SHARE

Oleh: Sdr. Alex Lanur, OFM

Dalam salah satu Mazmur dikatakan: “Ya Tuhan, apakah manusia sehingga Engkau memperhatikannya dan anak manusia sehingga Engkau memperhitungkannya? Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang yang lewat” (Mzm 143/144: 3-4). Dengan membaca teks ini jelaslah kiranya bahwa manusia itu tidak ada apa-apanya di mata Tuhan.

Itulah keadaan dan martabatnya yang sesungguhnya. Namun dengan membaca teks yang lain diperoleh gambaran yang lain juga tentang manusia itu. Dan dalam kaitan dengan itu dapat ditanyakan: Apakah kiranya, menurut St Fransiskus, kedudukan dan martabat manusia itu sesungguhnya? Dan apakah yang masih dapat dipelajari  dari pandangan seperti itu?

Diciptakan oleh Tuhan Allah

Menurut St Fransiskus manusia itu diciptakan oleh Tuhan Allah. Dan sebagai ciptaan Tuhan Allah  dia mempunyai kedudukan dan martabat yang khusus dan luhur. “Ingatlah hai manusia, betapa unggulnya kedudukan yang diberikan Tuhan Allah kepadamu. Ia telah mnciptakan dan membentuk engkau sesuai dengan gambar Putera-Nya yan terkasih menurut badan dan sesuai dengan keserupaan-Nya menurut roh” (Pth V: 1; bdk. Kej 1: 26).

Dan atas kenyataan ini St Fransiskus menyampaikan ucapan syukurnya kepada Tuhan Allahnya. Dan ucapan syukur itu juga diulanginya lagi tetapi dengan tambahan. Katanya: “Allah yang Mahakuasa…Tuhan raja langit  dan bumi, kami bersyukur kepada-Mu karena Engkau sendiri, sebab dengan kehendak-Mu yang kudus dan oleh Putera-Mu yang tunggal bersama Roh Kudus Engkau telah menciptakan segala sesuatu yang rohaniah dan badaniah; dan kami yang Kauciptakan menurut citra dan persamaan-Mu Kautempatkan di firdaus, namun kami telah jatuh karena kesalahan kami” (AngTBul XXIII: 1-2).

Manusia memang diciptakan oleh Tuhan Allah yang Mahakudus… dan oleh Putera-Nya bersama dengan Roh Kudus menjadi makhluk yang unggul kedudukan dan martabatnya di antara semua makhluk ciptaan lainnya (bdk. Mzm 8: 4-9).

Namun demikian St Fransiskus serentak pula menambahkan bahwa manusia itu adalah makhluk yang telah jatuh, artinya, telah berdosa terhadap Tuhan Allahnya (bdk. Kej 2: 8-3: 24).

Namun demikian kenyataan itu bukanlah akhir  dari segalanya. Dalam kaitan dengan kedudukan dan martabat manusia itu St Fransiskus masih menambahkan sesuatu yang tidak kalah pentingnya.

“Kami bersyukur kepada-Mu karena sebagaimana dengan perantaraan Putera-Mu, Engkau telah menciptakan kami, demikian pula karena kasih-Mu yang kudus, yang telah Engkau berikan  kepada kami, Engkau telah membuat Dia, yang sungguh Allah dan sungguh manusia, lahir dari Santa Maria yang tetap perawan, yang mulia dan amat berbahagia, dan oleh salib, darah dan wafat-Nya Engkau mau menebus kami orang tawanan” (AngTBul XXIII: 3).

Dengan semua ini St Fransiskus mau menunjukkan bahwa manusia sungguh adalah makhluk yang diciptakan oleh Tuhan Allah, yang Mahakudus, tetapi yang telah berdosa melawan Tuhan Allah itu sendiri. Kendati demikian masih terbuka kemungkinan untuk mendapat dan mengalami penebusan atas dosanya dari Tuhan Allah yang sama, dengan perantaraan Putera-Nya Yesus Kristus.

