SHARE

Lembah Balim, di Kabupaten Jayawi­jaya-Wamena, sudah tak asing lagi bagi kebanyakan warga Papua; entah karena sudah pernah ke sana atau paling tidak per­nah mendengar ceritera ten­tangnya. Berada di pegunun­gan, lembah yang sangat unik ini dikelilingi bukit dan gunung yang mempesona. Letaknya yang demikian, membuatnya jadi primadona untuk dikunjungi wisatawan lokal dan man­canegara.

Lembah yang digambarkan seperti kuali ini menyimpan begitu banyak kekayaan; (tentu) bukan emas (sebagaimana dimiliki gunung Gras­berg dengan emas, tembaganya) melainkan budaya beserta nilai-nilainya (kearifan lokal). Salah satu kekayaan yang ingin kami deskripsikan dalam tulisan ini adalah filosofi hidup Wen, Wam dan Wene (3W).

Filosofi Wen, Wam dan Wene

Setiap budaya memiliki filosofi hidup yang unik/khas sebagai tun­tunan bagi masyarakat ke arah yang dicita-citakan. Masyarakat suku Hu­wula pun memiliki keunikan itu yang sudah diturun-alihkan dari generasi yang satu ke generasi yang lain. Generasi di zaman ini pun masih meng­hayati konsep ini, betapapun tidak lagi seefektif dulu.

Tulisan ini bertitik fokus pada bagaimana filosofi 3W (Wen, Wam dan Wene) bisa menjadi kapital (mod­al) dalam rangka menjaga dan mera­wat alam yang akhir-akhir ini kurang mendapat penghargaan dan perha­tian sebagaimana mestinya. Kita akan masuk ke pokok ini setelah kita mengerti dan memahami apa nilai yang terkandung dalam konsep Wen, Wam dan Wene (3W).

Pertama, Wen atau kebun merupakan pusat seluruh hidup masyarakat suku Huwula. Bagi mereka, wen adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup mereka setiap hari. Ikatan yang tak terpisahkan ini lahir dari kesadaran dasariah bahwa hidup tidak pernah terlepas dari sega­la sesuatu yang ada di sekitar, pun di kebun. Di dalam Wen tersimpan be­gitu banyak kekayaan; ada hidup, ada wam (babi), ada uang, dan ada per­empuan). Cara pandang yang demiki­an, mendorong segenap masyarakat suku Huwula untuk menghargai dan menjunjungi tinggi wen. Wen tidak saja ada sebagai konsekuensi dari hidup bertani tetapi lebih dari itu se­bagai simbol yang memberi dan me­neruskan hidup. Terkait hal ini, Bapa Neles Siep mengatakan:

“Kami orang suku Huwula tidak bisa hidup tanpa wen. Sejak ne­nek moyang dulu, wen sudah menjadi bagian penting dari hidup kami. Hal ini bisa dilihat dalam bagaimana orang tua dulu memperhatikan dan menata kebun dengan sangat bagus. Dari pagi sampai malam orang tua dulu selalu ada di kebun. Bahkan karena keasyikan kerja, orang tua dulu hanya makan satu kali saja, yaitu pagi hari. Maka dulu orang tua biasa bilang ‘hat heki agatma, usawusak hayuk halok, hat hipere awu motok dosak’ (kalau kau tidak bekerja kebun, kau tidak akan punya apa-apa atau miskin atau lapar)”.

Sangat jelas, wen me­mainkan peran yang sentral bagi masyarakat suku Huwula. Wen tidak saja dianggap sebagai arena peng­aktualisasian diri sebagai makhluk pekerja (sebagaimana dikatakan Paus Yoh Paulus II dalam ensiklik Laborem Exercens (Dengan Bekerja) tetapi lebih dari itu sebagai sumber dan pusat hidup. Hidup justru ada dan lahir dari sana (wen). Dia (wen) memberikan kelimpahan ‘berkat’ bagi hidup yang berkelanjutan.

Namun, sebagaimana lazimnya di masyarakat tani, wen tidak dengan sendirinya bisa menjadi berkat, sum­ber dan pusat hidup bagi manusia. Wen hanya bisa menjadi berkat bah­kan pusat kehidupan apabila disertai dengan perjuangan. Maka bagi mere­ka perjuangan mesti menjadi kunci atau prasyarat dalam menjadikan wen sebagai pusat hidup. Hal ini sangat jelas dalam ungkapan ‘kalau kau tidak bekerja kebun, kau akan lapar’.

