cinta kasih kita terhadap sesama tidak boleh dibatasi oleh pembedaan kultural, bangsa bahkan agama sekalipun. Konfrontasi.com

Lagi-lagi Irak menjadi sorotan dunia. Serangkaian aksi banalitas kembali terjadi di Irak, ratusan ribu orang tercerai berai dari keluarga dan kampung halamannya untuk menyelamatkan diri dari teror yang terus berkecamuk.

Aksi teror ini telah mencederai ribuan orang serta menewaskan ratusan jiwa. Sebagian penduduk Irak terpaksa hengkang dari rumah dan tanah airnya untuk menjadi pengungsi dengan nasib tak menentu.

Kondisi ini semakin diperparah oleh pergerakan kelompok militan ISIS (Islamic State In Irak and Suriah) yang berhasil merebut sejumlah daerah di Irak bagian barat yang menimbulkan ancaman amat serius bagi terciptanya perdamaian di Irak dan Timur Tengah pada umumnya.

Kelompok militan ISIS ini tidak segan-segan menculik ratusan perempuan dan anak-anak serta menghancurkan tempat-tempat umum. Anak-anak mengalami kehausan dan kelaparan.

Menanggapi hal tersebut Paus Fransiskus meminta agar semua pihak yang berseteru membuka ruang dialog demi tercapainya perdamaian di bumi asal-usul Abraham, Bapa Segala Bangsa.

Sosok Abraham dipilih karena dialah tokoh alkitabiah yang paling ekumenis. Abraham dapat mempertemukan tiga agama besar yakni Yahudi, Kristen dan Islam.

Sejarah kekerasan di Irak juga di Timur Tengah pada umumnya memang selalu mengusung agama. Perbedaan agama menjadi api yang menyulut kebencian di Irak. Kebencian ini memuncak ketika gerombolan militan Islam bersenjata melakukan penculikan, pembunuhan, perampokan dan pengeboman terhadap penduduk Irak yang beragama minoritas seperti umat kristiani.

Kelompok garis keras ini memaksa umat kristiani untuk menyangkal iman mereka dan masuk Islam. Jika menolak, mereka harus membayar denda yang mahal sekali atau dibunuh.

Puluhan keluarga memilih meninggalkan rumah dan tanah airnya. Mereka menggantungkan hidup dan masa depannya pada belas kasihan negara lain yang mau menerima mereka di tanah airnya. Sikap mereka yang tidak tahu malu dan penuh kepasrahan ini menggugah solidaritas umat manusia.

Lantas apa yang dapat kita lakukan? Kalimat pembuka Gaudium et Spes memberikan jawaban yang cocok terhadap persoalan di Irak, “Duka dan kecemasan masyarakat Irak adalah duka dan kecemasan umat manusia”. Namun, ketika ribuan pengungsi asal Suriah dan Irak tiba di daratan Eropa, tanggapan negara-negara di Eropa berbeda-beda terhadap gelombang pengungsi.

Ada yang dengan lantang mengatakan bahwa mereka dengan tangan terbuka dan hati yang tulus menerima pengungsi. Namun ada pula negara yang dengan tegas menolak pengungsi. Akibatnya, ratusan orang mati kehausan karena terus-menerus terapung di atas laut.

Kematian ratusan jiwa tersebut menunjukkan bahwa betapa rasa kemanusiaan kita begitu kejam. Apalagi, jika penolakan itu dilakukan oleh orang kristiani.

Belajar dari Sejarah Gereja

Sejarah Gereja telah mencatat bahwa sebelum tahun 313 saat Edik Milan belum dikeluarkan oleh Konsantin Agung, jemaat kristiani mengalami banyak penganiayaan dan pengejaran dari kekaisaran yang berkuasa pada waktu itu.

Penganiayaan yang begitu kejam membuat umat kristiani harus mengungsi dari satu tempat ke tempat lain untuk menyelamatkan diri. Penganiayaan dan pengejaran ini sebenarnya sudah terjadi sejak Gereja didirikan oleh Para Rasul.

