SHARE

JPIC OFM.com – Akhir-akhir ini banyak permenungan diadakan mengenai martabat perempuan dan hak serta kewajiban perempuan di pelbagai bidang masyarakat sipil dan Gereja. Ada sebuah keprihatinan bersama bahwa hak-hak perempuan diabaikan dalam hampir setiap kehidupan.

Di manapun rakyat ditindas, perempuanlah yang lebih banyak menderita, pertama sebagai bagian dari kelompok yang tertindas dan kedua sebagai perempuan. Ketika orang-orang lapar sering menuntut adat kebiasaan, laki-laki dan anak laki-lakilah yang terlebih dahulu makan, baru setelah itu perempuan dan anak perempuan memakan sisa.

Diskriminasi dalam berbagai bentuk telah merambah ke berbagai bidang kehidupan masyarakat dan dianggap sebagai hal yang biasa dan wajar serta tidak menganggap bahwa hal tersebut merupakan suatu bentuk diskriminasi.

Dalam banyak kebudayaan, perempuan tetap menjadi subjek untuk diatur oleh ayah atau suami mereka dan dapat dipaksa untuk menikah dengan laki-laki pilihan ayah mereka. Hampir dalam setiap kebudayaan, ketergantungan perempuan kepada laki-laki dan inferioritas perempuan terhadap laki-laki dikonstruksi dan dilembagakan secara sosial sedemikian rupa, sehingga tampak wajar-wajar saja bagi perempuan dan laki-laki. Sikap dan praktik semacam itu telah tertanam sedemikian mendalam dalam kebudayaan sehingga sulit sekali untuk berubah.

Masalah perempuan yang mungkin paling berat adalah pengalaman dan perlakuan kekerasan dalam kehidupan keseharian mereka. Hampir di setiap negara, dalam semua kelompok masyarakat, perempuan dipukul oleh suami dan ayah mereka; dianiaya dan diperkosa oleh saudaranya, kenalannya dan orang asing; diganggu dan diintimidasi di jalan, di sekolah dan di tempat kerja.

Luce Irigaray, seorang feminis kontemporer dalam karyanya Aku, Kamu, Kita: Belajar Berbeda (terj.), 2005 – menunjukkan bahwa faktor pemicu diskriminasi adalah pertama, bahasa. Menurutnya, tatanan simbolik-kondisi bahasa pada dasarnya bersifat maskulin dan patriarkal yang bernuansa gender seperti bumi dan bulan (perempuan), langit dan matahari (laki-laki).

Yang simbolik memiliki jenis kelamin laki-laki sedangkan yang imajiner sebagai akibat dari yang simbolik dalam kesadaran dan imajinasi memiliki jenis kelamin perempuan. Makhluk  hidup yang bernyawa dan berbudaya menjadi maskulin, sedang yang tidak bernyawa, yang tidak berbudaya menjadi feminin. Ini menunjukkan bahwa laki-laki, melalui bahasa mengenakan pada dirinya atribut subjek dan merendahkan perempuan ke status objek.

Kedua,  mitos dalam kebanyakan masyarakat menampilkan figur anak laki-laki yang tumbuh dalam keaktifan dan keperkasaan; sementara perempuan dalam figur yang lemah atau lebih rendah dari laki-laki. Sebagai contoh, dalam mitos Jawa peran perempuan terlukis dalam ma-telu (masak, macak, manak: memasak, berdandan, melahirkan) sementara laki-laki dalam ma-lima (main, minum, madat, maling dan madon: judi, minum, mengisap candu, mencuri dan main perempuan). Melalui pola berpikir semacam ini, peran perempuan seolah-olah ditentukan untuk melayani laki-laki.

Maka, dalam dan melalui kesempatan merefleksikan hari perempuan, kita perlu membaharui sikap dan pola berpikir kita tentang pentingnya menaruh perhatian pada martabat perempuan dengan bertolak dari relasi laki-laki dan perempuan dalam kisah penciptaan. Allah menciptakan manusia itu laki-laki dan perempuan untuk mewujudkan dan mengembangkan kreativitasnya. Karena kreativitas bukan saja buah akal budi melainkan juga buah relasi.

Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kej 1:27). “Laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” mau menunjukkan bahwa kemanusiaan itu adalah perpaduan antara laki-laki (maskulinitas) dan perempuan (feminitas).

Manusia bukanlah perempuan semata-mata atau laki-laki saja. Setiap manusia memiliki dalam dirinya unsur feminitas dan maskulinitas. Itulah salah satu sebab mengapa ia kreatif. Manusia adalah gambar Allah ketika mereka satu, ketika ia merupakan persatuan antara laki-laki dan perempuan.

Penciptaan manusia laki-laki dan perempuan juga menunjukkan bahwa perbedaan seks diciptakan dan dikehendaki oleh Sang Pencipta. Keduanya setara karena tiada yang lebih dulu dan tidak ada yang menjadi asal yang lain. Mereka hanyalah dua wajah kemanusiaan, seperti dua sisi mata uang yang sama. Perbedaan gender ini dimaksudkan untuk saling mengisi dan melengkapi agar manusia menjadi semakin kreatif.

Ketika laki-laki dan perempuan ada dalam relasi yang harmonis, ada dalam kesatuan, mereka semakin mendekati gambar Sang Pencipta. Karena ketika laki-laki dan perempuan bersatu (bersetubuh) mereka kreatif (melahirkan anak) seperti Allah kreatif. Masih adakah dalam pikiran ataupun dalam lingkungan Anda terdapat masyarakat yang memandang wanita lebih rendah dari pada pria? Apa yang dapat Anda upayakan untuk mengoreksi pandangan seperti itu?

Sdr. Andreas Bisa, OFM Koordinator Ekopastoral Fransiskan Pagal

SHARE

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here