Kedua, Wam (babi). Hidup ha­rus dirayakan, itulah prinsip hidup masyarakat Melanesia pada umumnya dan secara khusus masyarakat suku Huwula di lembah Balim. Da­lam rangka merayakan hidup, wam menjadi binatang sakral yang harus dikorbankan pada kesempatan ini.

Maka setiap kali ada pesta, babi men­jadi hewan kurban yang harus ada. Bahkan banyaknya jumlah babi yang dikorbankan menunjukkan bahwa pesta itu sangat meriah. Mereka juga berjuang keras memelihara banyak babi, sebab dengan memiliki babi, orang akan dianggap kaya.

Salah satu perayaan yang mengungkapkan nilai perayaan hidup ini adalah ‘bakar batu’. Perayaan ini sudah menjadi ciri khas suku-suku yang terletak di pegunungan provinsi Papua, tak terkecuali suku Huwula di Pegunungan Tengah. Peranyaan ini tidak bisa dilepas-pisahkan dari ke­beradaan wen. Perayaan bakar batu justru mengungkapkan dimensi ke­limpahan yang berasal dan bersumber pada wen. Bagi masyarakat suku Hu­wula, perayaan bakar batu mengung­kapkan beberapa nilai:

(1) Syukur. Kelimpahan dalam hidup disadari bukan sebagai sesuatu yang begitu saja jatuh dari langit teta­pi berkat keterlibatan banyak pihak terutama para leluhur yang mereka yakini senantiasa membantu dan memberi kelimpahan panen. Leluhur bagi masyarakat suku Huwula adalah pribadi yang tidak kelihatan tetapi sungguh terlibat dalam suka dan duka hidup mereka. Keterlibatan – walau tak kelihatan – inilah yang mendorong masyarakat suku Huwula untuk melakukan pesta bakar batu. Di saat inilah, mereka bersama roh leluhur merayakan secara bersama syukuran atas kelimpahan itu. Selain karena keterlibatan yang tak kelihatan dari le­luhur, mereka juga melakukan syukur atas keberhasilan mereka dalam bekerja.

(2) Tidak hanya dalam perayaan syukur, pesta bakar batu juga terjadi pada saat ada peristiwa duka. Melalui pesta bakar batu, mereka in­gin menunjukkan kecintaan terhadap pribadi yang meninggal dunia. Inilah moment di mana mereka mengung­kapkan perpisahan dan terima kasih atas pengalaman kebersamaan dan tentu juga jasa-jasa almarhum. Lebih dalam dari ungkapan terima kasih dan salam perpisahan, pesta ‘bakar batu’ pada saat ini juga diyakini se­bagai kesempatan untuk membangun relasi yang baik dengan roh leluhur. Relasi yang baik ini sangat menentukan nasib akhir dari orang yang meninggal.

“Pesta ‘bakar batu’ untuk kami masyarakat suku Huwula” ungkap Bapak Neles Siep ”adalah wajib, ter­utama pada saat-saat khusus seperti, pesta pernikahan, acara Gereja (saat setelah agama sudah masuk), dan saat-saat ada keberhasilan (dalam ker­ja kebun dan sekolah). Selain itu, pada saat ada yang meninggal, juga kami buat pesta ‘bakar batu’. Dengan pesta bakar batu ini, kami mau mengung­kapkan perpisahan dan terima kasih kepada orang yang meninggal karena sudah berjasa dalam hidup. Juga da­lam acara ‘bakar batu’ ini, kami ingin membangun hubungan baik dengan leluhur kami, biar bisa menerima yang baru meninggal hidup bersama mereka.”