Jemaat perdana mengalami begitu banyak kesulitan karena ajaran kristiani dianggap sesat. Ketika komunitas kristiani mulai berkembang dengan baik di Roma, Kaisar Nero cemburu dan orang-orang kristiani dianggap biang keladi kemarahannya. Puncaknya tahun 64 ketika kota Roma terbakar, orang kristiani dituduh menjadi penyebabnya. Salah satu yang dituduh adalah Paulus sehingga kepalanya dipenggal.

Orang kristiani lainnya berada dalam pengejaran. Pada tahun 62, tragedi juga terjadi di Yerusalem, Yakobus Uskup Yerusalem dirajam batu oleh orang-orang Yahudi. Pada tahun 66 terjadi perang di Yudea melawan kekaisaran Romawi. Orang kristiani pergi melarikan diri ke Pella di seberang Sungai Yordan di bawah pimpinan Simon.

Dari catatan sejarah ini, kita dapat mengetahui bahwa jemaat kristiani awal hidup dalam suasana pengungsian. Mereka pergi dari satu tempat ke tempat lain untuk menyelamatkan diri. Dengan kata lain, Gereja dibangun di atas iman para pengungsi.

Hal ini memang wajar karena sebagian besar murid jemaat Gereja perdana berasal dari kalangan kelas menengah ke bawah dari kalangan rakyat biasa (I Kor 1:25-2:5) dan banyak dari antara mereka adalah budak yang tidak mempunyai tempat tinggal. Mereka telah menemukan dalam diri Yesus yang tersalib itu seorang dari antara mereka sendiri.

Pada waktu itu, penyaliban merupakan bentuk hukuman mati Romawi yang dijatuhkan bagi penjahat yang berat, budak dan tawanan yang melarikan diri. Artinya, jemaat awal melihat Yesus yang disalibkan sebagai saudara mereka (Flp 2:5-7). Segala bentuk penganiayaan yang mereka alami mereka terima sebagai bagian dari partisipasi dengan penderitaan Kristus. Karena itu Gereja adalah ibu para pengungsi.

Tempat di mana orang yang mengalami ketidakadilan berlindung. Jemaat kristiani awal menemukan dalam Gereja sosok Dia yang membebaskan mereka dari segala bentuk perbudakan khususnya perbudakan dari kuasa dosa. Dalam iman akan Kristus yang tersalib, Gereja mengayomi dan merangkul para pengungsi dari berbagai ras, suku dan bangsa.

Suatu tragedi, jika Gereja masa kini menolak para pengungsi. Itu berarti Gereja lupa akan sejarah terbentuknya Gereja di mana sebagian besar jemaatnya adalah para pengungsi yang melarikan diri. Karena itu, sikap hormat terhadap para pengungsi adalah sikap yang layak diambil.

Pengalaman pengejaran dan penganiayaan jemaat kristiani awal menjadi contoh bagi Gereja sekarang bagaimana hidup sebagai pengungsi. Penderitaan itu menjadi jalan masuk bagi jemaat kristiani sekarang untuk turut merasakan, terlibat dan masuk dalam alam penderitaan para pengungsi.

Ketika melihat para pengungsi yang mencari suaka, orang kristiani seharusnya menjadi orang pertama yang membantu, karena kristianitas dibangun oleh para pengungsi. Bahkan, teologi kristiani banyak dipengaruhi oleh pengalaman bagaimana hidup sebagai pengungsi. Hal ini sangat jelas apabila kita membaca Kitab Wahyu Yohanes.

Yohanes dalam kitab Wahyu melukiskan kepada kita bagaimana kekejaman Kaisar terhadap kristiani di Efesus dan Smirna. Yohanes melukiskan kekejaman kaisar ini dengan binatang buas yang datang dari laut. Binatang  buas itu memiliki sepuluh tanduk dan tujuh kepala melambangkan garis keturunan Kaisar (Why 13:1).

Roma dilambangkan dengan Babilon sebagai tempat Paganisme yang suka membunuh (Why 14:8) di segala penjuru kekaisaran. Kaisar diberi julukan sadisme yang sebenarnya sudah disandang sejak Kaisar Nero. Kemungkinan besar angka 666 merujuk padanya.