Dengan demikian menjadi kentara dan jelaslah apa dan bagaimana kedudukan dan martabat manusia itu yang sesungguhnya. Di hadapan Allah semua manusia setara dan sederajat saja kedudukan dan martabatnya. Artinya, mereka berssaudara dan adalah saudara satu sama lain (bdk. AngTBul XXII: 33-35; Mat 23: 8-12).

Dalam hidup sebagai saudara satu sama lain itu seharusnya berkuasalah cintakasih tanpa pamrih dan tulus sesuai dengan firman Tuhan: Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi sama seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh 15: 12; AngTBul XI: 5), di mana mereka siap sedia dan nyatanya  saling mengasihi dan mengasuh seperti seorang ibu mengasihi dan mengasuh anaknya (AngTBul VI: 8-9), saling membantu dan melayani, saling memperlakukan sesuai dengan firman Tuhan:

Apa pun yang kaukehendaki supaya diperbuat orang lain bagimu, perbuatlah demikian juga kepada mereka, lagi: Apa yang tidak kaukehendaki terjadi atas dirimu, jangan kauperbuat terhadap orang lain (Tob 4: 16; AngTBul IV: 4-5), tidak saling menghakimi dan menghukum dan ingin mencintai mereka yang menganiaya, mencela dan berperkara dengan mereka (AngBul X: 10-11).

Bila demikian halnya, maka tidak dapatlah dan bahkan tidak olehlah mereka memperlakukan satu sama lain sesuka hatinya, apalagi meniadakan, membinasakan dan atau membunuhnya. Sebab, mereka yakin bahwa mereka sendiri dan kehidupannya serta saudara-saudaranya dan kehidupan mereka dikaruniakan kepada mereka oleh Tuhan Allah, Sang Penciptanya yang mahakuasa dan mahakasih. Dialah satu-satunya yang memiliki mereka semua dan kehidupannya serta berkuasa mutlak atasnya dan mencintainya sebagai anak-anak-Nya tanpa batas.

Berdamai dengan siapa dan apa saja

St Fransiskus pernah melibatkan dirinya dalam peperangan antara warga Asisi dan warga Perugia. Namun buahnya adalah dia kehilangan banyak temannya peperangan itu. Dia sendiri bahkan ditawan dan jatuh sakit yang cukup berat. Dan sesudah agak sembuh  dari sakitnya dia berangkat ke Apulia untuk ikut ambil bagian dalam Perang Salib  di Italia Selatan.

Tetapi di Spoleto, dalam mimpi, Tuhan menampakkan diri-Nya kepadanya. Tuhan bertanya  kepadanya tentang siapa yang dapat berbuat lebih banyak kepadanya: tuan atau hamba? “Tentu saja tuan”, jawabnya. Karena jawaban itu dia diminta untuk kembali ke Asisi. Di sana akan diberitahukan kepadanya apa yang akan dilakukannya selanjutnya (3 Sah II: 4-6; 2 Cel 6).

Semula dia memang bercita-cita untuk menjadi seorang ksatria yang mulia, terhormat dan termasyhur. Namun cita-cita tersebut digantinya dengan suatu cita-cita serta tujuan yang lebih luhur lagi. Dan cita-cita serta tujuan itu adalah menjadi seorag mempelai Tuhan Allah yang suci dan tak bercela, seorang hamba-sahaya Kerajaan Allah dan seorang pelayan Injil (1 Cel 7-8).

Seorang ksatria Allah, Yesus Kristus tidak boleh menyibukkan dirinya dengan perang, tetapi mengabdikan dirinya seluruhnya kepada Tuan Puteri Kemiskinan. Pengabdian seperti itu menunjukkan penyerahan diri Tuhan Yesus Kristus sendiri, yang hidup dalam kemiskinan  dan kesederhanaan di dunia ini. Dan hal itu menjadi sumber keselamatan bagi mereka yang mencari pengampunan dan rekonsiliasi.

