SHARE

Karnaval Kemerdekaan  Pesona Danau Toba  yang digelar Sabtu-Minggu 20 s/d 21 Agustus lalu di Parapat dan Balige sangat meriah.

Karnaval yang menampilkan budaya Batak seluruhnya dan juga dari provinsi lain di Indonesia  dihadiri  oleh Presiden Joko Widodo dan ibu Iriana, disaksikan oleh puluhan ribu warga dari sekitar Danau Toba pun dari luar daerah,  berlangsung penuh semarak.

Karnaval yang pertama sekali diadakan setelah 71 tahun Indonesia merdeka diproklamirkan sebagai tahun kebangkitan pariwisata Danau Toba.

Pagelaran yang dikemas dalam bentuk pesta rakyat menjadi etalase budaya dan alam Danau Toba untuk bisa dinikmati masyarakat di  sekitar Danau Toba, Indonesia, dan dunia.

Tampil 700 perempuan berpakaian adat menyunggi Tandok berisi beras, 300 orang pemain seruling , 100 perempuan penari tari cawan, 100 orang Ulu Balang sebagai simbol penjaga Masyarat Adat, 400 penari dan pemain Gondang dan beragam hiburan lainnya dimaksudkan untuk  menggelorakan   kebangkitan wisata Danau Toba yang sudah lama terpuruk.

Pantas dicatat ternyata pada zaman pemerintahan kolonial Belanda popularitas Danau Toba hampir setara dengan Bali karena itulah 75 tahun lalu pemerintah Belanda telah membangun Bandara Sibisa.

Bahkan Pangeran Bernhard, suami Ratu Juliana dari Belanda, pernah mengunjungi Danau Toba 40 tahun begitu kagum akan keindahan Danau Toba bahkan sampai sang pangeran menjuluki Danau Toba dan alam sekitarnya sebagai Taman Eden.

Langkah Gereja KAM

Ide   pemerintah pusat membentuk  Badan Otorita  Danau Toba (BODT) yang diterbitkan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2016 tanggal 1 Juni 2016  tujuannya  adalah untuk mensejahterakan masyarakat di seputar Danau Toba.

Selain untuk mensejahterakan masyarakat,  pembentukan  BODT   bertujuan juga untuk memuliakan seluruh kekayaan alam, budaya, tradisi, dan masyarakat sekitar Danau Toba.

Untuk tujuan tersebut  pemerintah pusat melalui BODT telah mengalokasikan anggaran sekitar Rp 21 triliun untuk mempercepat pengembangan fisik di kawasan wisata Danau Toba antara lain: pembangunan jalan tol  Kuala Namu-Parapat, pelebaran terusan Tano Ponggol, pengembangan Bandara Sibisa agar bisa didarati pesawat berbadan besar, revitalisasi kampung tradisionil, pembangunan jalan lingkar luar Danau Toba, pembangunan hotel setaraf bintang lima, menambah armada Fery yang lebih besar dan lain sebagainya.

Berhadapan dengan program pemerintah melalui BODT, keuskupan Agung Medan telah mengambil sikap yakni dengan menawarkan Soft Tourism dan Eco tourism  yang pada intinya Gereja  Keuskupan Agung Medan (KAM)  mendukung program pariwisata dengan catatan harus memerhatikan budaya, adat, kearifan lokal, dan keutuhan ciptaan.

Secara tegas KAM menolak hard tourism  yang bentuk perjudian,perdangangan seks,perusakan lingkungan, dan komersialisasi budaya yang sering berjalan beriringan dalam proyek pariwisata.

Uskup agung Medan Mgr.Dr.Anicetus Sinaga bersama sejumlah pastor dan tokoh masyarakat telah bertemu pada bulan Juni 2016 lalu dengan menteri Pariwisata di Jakarta dan juga telah menyampaikan sikap dan pandangan resmi Gereja KAM  kepada Presiden Republik Indonesia Ir.H.Joko Widodo yang berisi sikap Gereja KAM  menyangkut BDOT.

