SHARE

Air merupakansalah satu sumber kehidupan bagi seluruh ekosistem yang berada di permukaan bumi . Air menjadi pemuas dahaga kita dikala kita haus, air menyegarkan kita dikala kita gerah, air menunjang seluruh kebutuhan hidup makhluk hidup di alam ini. Singkatnya air sangat  menentukan keberadaan dan peradaban kita. Tanpa air makhluk hidup tentu pasti lenyap dan binasa.

Adanya air dalam kehidupan kita (manusia) bukanlah suatu fenomena yang ada begitu saja. Air diciptakan oleh sang Pencipta dengan maksud dan tujuan yang mulia yaitu untuk ‘merayakan’kehidupan bagi segenap ciptaan (baca: semua mahkluk hidup). Tidaklah adil dan masuk akal jika kita melakukan sewenang-wenang, mendakukan apa yang dianugerahkan oleh Allah (dalam hal ini air) untuk semua mahkluk hidup.

Santo Fransiskus Asisi adalah salah satu figur inspiratif bagi kita saat ini.  Berkat teladan yang ditunjukkannya dapat  membuka mata kita semua:Bagaimana seharusnya memperlakukan alam semesta dan sumber-sumber yang adanya di dalamnya termasuk air?Santo Fransiskus melihat air bukan sesuatu yang ada begitu saja di alam ini. Fransiskus Asisi melihat air sebagai ‘sarana’ yang bisa menghantar kita sampai pada sang Pencipta. Mengapa? Karena melalui air kita semua dapat memuji sang Pencipta. Fransiskusmenyebut air dengan sapaan yang khas yaitu ‘saudari air’. Kekaguman Fransiskus Asisi terhadap air terdapat dalam salah satu karyanya yang terkenal yaitu Kidung Saudara Matahari. Salah satu unsur kosmis yang dia sebut dalam puisi (sering juga disebut kidung)  itu adalah air. Kutipan dari puisi tersebut demikian;.

Terpujilah engkau Tuhanku

Karena Saudarari Air;

Dia besar faedahnya,

Selalau merendah,

Berharga dan murni.

 

Puisi ini hendak menggambarkan kedekatan relasi Fransiskus dengan alam sekitar (dalam hal ini air). Air baginya bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomis semata,tetapi juga memiliki nilai yang berharga bagi kehidupan. Tetapi,puisi tinggal puisi. Fenomena yang terjadi saat ini sulit dipahami. Air yang semula diperuntukkan bagi semua orang untuk menunjang kebutuhan hidup, perlahan-lahan menjadi instrumen politis dan melulu sebagai nilai ekonomis. Fenomena yang lagi trend saat ini ialah soal privatisasi air. Air yang dahulunya sumberdaya yang tak terbatas, diperuntukan untuk semua dan bisa diakses oleh siapa saja dan merupakan barang publik (rescommune)kini menjadi barang yang privat, menjadi komoditas yang lebih mementingkan aspek ekonomi yang akhirnya berorientasi mencari keuntunganuntuk beberapa kelompok. Bahkan, masyarakat adat yang dahulunya menjadi “pemilik air”, kini harus membeli dan membayar air dengan alasan trend globalisasi. Air menjadi barang dagang yang tunduk pada hukum pasar. Dalam hal ini kita bisa menggugat dan bertanya:Siapakah kelompok yang  membatasi sumber alam ini? Apakah mereka ikut ambil bagian dalam sejarah penciptaan?Fenomena ini adalah tindakan kesewenangan, ketidakadilan dan sangat memprihatinkan. Segala sesuatu di alam ini mulai diprivatisasi. Mungkin ada juga oknum yang berangan-angan memprivatisasi udara sehingga hanya orang tertentu saja (orang yang berduit)  yang membeli udara dan bernapas dan yang miskin binasa.

Di sisi lain, hal yang mengkhwatirkan saat ini yaitu kondisi air di planet bumi . Air saat ini semakin berkurang, kualitasnya semakin hari semakin tercemar. Hal inlah yang ditunjukkan oleh Paus Fransiskus. “Persediaan air dulu relatif stabil, tetapi sekarang dibanyak tempat permintaan melebihi pasokan yang berkelanjutan, dengan konsekwensi dramatis untuk jangka pendek dan panjang. Kota-kota besar yang membutuhkan cadangan air yang besar, telah mengalami masa-masa kekurangan air, yang pada saat kritis itu tidak selalu mendapat pasokan dengan pengawasan yang tepat dan tidak memihak. Di Afrika , sebagian besar penduduk tidak mempunyai akses air minum yang aman atau mengalami kekeringan yang menghambat produksi pertanian. Bahkan di beberapa negara ada daerah yang memiliki air yang melimpah, sedangkan yang lain menderita kekurangan yang cukup parah”. (Laudato Si, 28).

Akibat serius dari tindakan seperti ini ialah masyarakat akar rumput (kecil dan miskin). Mereka  seperti alunan lagu yang sering kita nyanyikan, “laksana rusa merindukan air”.  Paus Fransiskus juga mengemukakan hal yang sama yaitukualitas air yang tersedia bagi orang miskin menyebabkan banyak kematian setiap hari. Penyakit yang berhubungan dengan air, banyak ditemukan di antara mereka, termasuk yang disebabkan oleh mikro-oragnisme dan zat kimia (Laudato Si, 29).

Rakyat miskin semakin dimiskinkan, disingkirkan, dan diasingkan. Yang paling mengkhawatirkan ialah cara pandang mereka yang berkuasa terhadap orang lain (yang miskin). Dimanakah rasa kemanusiaan yang adil dan beradab? Atau sudah tumpulkah hati nuraninya terhadap yang lain? Siapakah sesama manusia itu? Jawabanya mungkin bervariasi atau bahkan pertanyaan ini tidak digubris sama sekali.

Orang miskin dari hari kehari menderita karena kurang mendapat air  yang bersih untuk minum dan keperluan lain. Mereka mungkin tidak ada pilihan lain, selain “menikmati” air yang sudah tercemar. Padahal agar bisa hidup sehat, orang membutuhkan tiga kriteria airyaitu air bersih (clean water), air yang sehat (healthy water), dan air yang aman dari segala penyakit (save water). Itulah standarisasiair konsumsi manusia yang tidak ditawar-tawar, hak asasi manusia juga perlu dilindungi (Franssiskus Borgias dlm GSS,Maret-April 2007).Oleh karena itu, penulis mengajak supaya masing-masing kita mulai memaknai air bukan hanya sebagai komoditas pemenuhan kebutuhan semata tetapi juga perlu dihargai. Pengharagaan kita terhadap air juga merupakan wujud penghargaan kita terhadap sang Pencipta dan orang lain. Penghargaan atas hak setiap orang untuk menikmati air yang berkualitas untuk menunjang kehidupan dan bukannya hanya hak untuk sekelompok orang.Wassalam.

Sdr. Mikael G. Santrio OFM

Mahasiswa Semester VI, di STF Driyarkara Jakarta dan Ketua Frater-Frater OFM Indonesia

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here