Ketiga, wene (beragam persoa­lan hidup). Hidup tidak pernah bebas dari masalah. Keyakinan ini juga di­miliki masyarakat suku Huwula. Bagi mereka, persoalan-persoalan yang dialami setiap hari merupakan bagi­an yang tak terpisahkan dari hidup. Persoalan-persoalan itu bisa dalam bentuk pernikahan, adat, kesehatan, ekonomi, pendidikan, relasi dengan sesama dan dengan alam. Bagi masyarakat Suku Huwuka tidak ada jalan keluar lain untuk mengatasi persoalan-persoalan ini kecuali kembali ke wen. Semua persoalan bisa diatasi ha­nya apabila masyarakat suku Huwula memiliki perhatian terhadap wen. Dengan memperhatikan wen, mas­yarakat bisa mendapatkan sesuatu untuk bisa mengatasi masalah (biaya) pendidikan, kesehatan, perkawinan, ekonomi, dan seterusnya.

Dengan yakin Bapak Neles Siep mengatakan “Untuk kami masyarakat Huwula, tidak ada masalah yang tidak bisa diatasi apabila orang rajin mengolah dan merawat kebun. Dulu tidak ada yang namanya tidak ada makanan, tidak ada yang bikin kacau, karena setiap hari selalu ada di kebun dan di kebun pasti selalu ada makanan”.

Wen, Wam, dan Wene dalam Kon­teks Perjuangan untuk Keutuhan Ciptaan

Perjuangan untuk menjaga keharmonisan alam dalam konteks zaman ini sudah semakin dibutuh­kan. Berhadapan dengan maraknya bencana alam yang menakutkan dan mengancam keselamatan manusia, orang semakin menyadari betapa pentingupaya menjaga hubungan yang harmonis dengan alam. Orang semakin sadar melihat alam dan ling­kungan sebagai bagian integral dari hidup manusia.

Konsep 3W masyarakat lem­bah Baliem merupakan kearifan lokal yang justru menjunjung tinggi relasi harmonis dengan alam. Melalui kon­sep ini, mereka ingin mengatakan, betapa hidup kita sangat bergan­tung pada realitas lain di sekitar kita. Sebagaimana mereka memandang dan menghayati Wen sebagai sumber hidup, alam pun dalam arti yang sama juga semestinya dipandang sebagai sumber hidup bagi manusia. Dia tidak saja dipandang sebagai saudara/ saudari (pandangan ala Fransiskus Asisi), tetapi lebih dari itu, dia adalah sumber hidup. Dalam konteks ini, tepatlah Paus Fransiskus menyebut alam sebagai Ibu Bumi. Dia Ibu, ka­rena memberikan kehidupan kepada setiap manusia. Dia juga Ibu karena –sama seperti semua ibu- memiliki rahim tempat setiap manusia berasal. Konsep ini semestinya menjadi pema­haman bersama semua orang agar ke­harmonisan alam (menuju ke kehar­monisan hidup) bisa dirasakan dan dialami oleh sesemua manusia dengan alam sekitarnya.

Belajar dari Kearifan Lokal Masyarakat Suku Huwula

Tanpa mengabaikan nilai-nilai kearifan lokal dalam budaya lain, kami ingin mengajak pembaca untuk bela­jar dari konsep kearifan lokal masyarakat lembah Baliem di Wamena. Ada beberapa hal yang bisa kita pelajari dalam rangka menghentakkan nurani kita untuk peduli lingkungan.

Pertama, Wen sebagai sumber hidup merupakan konsep yang sangat ekologis. Melalui konsep ini, kita diingatkan bahwa hidup kita bagai­kan sebuah lingkaran rantai yang ha­nya bisa berjalan apabila semua sisi berjalan dengan baik. Hubungan kesaling-tergantungan ini adalah sebuah keniscayaan. Alam pun demikian; selain bisa menjadi rahim yang me­nenangkan dan menentramkan, juga bisa menjadi ‘gudang’ penyimpan makanan untuk kehidupan manu­sia, tidak saja bagi generasi sekarang tetapi juga generasi yang akan datang. Kerusakan gudang akibat ketidak­pedulian menyebabkan kesediaan makanan untuk kehidupan menjadi berkurang.

Kedua, konsep Wen sebagai ba­gian yang tak terpisahkan dari hidup masyarakat suku Huwula menegas­kan bahwa penghargaan terhadap alam tidak saja karena dia (alam) telah menjadi ancaman yang menakutkan (sebagaimana kita saksikan begitu banyak bencana alam yang ujungnya merenggut nyawa manusia) tetapi ter­utama karena memang dia pantas un­tuk dihargai. Alam –tidak saja manu­sia – justru menjadi elemen penting dan tak tergantikan dalam merangkai dan merajut keharmonisan hidup. Kehilangannya justru menjadi mala­petaka bagi kehidupan manusia.

