SHARE

Bumi adalah ibu kehidupan. Ia merahimi dan melahirkan susu dan madu bagi seluruh ciptaan termasuk kita manusia”

Petikan singkat di atas merupakan seruan kritis sekaligus siraman inspiratif bagi kita umat manusia saat ini. Hidup kita saat ini sedang dilanda oleh berbagai bentuk krisis secara khusus terkait dengan ancaman terhadap lingkungan hidup dan kemanusiaan kita sendiri. Setiap hari kita selalu diliputi dengan berbagai peristiwa sedih seperti bencana banjir dan tanah longsor, musim tak tentu, pemanasan global akibat menipisnya lapisan ozon, musnahnya berbagai macam mahluk hidup akibat kehilangan habitatnya, sampai pada bencana kekeringan, jeritan kelaparan serta derita kemiskinan yang semakin mendera kehidupan umat manusia sendiri.

Semua peristiwa sedih dan duka seperti itu sangat memilukan nurani dan budi kita, sehingga seolah-olah mengajak dan bahkan memaksa kita untuk kembali melihat dan merefleksikan keberadaan kita di atas muka bumi ini, secara khusus terkait pola relasi kita dengan lingkungan alam kita. Kita mesti mengakui bahwa relasi kita dengan lingkungan alam khususnya sudah sangat memprihatinkan. Berbagai macam peristiwa duka tersebut kita harus akui merupakan dampak buruk dari tindakan dan perbuatan rakus kita akan alam. Kita seringkali berelasi dengan alam dengan sikap cendrung mementingkan diri sendiri, egois, tanpa peduli terhadap keberadaan dari alam itu sendiri.

Kemunduran Respek Terhadap Alam

 Deretan persoalan di atas merupakan fenomena bahwa kita sebagai manusia sedang mengalami kemunduran sikap dan pola laku terhadap alam. Kita sebagai manusia di zaman sekarang telah kehilangan cita rasa akan ketergantungan kita pada alam. Alam tidak lagi dipandang serta dirasa sebagai ‘bagian integral dari kehidupanku’, ‘sebagai tempat di mana aku berada, hidup, dan beraktivitas’, ’sebagai tempat diriku bermukim’, dan justru kita cendrung ‘memandang alam sebagai hal terpisah dari diriku’.

Peristiwa kemunduran sikap terhadap alam tersebut memang salah satu dampak dari  cara berpikir  modern di mana melihat alam secara instrumental dan teknokratis, sebagai objek pemenuhan hasrat dan kuasa ekonomis semata, sehingga tidak heran bahwa terdapat berbagai bentuk kejadian eksploitatif terhadap alam seperti kasus pembabatan hutan secara liar, pembakaran lahan, sampai pada usaha pertambangan dengan sikap tanpa peduli terhadap kondisi ekologi sekitar. Dalam konteks Kitab Suci Kristiani, cara berpikir tersebut berakar pada sebuah penafsiran salah kaprah terhadap seruan Allah dalam kitab Kejadian bagi manusia untuk menguasai alam. Dalil Kitab Kejadian ini sering dijadikan dasar legitimasi tindakan kita untuk memanfaatkan alam tanpa rasa tanggung jawab terhadap keutuhan ekosistem alam tersebut.

Berbagai sikap terhadap alam di atas tentu tidak dapat dilepaskan dari karakter lahiriah kita sebagai manusia. Sebagai manusia, kita memang memiliki karakter untuk menjadi penguasa terhadap segala sesuatu termasuk untuk menjadi penguasa atas alam. Hasrat alamiah ini berangkat dari suatu rasa kepongahan serta kelobaan di dalam diri kita sendiri di mana kita tidak pernah puas dengan segala yang kita miliki. Kita seringkali ingin menjadikan segala sesuatu menjadi milik kita sendiri tanpa peduli pada orang lain.

Karakter alamiah seperti ini jika dipelihara pasti akan berdampak buruk terhadap segala sesuatu bahkan bagi hidup manusia itu sendiri. Tanpa kita sadari bahwa hasrat untuk menguasai segala sesuatu termasuk alam, sesungguhnya sama dengan hasrat untuk membunuh diri sendiri secara tidak langsung, karena manusia itu sendiri tidak dapat hidup tanpa segala sesuatu. Dia selalu tergantung dengan segala sesuatu termasuk alam sebagai tempat dia berpijak dan mendapatkan makanan bagi keberlangsungan hidupnya. Apakah mungkin kita dapat hidup tanpa kita memerhatikan keberadaan dari yang lain secara khusus terhadap alam sebagai sumber segala kebutuhan hidup kita.

Pertobatan Ekologis

Ancaman terhadap kehidupan akibat kerusakan lingkungan alam tersebut di atas mesti menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk memikirkan kembali terkait dengan jejak relasi dan perilaku kita terhadap alam. Kita mesti sadar bahwa kerusakan alam merupakan suatu ancaman bahkan telah menjadi sebuah bencana bagi hidup kita di atas bumi ini, sebab kerusakan alam juga sudah pasti berdampak pada ancaman hidup kita dan bahkan akan mendatangkan kemusnahan bagi hidup kita sendiri. Oleh karena itu, kita mesti memulihkan kembali hubungan kita dengan alam secara khusus terhadap dosa yang telah kita lakukan dalam mengeksploitasi lingkungan alam secara sewenang-wenang tanpa sikap bertanggung jawab sedikitpun.

Usaha pemulihan relasi tersebut dapat dilakukan dengan mengubah cara berpikir kita terhadap alam. Kita mesti sadar bahwa alam adalah tempat kita bermukim, sebagai rumah kita, tempat kita menimba segala sesuatu, dan sebagai sumber segala kebutuhan hidup kita. Dari alam kita akan mendapatkan udara untuk bernafas, makanan untuk dimakan, air untuk diminum. Alam adalah tempat di mana kita dapat mewujudkan segala mimpi kita, sebagai sebuah ladang peradaban kita, sebagai lapangan di mana kita dapat bermain dan bercanda tawa bersama. Singkat kata, alam adalah bagian tak terpisahkan bagi kehidupan. Oleh karena itu, pelestarian akan alam merupakan suatu tuntutan hakiki sekaligus ajakan etis bagi kita. Kita mesti menjaga, merawat, dan memelihara serta mencintai alam sebagai bagian dari diri kita sendiri, sebab mencintai alam berarti juga mencintai dan peduli terhadap diri kita sendiri. Alam yang indah dan terawat akan menentukan kebahagiaan kita bersama.

Yones Hambur

Mahasiswa Semester VI di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara-Jakrta

 

 

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here