Langkah uskup Agung Medan mendapat banyak perhatian dari kalangan publik khususnya dari kalangan umat Katolik baik di KAM maupun diluar KAM. Ada yang mendukung dan tidak sedikit yang menyesalkan sikap dan kebijakan uskup Agung Medan.

Adalah Masco Sinaga SJ, putera Samosir kelahiran Palipi yang sangat menyayangkan sikap dan kebijakan uskup agung Medan.  Melalui media sosial, Masco Sinaga yang kini bertugas di Micronesia secara tegas menolak BODT.

Masco yang didukung cukup banyak orang  menuduh Gereja KAM telah menjual umatnya dan tunduk kepada pemodal dan pemerintah. Masco dengan segala argumentasinya melihat BODT sebagai bentuk penjajahan baru untuk mengusir orang Batak keluar dari tanah leluhurnya dan tercabut dari budayanya.

Tanpa kenal lelah hampir setiap hari Masco cum sui terus-menerus memengaruhi publik, melawan sikap gereja KAM dan memaki siapa saja yang mendukung BDOT. Bahkan akronim dari BDOT diplesetkan Masco Sinaga  menjadi BODaT (kalau dibaca menjadi monyet sejenis binatang yang sangat rakus dan tidak kenal belas kasih).

Baik Masco cs, uskup agung Medan dan pecinta Danau Toba lainnya bila ditarik benang merahnya sama-sama mencintai Danau Toba dan menghargai Budaya, adat, lingkungan dan kearifan lokal. Hanya cara penyampaian yang berbeda.

Masco Sinaga cs dengan tegas menolak BDOT dengan argumentasi biarkan Danau Toba dan masyarakat yang hidup disekitarnya hidup sesuai dengan ritme alam. Ajari penduduk untuk bertani dengan baik. Berikan pendidikan yang baik kepada masyarakat.

Campur tangan berlebihan kepada alam Danau Toba apalagi dengan proyek  “menjadikan Danau Toba sebaga Monaco of Asia” akan menimbulkan kehancuran. Sama juga dengan pandangan Gereja KAM yang menolak segala bentuk komersialisasi budaya dan penghancuran lingkungan, menjunjung tinggi martabat manusia dan pariwisata harus mensejahterakan penduduk seputar Danau Toba. Hanya cara pandang dan cara penyampaian yang berbeda.

Memakai Strategi Daud

Ada analisa menarik tentang kemenangan Daud melawan raksasa Goliat seperti dilukiskan dalam kitab 1 Samuel 17. Pertarungan tersebut dapat juga dilihat untuk  mewakili pertarungan antara si lemah dan raksasa.

Kemenangan Daud tak terduga. Mengapa dia menang tidak lain karena Daud memiliki strategi,harga diri dan keyakinan (Malcolm Gladwell, David and Goliath: Underdogs, Misfits, and the Art of Battling Giants, New York, 2013).

Ketika Goliat berseru kepada pasukan Israel, bahwa dia mau menantang “bertarung satu lawan satu”, tentara Israel agak ketakutan. Itu adalah kebiasaan di dunia zaman dulu untuk menghindari banjir darah akibat pertempuran terbuka, dengan memilih seorang petarung untuk mewakili tiap kubu dalam duel. Tentara zaman dulu punya tiga jenis petarung.

Pertama kavaleri yakni prajurit bersenjata di atas kuda.kedua infanteri yakni prajurit berjalan kaki dan membawa pedang dan perisai.Ketiga artileri yakni prajurit pemanah dan pelontar batu.

Pelontar batu bersenjatakan katapel berupa kantong kulit dengan tali panjang di kedua sisinya.Melontar batu butuh keahlian tinggi dan banyak latihan.

