SHARE

Sekolah Evangelisasi Pribadi Mudika (SEP Mudika) Shekinah Jakarta angkatan ke-15 mengadakan kunjungan dan pelayanan sosial kepada Rumah Singgah St. Antonius Padua di Jl. Tanah Tinggi II no. 7B, Tanah Tinggi Jakarta Pusat, Sabtu (13/5). Kunjungan ini dihadiri oleh 16 anggota SEP Mudika Shekinah Jakarta angkatan ke-15.

SEP Mudika Shekinah merupakan sebuah wahana pembelajaran bagi anak muda untuk mengmbangkan kerasulan awam dengan orientasi kepada penginjian, pengudusan dan pembaharuan tata dunia. SEP Mudika Shekinah ini juga bertujuan untuk menyediakan kursus-kursus pembinaan kerasulan awam, guna memperdalam wawasan dan semangat umat sebagai pembawa Kabar Baik bagi diri sendiri dan bagi sesama.

Selain itu juga SEP Mudika Shekinah membantu peserta kursus dan umat yang dilayani untuk mengalami pendalaman hidup doa, Sabda Tuhan, sakramen-sakramen dan kesaksian hidup kristiani yang otentik, sehingga dapat turut serta menghidupi persekutuan umat beriman dan pelayanan-pelayanan dalam kuasa Roh Kudus.

Dalam kunjungan tersebut dimulai dengan ibadat sabda yang bertema “Pelayanan Kasih,”  yang dipimpin oleh Frater Ambrosius Haward, OFM. Dalam renungannya, mahasiswa STF Driyarkara semester VII ini mengedepankan makna setiap pelayanan harus didasarkan pada kasih Tuhan yang tidak menuntut imbalan.

“Siapa yang pernah berjumpa dengan Tuhan Yesus,” tanya Frater Haward kepada para Mudika Shekinah, “Kita sebenarnya setiap hari selalu berjumpa dengan Tuhan melalui orang-orang yang kita jumpai, orang yang bersama dengan kita atau melalui berbagai peristiwa. Kita diharapkan selalu membuka diri melayani Tuhan yang hadir dalm diri orang-orang itu,” tegas Frater asal Kupang ini.

Lebih lanjur Frater Haward menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi orang-orang yang tinggal di Rel Kereta Api. “saya bersama para saudara pernah mengunjungi orang-orang di Rel Kereta Api. Dalam perjumpaan itu, kami mendengar informasi bahwa banyak orang mau melayani dan memberi bantuan kepada orang-orang di sana dengan tujuan supaya orang-orang itu harus mengikuti ibadat atau kegiatan gereja mereka. Ini adalah suatu pelayanan yang tidak didasarkan pada kasih Tuhan.” tegas Frater Haward kepada semua yang mengikuti ibadat tersebut.

Oma Siana berbagi cerita dengan penuh semangat!

Setelah ibadat sabda dilanjutkan dengan kegiatan sharing pengalaman iman dengan para pasien Rumah singgah. Bapak Cepi, salah satu penghuni Rumah singgah, bersedia membagikan pengalamannya selama berada di Rumah singgah dan juga kehidupannya sebelum berada di Rumah Singgah.

“Sebelum saya tinggal di Rumah Singgah ini, saya tinggal di emperan pasar Senen karena saya lari dari rumah. Istri saya tidak tidak peduli lagi dengan saya. Dia tidak mau merawat kaki saya yang terluka. Akhirnya saya pergi dari rumah dan tinggl di emperan pasar Senen. Di sana saya berjumpa dengan seseorang dan karena kasihan dengan saya, dia menawarkan kepada saya supaya saya tinggal di Rumah Singgah.  Rupanya dia pernah tinggal di sini. Lalu dia menghantar saya ke sini.” Cerita Bapak Cepi.

“Di sini saya diterima dengan baik. suster Mei dengan penuh kesabaran mau merawat dan mengobati kaki saya yang terluka. Dia tidak merasa jijik, bahkan setiap hari dia mencuci dan mengobat kaki saya. Selain itu juga saya berjumpa dengan para Frater yang menerima saya dengan baik. mereka juga selalu terbuka dan mau berbagi pengalaman dengan saya. Karena itu saya menganggap mereka sebagai keluarga saya sendiri.” katanya lagi.

Selain itu, Gerad, salah satu anggota SEP Mudiaka, juga membagikan pengalamanya selama belajar bersama teman-temannya di SEP Mudika. Dia mengalami perubahan dalam kehidupan rohaninya mengatakan bahwa sebelum masuk SEP Mudika, dia jarang pergi ke gereja dan kadang pergi ke gereja karena malu sama teman-teman atau keluarga di rumah tetapi setelah belajar di SEP Mudika, dia menemukan ada sesuatu yang baru yang mendorongnya untuk selalu mengikuti misa pada hari minggu dengan penuh kesadaran.

“Saya baru rajin mengikuti misa hari minggu setelah saya belajar di SEP Mudika. Sebelumnya saya nga pernah ngikuti misa dengan serius. Tetapi setelah saya mulai belajar di SEP Mudika, ya lumayanlah, saya mulai mendengar bacaan-bacaan saat misa. Dan baru kali ini saya mengikuti kegiatan rohani seperti ini.” Ungkap umat paroki Antonius ini.

Selain sharing pengalaman iman dilanjutkan dengan makan siang bersama para pasien Rumah Singgah. mereka juga mengajak para pasien untuk bernyanyi bersama.  Oma Siana menyambut permintaan itu dengan penuh semangat dan sukacita. Oma Siana berulang kali meminta dinyanyikan lagu kesukaannya, “Yesus Kekasih Jiwaku.” Bagi oma Siana, Yesus adalah kekasihnya dan dia berikan hidupnya hanya untuk kekasihnya itu.

Albertus Dino, OFM

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here