Seperti sudah dikatakan di atas, St Fransiskus pernah melibatkan dirinya dalam peperangan. Pada waktu itu peperangan berkecamuk terutama karena daya tarik ketiga hal ini, yakni kekuasaan, uang dan nama besar. Namun di depan Bapak Uskup Asisi dia menolak ayahnya serta harta kekayaannya.

Penolakan itu dapat dipandang tidak hanya sebagai penolakan terhadap ketiga nilai manusiawi yang sangat menarik itu, melainkan juga sebagai penolakan terhadap kekerasan sebagai sarana untuk mendapatkannya.

Selanjutnya, di tengah berkecamuknya pertempuran antara laskar Kristen dan laskar kaum tak beriman St Fransiskus menemui Sultan Mesir, Melek el Kamil tanpa senjata apa pun dan perlindungan sedikitpun (1 Cel 57; Leg Maj IX: 7-8). Dia tidak ikut ambil bagian dan melibatkan dirinya dalam peperangan yang sedang berkecamuk.

Dia mau menempuh jalan yang lain. Peristiwa pertemuan dengan Sultan Mesir ini menjadi lebih bermakna lagi, bila orang ingat akan peristiwa di Spoleto tadi. Sesudah peristiwa di Spoleto itu tidak ada lagi peristiwa di mana St Fransiskus melakukan kekerasan dalam bentuk apa pun. Sebaliknyalah yang terjadi.

Dia hidup dalam perdamaian, hidup berdamai dengan manusia baik sebagai individu mau pun sebagai kelompok, entah di kota entah di tempat-tempat lain. Dan dia juga bahkan hidup dalam perdamaian, hidup berdamai dengan seluruh ciptaan.

Selain itu  ‘dalam setiap khotbahnya, sebelum dia mengetengahkan Sabda Allah kepada orang-orang yang berkumpul, ia menyampaikan salam damai katanya: ”Semoga Tuhan memberikan damai kepada kalian” (bdk. Was 23). Damai itu disampaikannya dengan amat khidmat kepada pria dan wanita, kepada yang dijumpainya dan kepada yang berpapasan dengannya.

Karena itulah  banyak orang, yang tadinya membenci damai dan keselamatan, lalu dengan bantuan Tuhan memeluk damai dengan segenap hati dan malah menjadi anak-anak damai dan pengejar keselamatan’ (1 Cel 23).

Sekadar penutup

Memang St Fransiskus hidup sekitar 800-an tahun yang lalu. Peri hidup dan pandangannya barangkali agak sulit diterima. Bagaimana pun juga peri hidup serta pandangannya itu, meskipun belum seluruhnya disampaikan, masih dapat membantu untuk menata dan menata kembali hidup kita yang mencita-citakan persaudaraan universal yang sejati, yang mencita-citakan hidup sebagai saudara satu sama lain.

Adalah benar bahwa hidup kita diturunkan melalui dan dengan perantaraan manusia-manusia yang. Namun demikian mereka bukanlah sumber serta pemilik kehidupan yang sesungguhnya. Tuhan Allah yang mahakuasa, mahapengasih dan mahapenyayanglah sumber dan pemilik kehidupan manusia yang sesungguhnya.

Dan St Fransiskus sangat percaya dan yakin akan kebenaran ini. Tuhan Allah yang sama juga selalu mencintai dan menyayangi manusia itu baik masing-masing mau pun bersama-sama  sebagai anak-anak-Nya dengan cinta kasih yang tiada batasnya. Kehidupan manusia, baik masing-masing mau pun bersama-sama bahkan sangat berharga di mata-Nya.

Pelbagai macam bentuk kekerasan, peniadaan kehidupan dalam rupa pembunuhan dan yang serupa baik sekarang ini mau pun pada waktu yang lalu, khususnya pada 1965 dan sesudahnya, sulit didamaikan dengan peri hidup yang coba diwujudkan St Fransiskus serta pandangan yang melandasinya.

Kiranya perlu dicatat bahwa tidak sedikit pria dan wanita di seluruh dunia yang berupaya mewujudkan peri hidup serta pandangan yang disampaikan oleh St Fransiskus itu sebagai teladan kepada mereka***

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here