Akan tetapi, meskipun kristiani berada di bawah pengejaran dan penganiayaan  jumlah mereka semakin bertambah banyak  dan hal ini semakin menambah kebencian dan kemarahan Kaisar.

Apa yang hendak dikatakan peristiwa historis Gereja ini kepada kita? Kehidupan para pengungsi dengan segala suka dukanya adalah gambaran Gereja yang sedang berziarah. Di sini, Gereja menjadi contoh sekaligus tanda harapan bagi setiap orang yang sedang berada dalam pengungsian.

Pengungsi bukanlah dunia lain yang terpisah dari Gereja melainkan anggota Gereja yang perlu dilindungi dan dihormati. Mereka membutuhkan tanggapan segera dari kita. Mereka membutuhkan saudara yang bisa menemani mereka dalam penderitaan dan kesulitan yang sedang mereka hadapi.

St. Paulus dalam surat-suratnya menghendaki jemaat kristen menjadi komunitas alternatif di tengah kekejaman kekaisaran Roma. Di mana tidak ada lagi Orang Yahudi atau orang Yunani, tidak ada lagi hamba atau orang merdeka, tidak ada laki-laki dan perempuan semuanya satu dalam Kristus (Gal 3:28).

Dengan pernyataan ini Paulus hendak mengatakan bahwa dalam Gereja tidak boleh ada lagi pembedaan karena bangsa, ras, suku dan ideologi, semuanya satu dalam Kristus Yesus. Artinya, tindakan cinta kasih kita terhadap sesama tidak boleh dibatasi oleh pembedaan kultural, bangsa bahkan agama sekalipun.

Sebab, nilai kemanusiaan jauh lebih tinggi dari segala konsep-konsep dogma agama. Hal itu dimungkinkan karena Kristus sendiri yang merendakan diri dan mengambil rupa manusia. Segala konsep agama yang merendahkan dan menindas manusia tidak dapat dibenarkan.

Yesus bersabda; “”Akulah jalan dan kebenaran dan hidup” (Yoh 14:16). Barang siapa yang memperjuangkan kebenaran kehidupan dan kebenaran berarti memperjuangkan kristus sendiri. Sebab, “Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga” (Mat 7:21).

Allah menghendaki agar semua manusia mencintai sesama seperti mencintai dirinya sendiri. Mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri adalah wujud cinta kepada Allah.

Harapan Damai Anak-anak Abraham

Di tengah dunia yang terdiri dari pluralitas agama cinta kepada Allah menjadi problem yang sulit diwujudkan. Perbedaan agama menjadi alasan konflik, seperti yang sedang terjadi di Timur Tengah.

Karena itu, diperlukan dialog untuk rekonsiliasi dan penerimaan keragaman budaya  dan pandangan politik di Timur Tengah yang sedang dilanda perang saudara. Dialog ini dimungkinkan karena agama-agama di Timur Tengah berasal dari Bapa yang sama yaitu Abraham.

Dialah Bapa tiga agama monoteis, Yahudi, Kristen dan Islam. Bersama Abraham kita yakin kebersamaan dan kerukunan bisa digalang. Tiga agama monoteis ini mengklaim diri sebagai keturunan Abraham.

Bagi orang Yahudi Abraham adalah Bapa leluhur mereka berdasarkan garis keturunan yang menjadikannya sebagai “Bangsa Terpilih” dan bahkan Bapa termasyhur dari banyak bangsa (Sir 44:19).

Abraham tidak hanya menjadi Bapa leluhur Israel tetapi juga Bapa leluhur orang kristen berdasarkan ketaatannya pada Allah, muncul Mesias Sang Juru Selamat dalam garis keturunannya. Abraham oleh St. Paulus dikatakan pendahulu kita dalam iman, “Bapa semua orang beriman baik yang bersunat maupun yang tidak bersunat” (Rm 4:1-25).

Orang kristen menjadi keturunan Abraham karena menerima berkat oleh imannya kepada Kristus (Gal 3:29). Dalam agama Islam Abraham dilihat sebagai Nabi. Dia adalah kesayangan Allah dan teladan iman yang sempurna dan bersama Ismail mendirikan Kakbah (Surat 2:124-129).

