SHARE

JPIC OFM.com – Kesadaran akan mendasarnya relasi antara hak asasi manusia dan lingkungan hidup  secara sporadik terdengar ketika di sana-sini orang memperjuangkan pembebasan sekelompok masyarakat dari dampak buruk kerusakan lingkungan hidup.

Perjuangan aktivis lingkungan untuk sungai atau air bersih, lingkungan yang sehat, melawan korporasi tambang dan sawit, atau perjuangan lainnya, pada intinya dimaksudkan untuk membebaskan manusia (masyarakat), agar tidak menjadi korban dari kerusakan lingkungan hidup.

Hidup yang sehat dan nyaman dalam lingkungan hidup yang utuh, bersih, dan bebas polusi merupakan dimensi utuh dari hak asasi manusia, yakni hak untuk hidup secara manusiawi: sehat dan berkualitas, bebas dari ancaman atau ketidaknyamanan.

Ketika kondisi lingkungan semakin merosot mutunya, riak suara memperjuangkan hak asasi semakin lantang terdengar. Hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi yang niscaya antara kenyaman-an hidup manusia dan keutuhan lingkungan hidup.

Bagi David Seidenberg, persoalan hak asasi manusia dan lingkungan hidup, akan mencapai titik kulminasi, ketika pemanasan global tidak dihentikan secara signifikan, sehingga pada suatu saat kehidupan manusia terancam akibat permukaan laut yang terus menanjak serta mempersempit ruang hidup lapang bagi penghuni daratan, terutama manusia.

Para pengungsi akan membludak menuju tempat yang nyaman, pemerintah akan bekerja lebih keras menyediakan pangan, papan dan tenda-tenda.

Dan sesudah itu memikirkan, ke mana mereka harus ditempatkan? Pokok yang perlu direfleksikan menurut dia adalah mengarusutamakan relasi yang niscaya antara hak asasi dan bumi.

Selama ini, kecenderungan dalam kebijakan publik adalah mengutamakan pemenuhan kebutuhan manusia atas dasar penghargaan terhadap hak-hak asasi, lantas cenderung mengabaikan alam lingkungan.

Jutaan hektar hutan dibabat dan dibakar, demi pembukaan lahan perkebunan yang akan meningkatkan pendapatan Negara, lalu berujung pada kesejahteraan rakyat.

Jutaan hektar lahan dijungkirbalikkan untuk penambangan, atas dasar argumen yang sama, peningkatan pendapatan Negara yang pada gilirannya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pencapaian kesejahteraan masyarakat dari sektor-sektor yang destruktif terhadap alam, nyaris merupakan ilusi. Sebelum kesejahteraan itu tampak, rakyat sudah terkapar akibat hilangnya hutan, polusi air dan udara, mengeringnya sumber-sumber air dan meluasnya lahan-lahan kritis yang tidak bisa lagi menumbuhkan aneka jenis pangan.

Ada yang terabaikan dalam kebijakan pengelolaan sumber- sumber alam kita, yakni suatu cara berpikir yang tak utuh.

David Seidenberg mengurai cara berpikir yang tak utuh itu demikian: Benar bahwa pemenuhan kesejahteraan manusia adalah wujud penghormatan dan penghargaan kepada hak-hak asasi manusia. Tetapi penghormatan dan penghargaan terhadap hak asasi manusia seperti itu, mengabaikan dasarnya yang paling hakiki, yakni hubungan manusia dengan bumi.

Mewujudkan kesejahteraan manusia tanpa memikirkan relasinya dengan bumi adalah kesesatan berpikir atau cara berpikir yang tak utuh. Relasi manusia dengan bumi adalah hakiki dan dari  sanalah lahir fakta-fakta terberikan tentang manusia: keberbedaan fisik, cara berpikir, budya, sejarah, sritual, konsep tentang manusia dan alam, lingkungan flora dan fauna. Semua itu bukanlah produk politik.

Mengutip Shnei Luchot HabritSeidenberg menulis: Adam diciptakan hari keenam, agar dia dapat merangkul segala sesuatu dalam keutuhan keberadaannya sebagai gambar dan rupa Allah. Bumi adalah ruang aktualisasi diri manusia, gambar dan rupa Allah, dan tanpa itu manusia tak dapat hidup dan mengembangkan keberadaannya.

Ketika  pembagunan ekonomi kita dimulai dengan mengeksploitasi alam, atas nama kesejahteraan manusia, maka sesungguhnya kita sedang merancang kehancuran keberadaan kita sendiri.

Mustahil bicara tentang hak-hak asasi tanpa peduli pada keutuhan bumi, Sang Ibu Pertiwi, yang saat ini sedang bersusah sebagaimana digambarkan Laudato Si’ : “sedang menjerit karena segala kerusakan yang telah kita timpakan padanya, karena tanpa tanggung jawab kita menggunakan dan menyalahgunakan kekayaan yang telah diletakkan Allah
di dalamnya”.)***

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here