Ketiga, wene (persoalan). Per­soalan hidup (pendidikan, kesehatan, perkawinan, dan seterusnya) adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Itu pulalah yang diyakini masyarakat suku Huwula di Wamena. Bagi mereka –bahkan sudah menjadi pengetahuan umum yang turun temurun-, persoalan-persolan hidup adalah bagian yang tak pernah jauh dari realitas kehidupan mereka. Akan tetapi, bagi mereka, persoalan ini bisa diatasi ketika hubungan dengan wen dijaga dan diperhatikan dengan baik. Misalnya, ketika mereka sedang berhadapan dengan masalah perkawinan, atau pendidikan atau kesehatan, peran wen di sini sangat penting dan sentral. Dengan memiliki wen dan menjaga relasi yang baik dengannya, permasalahan-permasahan itu dengan mudah diatasi, karena dari wen inilah, baik uang maupun makanan atau denda berupa babi bisa didapat.

Kearifan lokal ini memberikan pelajaran berharga bagi kita bahwa persoalan dalam hidup adalah bagian yang tak terpisahkan dari hidup itu sendiri. Alam telah memberikan begi­tu banyak tawaran penyelesaian konf­lik. Ketika kita mengalami masalah dalam pendidikan, ekonomi atau juga kesehatan, alam telah menyediakan sumber dayanya yang bisa menghasil­kan uang untuk digunakan dalam rangka penyelesaian soal itu. Ketika manusia menderita karena banyak masalah, alam menawarkan keteduhan dan kesejukannya, dst.

Sayangnya, dimensi ini kurang disadari manusia zaman ini. Kelobaan dan ketamakan menutup segala ruang yang memungkinkan dia untuk ber­pikir jernih. Alhasil, alam dimanfaat­kan sesuka hati, tanpa mempedulikan dampaknya di kemudian hari. Relasi yang harmonis, berubah menjadi tak harmonis; Alam yang dulu dianggap dan dipandang sebagai ‘Ibu’ yang memberi hidup berubah menjadi sumber ketakutan, bencana dan malapetaka. Jelas bahwa kerusakan alam di saat ini merupakan tanda bahwa ada persoalan yang sedang mengidap manusia. Persoalan itu tidak hanya menyangkut kemiskinan atau ketidakadilan, tetapi lebih dari itu juga menyangkut sikap, kebiasaan dan hasrat untuk menguasai sesama, alam dan (bahkan) Tuhan. Dampaknya, keberadaan alam dipandang tidak lebih dari objek demi memenuhi hasrat (kuasa, jabatan dan kekayaan).

Penutup

Realitas ketercabikan alam saat ini merupakan tanda nyata bahwa ada yang tidak beres dengan manusia. Bisa jadi manusia zaman sekarang lagi mengidap penyakit kronis yang ber­sumber pada gaya hidup yang serba instan. Gaya hidup instan inilah yang menyebabkan manusia juga berpikir instan. Ini sangat kelihatan dalam perilaku-perilaku kaum kapitalis yang pikiran dan pekerjaannya menum­puk kekayaan untuk diri sendiri tanpa mengindahkan dampak sosial, ling­kungan, ekonomi dan budaya yang terjadi di tengah masyarakat.

Kearifan lokal masyarakat suku Huwula (3W) memberikan pene­gasan bagi kita di zaman ini bahwa betapa hidup kita sangat dekat dan bahkan tidak bisa dipisahkan dengan alam yang ada di sekitar kita. Alam telah menyediakan begitu banyak hal bagi pemenuhan kebutuhan kita; dan tugas kita adalah menjaga dan mera­watnya secara baik agar relasi saling memberi dan mendukung ini ber­langsung secara berkelanjutan, tidak hanya untuk generasi kita saat ini tetapi juga generasi yang akan datang. Merusak relasi harmonis ini sama artinya mendatangkan malapetaka bagi diri dan generasi selanjutnya. )***

Sdr. Aventinus Jenaru, OFM – Ketua SKPKC OFM Papua

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here