Marpokot, jpicofmindonesia.comSaat satu kelompok OMK lintas Paroki Fransiskan Flores yang sedang mengadakan kegiatan Temu OMK di Aeramo bersilaturahmi ke masjid dan mengucapkan selamat di Hari Raya Idul Fitri kepada Saudara-saudari muslim pada hari Sabtu, 16/6, Orang Muda Katolik lainnya, dalam kelompok yang lebih besar, mengadakan bakti sosial memungut sampah di sepanjang pantai Marapokot, tidak jauh dari masjid itu.

Keprihatinan di balik kegiatan ini adalah menumpuknya sampah plastik di pantai itu. Apa yang diungkapkan Paus Fransiskus tentang bumi yang hari demi hari makin menjadi tempat sampah besar juga menjadi kenyataan di pantai Marapokot. Sampah plastik mencemari keindahan pantai.

Siang itu teman-teman OMK berhasil mengumpulkan belasan karung sampah plastik. Karena belum ada tempat pengelolaan sampah terpadu, sampah-sampah akan dimusnahkan dengan cara dibakar oleh OMK setempat.

Kepedulian terhadap masalah sampah sebetulnya sudah tumbuh di Marapokot. Hal itu terbukti dengan lahirnya Komunitas Ngopi Peduli pada 2016. Kegiatan utama mereka adalah memungut sampah.
Fredy, OMK Stasi Marapokot, salah satu anggota Komunitas Ngopi Peduli yang hadir dalam silaturahmi siang itu mengatakan“Setiap hari Minggu kami memungut sampah. Awalnya kami dianggap orang gila olah warga di sini. Tapi ketua kami, pendiri komunitas ini, mendorong kami untuk terus melakukan aksi itu.”

Baca Juga: NTT: Nusa Terindah Toleransi

Di komunitas Ngopi Peduli, ulang tahun dirayakan dengan cara yang unik dan menarik. “Saat Ketua kami merayakan ulang tahun ke-29, ia tidak minta macam-macam. Ia hanya minta sampah 29 karung. Sampah-sampah itu dikumpulkan, disiram dengan minyak tanah,dan dibakar sambil kami menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun.”

Aksi pungut sampah berakhri dengan makan siang bersama di pantai. Setelahnya peserta kembali ke Paroki untuk kegiatan berikutnya, menggali lubang tanam di sisi dalam pagar tembok Paroki YKI Aeramo.

Baca Juga: Orang Muda Yang Peduli dan Berbela Rasa

OMK dari empat Paroki Tamu mendapat tugas menggali lima lubang tanam. Setelah itu tiap paroki secara simbolis menanam satu pohon palem dengan harapan: OMK YKI Aeramo sebagai tuan rumah memperhatikannya selama kemarau ini dengan menyiramnya. Di samping itu, mereka juga mesti menanam pohon pada lobang yang telah disiapkan pada musim hujan nanti.

Sdr. Johny Dohut, OFM

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here