Di tangan pelontar yang berpengalaman, katepel dapat menjadi senjata yang mematikan. Daud seorang prajurit artileri berpengalaman sementara Goliat seorang prajurit infanteri kelas berat. Goliat berpikir akan terlibat duel dengan sesama prajurit infanteri berat, maka dia berkata,”Hadapilah aku, maka aku akan memberikan dagingmu kepada burung-burung di udara dan kepada binatang di padang,” kata kunci adalah “hadapilah”.

Maksudnya hadapilah aku supaya kita bisa bertarung jarak dekat. Namun Daud memiliki strategi diluar perhitungan Goliat. Daud berlari ke arah Goliat dengan cepat dan gesit. Dia menaruh batu dalam katapel, lalu memutar-mutar katapel, makin lama makin cepat hingga enam-tujuh putaran per detik, mengincar dahi Goliat, satu-satunya titik lemah raksasa itu.

Perilaku Goliat membingungkan.Seharusnya dia prajurit perkasa.Tapi tingkahnya tidak mencerminkan itu. Dia turun ke lembah tempat pertempuran dituntun dan ditemani seorang anak muda yang menuntunnya dengan perisai.

Hal ini menjunjukkan betapa lambatnya Goliat bergerak dan itu aneh bagi seseorang yang disebut-sebut prajurit berkekuatan maha besar. Bahkan ada komentar ganjil dari Goliat ketika melihat Daud dari jarak dekat, “Apakah aku ini anjing, sehingga engkau mendatangi aku dengan tongkat-tongkat?” Tongkat-tongkat? Padahal Daud hanya membawa satu tongkat.

Diduga menurut penafsiran para ahli  Goliat mengidab penyakit akromegali-sejenis tumor jinak yang menyebabkan produksi berlebihan hormon pertumbuhan, yang kiranya menjelaskan ukuran luar biasa Goliat.

Selain itu juga penderita akromegali mengalami penglihatan yang terbatas dan penglihatan ganda. Hal itu nyata bahwa dia harus didampingi menuju lembah dan melihat tongkat Daud lebih dari satu.

Yang dilihat pasukan Israel dari atas punggung bukit adalah raksasa yang menakutkan.Kenyataannya, sumber ukuran si raksasa adalah sumber kelemahan terbesarnya juga.Ada hikmah yang kuat didalamnya bagi segala pertarungan melawan semua jenis raksasa.

Yang kuat tidak selalu benar-benar kuat. Daud berlari menuju Goliat, diperkuat oleh keberanian, strategi dan keyakinan. Goliat tidak bisa melihat musuhnya mendekat lalu dia pun tumbang, karena terlalu besar lamban, rabun untuk memahami bahwa keadaan telah terbalik bahwa pertempuran bukan “Prajurit Infantri raksasa melawan infantri biasa” tetapi telah berubah prajurit infantri raksasa melawan prajurit artileri professional”.

Masyarakat di sekitar Danau Toba sedang dan akan menghadapi penantang Raksasa bernama BDOT. Program pertama BDOT adalah memperbaiki infrastruktur dan sekaligus membonceng para pengusaha raksasa. Para pengusaha raksasa dari Tiongkok telah  diundang dan mulai melirik keindahan Danau Toba.

Berhadapan dengan para raksasa ini masyarakat diingatkan kembali pada perlunya seperti strategi Daud. Tanpa strategi dan keyakinan serta harga harga diri yang tinggi masyarakat akan tergerus oleh para pemodal raksasa akhirnya  menjadi budak di tanah sendiri.

BDOT dengan segala perangkat birokratisnya akan berjalan pelan dan lambat. Di sela-sela perjalanan ini masyarakat harus diajak bergerak cepat seperti misalnya mengurus sertifikat tanah, tidak menjual tanah tetap mengontrakkan dalam jangka waktu tertentu, membangun pemondokan sederhana yang dapat disewakan kepada para turis, mengembangkan pertanian, belajar bahasa Inggris dan memperkuat organisasi desa.

Masyarakat sekitar Danau Toba yang bergerak lebih cepat tentu akan memenangkan pertandingan dalam merebut kue pariwisata.