Kitab Kejadian 11:31 memberikan informasi kepada kita bahwa, Abraham berasal dari Ur-Kasdim, Babilon (sekarang Irak). Abraham diperintahkan untuk hijrah dari kampung halamannya untuk pergi ke tanah yang dijanjikan Tuhan kepadanya. Negeri yang dimaksud adalah tanah Kanaan.

Kehidupan ini ia jalani sebagai jawaban atas panggilan Tuhan. Dia harus menjadi imigran Tuhan. Artinya, Abraham dipanggil Allah karena Allah ingin menjadikan dia  sebagai Bapa sekalian Bangsa besar sekaligus Bapa bagi para imigran. Sebab, “Keturunannya akan menjadi orang asing dalam suatu negeri, yang bukan kepunyaan mereka, dan bahwa mereka akan diperbudak dan dianiaya, empat ratus tahun lamanya” (Kej 15:13).

Artinya seluruh keturunan Abraham akan diperbudak dan dianiaya bahkan menjadi orang asing di negeri lain. Janji Allah ini pada kenyataannya terbukti. 400 tahun Israel diperbudak di Mesir.

Sedangkan, keturunan Abraham yang berasal dari Ismail dikatakan bahwa Ismail  akan menjadi “Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya” (Kej 16:12).

Ismail di sini digambarkan berwatak Keledai liar yang mencintai kebebasan dan tidak mau dikekang, lebih lanjut dikatakan bahwa dia berperang melawan saudaranya. Pedang adalah kebanggaannya dan pembalasan adalah kehormatannya. Ciri-ciri Ismail sesuai dengan watak suku-suku Badui (Arab) penghuni Padang Gurun. Mereka mewarisi semua ini dari Bapa mereka Ismail.

Kisah anak-anak Abraham ini menunjukkan kebenaran bahwa, keturunan Abraham telah dijanjikan untuk menjadi pengungsi  di negeri asing dan kehidupannya selalu diwarnai perang saudara. Perang dan penganiayaan ini tidak akan berakhir kalau anak-anak Abraham tidak menyelesaikannya secara damai.

Mereka tidak boleh berkelahi karena mereka adalah kerabat. Maka, setiap orang yang mengakui diri sebagai anak-anak Abraham entah Yahudi, Kristen dan Islam harus sadar bahwa mereka semua adalah anak-anak dari Bapa yang sama. Ingatan akan Abraham sebagai Bapa dari Ishak dan Ismail dapat menyadarkan mereka untuk terus-menerus membangun persaudaraan.

Abraham dalam Kejadian 13: 1-18 dilukiskan sebagai tokoh pejuang perdamaian. Ketika gembala Lot dan Abraham berkelahi karena batas tanah, Abraham tidak membiarkan perkelahian itu berlanjut. Abraham menyelesaikan persoalan itu secara damai dan bersedia membagi tanah itu dengan orang lain.

Kejadian 13:1-18, menjadi suatu peringatan bagi anak-anak Abraham bahwa Abraham tidak memilih bagi dirinya sebuah tanah. Tanah yang diperolehnya adalah suatu anugerah Tuhan.

Janji Allah dalam Kejadian 15:16, “Engkau akan pergi kepada nenek moyangmu dengan sejahtera” tergenapi ketika ia mati” (Kej 25:8). Kedua anaknya, Ishak dan Ismail yang sebelumnya konflik kini bersatu kembali.

Keduanya menguburkan dia di Gua Makhpela. Pertemuan Ishak dan Ismail pada saat kematian dan penguburan ayah mereka menunjukkan bahwa Abraham yang mati dalam usia lanjut telah mempersatukan Ishak dan Ismail.

Inilah kebahagiaan yang dihadiahkan Allah kepada Abraham atas kesetiaannya, yaitu melihat anaknya berkumpul kembali sebagai saudara. Pertemuan anak-anak Abraham ini dapat menjadi tanda bagi semua orang bahwa api pertengkaran dan kebencian yang masih berkobar di Timur Tengah sampai hari ini bisa dipadamkan apabila adanya dialog dan refleksi yang mendalam di antara anak-anak Abraham.

Fr. Mathias Jebaru Adon, SMM

Komentar

Komentar