bahkan menjadi kurang nyata, juga dalam Gereja. Kendati demikian, dimensi spiritual tetap merupakan kebutuhan pokok dari hampir semua orang. Prinsip-prinsip etis tradisi Yudeo-Kristiani telah membentuk budaya dan masyarakat barat, dan berperan penting dalam menggagas identitas dan visi tentang dunia.

Ajaran Kristiani yang berkembang berabad-abad telah menjadi batu sendi bagi perkembangan kebudayaan Eropa. Tradisi iman dan nilai Kristiani merupakan hal pokok bagi masyarakat dalam menemukan tujuan terakhir, serta menjawab pertanyaan mengenai makna keberadaan manusia.

Nilai-nilai itu amat penting dalam kehidupan masyarakat dan Negara, juga dalam hubungan antarnegara serta dalam hal mengambil keputusan besar, berkaitan dengan masyarakat dan pribadi, baik untuk masa kini , maupun masa depan.

Salah satu tema paling penting dari ajaran sosial Katolik adalah hak-hak pekerja, membentuk serikat pekerja. Ketika di banyak tempat, serikat pekerja, tidak lagi dianggap penting dan cenderung ditolak, Gereja tetap menegaskan bahwa serikat pekerja merupakan unsur pokok dari kehidupan sosial.

Menurut pandangan Gereja, serikat pekerja adalah sekelompok orang yang memajukan keadilan dan hak-hak pekerja, dan bukan untuk melawan siapa-siapa. Serikat pekerja memiliki peran melampaui perjuangan demi kepentingan mereka sendiri saja, karena serikat pekerja berperan “berjuang demi penataan yang tepat kehidupan ekonomi dan mendidik kesadaran social para pekerja” (Kompendium 307).

Dengan pandangan ini Gereja melihat bahwa serikat pekerja bertanggungjawab meningkatkan produksi dan penciptaan kondisi sosial, politik dan budaya di mana semua orang dapat mewujudkan hak untuk bekerja sesuai martabatnya.

Ajaran ini disertai dengan penekanan akan pentingnya hak milik, pengaturan usaha, serta perolehan keuntungan yang pantas, sebagai petunjuk awal bahwa bisnis berjalan baik. Dukungan pada pasar bebas, membawa dampak yang efektif pada produktivitas dan pelayanan, dan karenanya menjadi sarana pencapaian keadilan obyektif.

Gereja mengajarkan bahwa tidak ada suatu system pun yang sungguh bebas kepentingan dan bertahan lama. Yang dibutuhkan adalah bahwa system itu berakar pada nilai etika yang menjamin perwujudan solidaritas dan pembelaan terhadap yang lemah.

Dalam masyarakat modern amat dijunjung tinggi kualitas hidup bermasyarakat dan individu, demikian juga perkembangan ekonomi yang memberikan lapangan pekerjaan kepada banyak orang. Sejalan dengan Kompendium perkembangan tersebut memperlihatkan bertumbuhnya kepedulian dan tanggungjawab pada sesama.

Pandangan gereja tentang kesejahteraan umum, merupakan hal pokok dalam program ekonomi yang dirancang dalam dekade-dekade terakhir . Kita hidup dalam suatu masa di mana pertumbuhan ekonomi dan pendidikan amat mengalami kemajuan.

Demikian juga upaya-upaya untuk membantu mereka yang membutuhkan. Prinsip subsidiaritas dan solidaritas menjadi landasan dalam relasi internasional . Solidaritas menjadi landasan bagi kemajuan di Uni Eropa.

Subsidiaritas merupakan prinsip penting, baik dalam kehidupan Gereja maupun dalam kehidupan sekular. Di Uni Eropa, subsidiaritas merupakan prinsip pokok, yang secara jelas tertuang dalam draft Konstitusi Eropa.

Dalam konteks relasi multilateral Uni Eropa, amatlah penting bahwa kecenderungan pada sentralisasi mesti diimbangi oleh aplikasi prinsip subsidiaritas dan proporsionalitas.

Kompendium juga menggarisbawahi pentingnya partisipasi dalam politik untuk suatu proses demokrasi. Hal ini bagus dan menantang. Gereja mendukung terbangunga system yang menjamin partisipasi warga dalam membuat pilihan politis, yang memberi kesempatan kepada warga untuk menentukan siapa yang memerintah dan menggantikannya dengan cara damai. Hal ini penting bagi suatu etika politik dan proses demokrasi.

Konsili Vatikan II menegaskan separasi antara Gereja dan Negara, serta menegaskan bahwa komunitas politik dan Gereja mandiri dan mengatur dirinya sendiri, tetapi keduanya tidak saling menjauhkan. Gereja berpendapat kebaikan untuk semua akan tercapai jika Gereja dan Negara bekerja lebih baik, bekerja sama, dengan cara yang pas sesuai dengan waktu dan tempat.

Dalam draft Konstitusi Uni Eropa juga diberikan peluang bagi dialog dengan Gereja, komunitas iman dan badan-badan non-gerejani lainnya. Di Irlandia misalnya proses seperti itu sudah dimulai dan yang dialami adalah tanggapan yang positif. Rancangan detail untuk dialog serupa pada prinsipnya diterima pemerintah dan memiliki prospek.

Contoh-contoh dialog serupa adalah indikasi dari implementasi nilai-nilai yang tertuang dalam Kompendium. Karena itu terbukalah kemungkinan untuk mendiskusikan dan memperdebatkan isyu-isyu utama seperti kualitas hidup dan peningkatan partisipasi masyarakat dalam kehidupan bersama. Masyarakat sipil atau Negara akan sehat jika peduli pada warganya, dan bukan sekedar menuntut ketaatan masyarakat.

Tentang hal itu Kompendium sendiri menulis, “sebuah demokrasi otentik bukan hanya hasil dari pelaksanaan secara formal suatu aturan, tetapi buah dari pengakuan dan keyakinan akan nilai-nilai yang merupakan sumber inspirasi bagi prosedur demokrasi: martabat pribadi manusia, penghargaan terhadap hak-hak asasi manusia dan kesejahteraan umum sebagai tujuan dan tolok ukur kehidupan politik” (407).

Suatu studi dan refleksi atas isi dari Kompendium akan memberikan sumbangan bagi pencapaian dari apa yang menjadi motivasi atau alasan dasariah dari keterlibatan, warga Gereja dan mereka yang berkehendak baik, demi perwujudan kesejahteraan umum.

(Sdr. Peter C. Aman, OFM –Direktur JPIC OFM Indonesia)

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here