Salah satu contoh yang paling kasat mata bagaimana masyarakat terpinggirkan adalah tergadainya rura panjalangan (tempat penggembalaan) di desa Sikodonkodon kabupaten Karo, sekitar 135 KM dari Medan.

Rura panjalangan yang dulu menjadi tempat penggembalaan beragam ternak masyarakat Sikodonkodon  dan sumber air untuk ratusan hektar sawah  kini telah berubah menjadi resort mewah dan agrowisata dengan nama Taman Simalem Resort (TSR).

Dengan luas  hampir 1000 hektar, di TSR berdiri bangunan megah, jalan dihotmiks yang membuat kalau hujan turun desa Sikodonkodon yang berada dibawahnya  terancam banjir. Lebih malang lagi setiap pengunjung dikenai biaya yang sangat tinggi (bdk untuk satu mobil penumpang Rp 200.000,- Dengan tarif ini sudah jelas sangat berat bagi masyarakat Sikodonkodon dan sekitarnya enggan masuk ke dalam.

Padahal 10 tahun silam mereka leluasa masuk ke sana, kerbau,kambing, sapi aman berkembang biak di sana.). Para pekerja yang banyak berasal dari masyarakat sekitar menampilkan  wajah lesu memakai seragam yang sama dari hari Senin sampai hari Sabtu.

Dengan pandangan miris mereka hanya bisa menatap mobil mewah dan orang-orang yang cipika cipiki sambil berselfi ria.  Yang lebih memilukan lagi masyarakat Sikodonkodon seakan terus saling menyalahkan antara yang satu dengan yang lain.

TSR menjadi salah satu contoh nyata bagaimana para pemodal raksasa mengelabui masyarakat sekitar. Sekiranya dulu masyarakat Sikodonkon kompak dan bersatu mempertahankan daerah itu menjadi tanah ulayat mereka maka mereka akan tetap mendapat keuntungan.

Misalnya dengan mengikutsertakan modal tanah sebagai saham. Tapi karena mereka tidak bisa diajari dan mau silau sesaat akan uang  akibatnya bukit yang begitu indah dan memberikan aneka macam keuntungan kini menjadi milik pemilik modal raksasa. Yang lebih miris lagi  mereka hanya bisa masuk ke sana sebagai buruh lepas atau buruh harian.

Danau Toba dengan segala keindahan dan budaya masyarakat di sekitarnya  bagaikan mutiara yang tak ternilai harganya. Akan  tetapi kalau mau jujur masih lebih banyak merupakan mutiara dalam lumpur yang masih harus didulang, dibersihkan, dan dikeluarkan mutu terbaiknya. Untuk mendulang mutiara yang sedang terbenam itu  dibutuhkan banyak energi dan kerendahan hati untuk mau belajar dan diajari.

Kesatuan hati untuk mempertahankan kawasan Danau Toba sebagai daerah adat dan bonapasogit (asal-usul) orang Batak. Pemerintah dan masyarakat mesti banyak berbenah diri dan bukan hanya sekedar mengupayakan polesan kosmetis temporal melainkan suatu perubahan dalam kontinuitas yang sarat dengan nilai.

Berhadapan dengan proyek raksasa BODT masyarakat sekitar Danau Toba perlu belajar strategi  Daud supaya masyarakat tidak menjadi korban tetapi menjadi  pemenang kehidupan. Semoga proyek BODT tidak menjadi BODaT seperti kata Masco Sinaga SJ, tetapi benar proyek yang menjadikan  orang sekitar Danau Toba sejahtera, damai, bahagia, dan  bangga dengan tetap budaya dan adatnya.

P.Moses Elias  Situmorang OFMCap, Penulis adalah pastor dari Ordo Kapusin Medan, Mantan  kepala paroki Santo Fransiskus Asisi Berastagi, Tanah Karo dan kini sedang menjalani Tahun Sabat.

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here