SHARE

Berkarya di Panti Asuhan adalah salah satu karya para Fransiskan Provinsi St. Mikale Malaikat Agung Indonesia. Gita Sang Surya, sempat berbincang-bindang dengan salah seorang Saudara Dina, Sdr. Dedy Kurniadi, OFM yang oleh Persaudaraan diberi kepercayaan untuk mengelola Panti Asuhan St. Vincentius Putra, Kramat Raya. Sebelumnya, beliau juga dipercaya untuk mengelola Panti Asuhan St. Yusuf, Sindanglaya.

Bagaimana memaknai karya pengelolahan panti sebagai bagian dari konteks tanggung jawab sosial?

Karya pengelolahan panti merupakan bagian dari tanggung jawab sosial kita terhadap anak-anak yatim-piatu. Sebenarnya, kita semua merasa bertanggung jawab terhadap kehidupan orang lain yang mengalami kesulitan dalam hidup.

Ada banyak bentuk dari tanggung jawab sosial itu, salah satunya dengan membangun panti asuhan. Gereja juga sebagai sebuah lembaga yang bagian dari dunia juga diharapakan untuk memiliki rasa tanggung jawab sosial.

Hal itu bukan merupakan kewajiban karena itu karya yang ada tetapi merupakan bagian dari pilihan hidup menjadi manusia dan menjadi Kristiani. Dari semuanya itu kita perlu melihat dalam kitab suci  di Surat Rasul Yakobus 1:27 “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia”.

Bagaimana kepedulian pemerintah dan masyarakat terhadap panti sebagai wujud tanggung jawab sosial mereka?

Pemerintah tidak pernah lepas tangan terhadap keberadaan panti-panti. Namun, dari pengalaman selama ini, bantuan pemerintah belum maksimal. Pemerintah melalui  dinas sosial mencoba memberikan bantuan dan perhatian kepada panti tanpa membeda-bedakan.

Perhatian itu lebih pada logistik. Berkaitan kepedulian masyarakat terhadap panti; masyarakat(umat) menjadi sumber utama untuk menghidupi panti. Umat dengan berbagai cara membantu panti dengan berbagai sumbangan yang rutin maupun temporal. Umat memiliki tanggung jawab sosial yang besar terhadap keberadaan anak-anak dipanti.

Memang ada dana-dana dari luar negeri yang masuk tetapi hanya bersifat temporal. Khusus untuk panti asuhan di bawah naungan Yayasan Vincentius, umat KAJ memiliki peranan yang besar yang mereka sumbangkan melalui kolekte-kolekte.

Tantangan apa yang dihadapi dalam emngelolah panti?

Pertama, tantangan dari dalam. Sesuatu yang sulit untuk mengubah cara pandang anak-anak panti terhadap kehidupan pribadi mereka. Mereka merasa bahwa hidup mereka sudah tidak berharga dan tidak memiliki masa depan lagi.

Disinilah yang menjadi tantangan yaitu bagimana kita berusaha memotivasi dan mengubah cara pandang mereka bahwa mereka memiliki masa depan yang baik. Dan ini memerlukan proses yang panjang karena mengubah pola pikir manusia.

Kedua, berhadapan dengan pemerintah. Kadang-kadang mengalami kesulitan ketika kita mau mengurus akte kelahiran anak-anak. Memang mereka tidak memiliki orang tua dan merasa terbuang oleh keluarga, tetapi seharusnya Negara juga tidak membuang mereka dengan menggantungkan status mereka sebagai warga Negara.

Bagiamana pater memaknai pekerjaan ini?

Saya memaknainya sebagai sebuah bagian dari panggilan hidup sebagai manusia dan fransiskan. Saya berusaha menjalankan dengan penuh semangat dan berusaha untuk kreatif, inovatif dan inisiati.

Sehingga di sini tidak ada alasan untuk mengatakan bosan, kerena kebosanan diciptakan manusia sendiri karena dia tidak melakukan apa-apa. Memaknai sebagai bagian dari tugas sebagai fransiskan melalui perutusan persaudaraan. Di sini saya berusaha untuk menjalankan tugas dengan baik karena ini merupakan tugas dan tanggung jawab yang diberikan oleh persaudaraan.

Membuat yang terbaik bukan untuk diri sendiri karena karya ini bukan nama pribadi tetapi karya fransiskan. Berbuat semaksimal mungkin sebagai bentuk aktualisasi diri sebagai fransiskan.

Apa pengalaman yang terkesan selama mengelolah panti?

Selama menjadi pengurus panti, semua pengalaman pastinya berkesan. Pengalaman pertemuan dengan anak-anak. Tetapi klo ditanya yang paling berkesan, saya akan menjawab  bahwa saya semakin yakin dengan sabda dalam kitab suci  “Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu?” (Matius 6:26).

Seringkali menemukan pengalaman bahwa ketika kita membutuhkan sesuatu pasti ada saja yang mau membantu. Dan muncul sebuah keyakinan bahwa tidak mau menutup mata terhadap orang-orang yang membutuhkan bantuan-Nya.

Redaksi

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here