Oleh: Andreas B. Atawolo, OFM

Jpicofmindonesia.com –  Iman Kristen menjunjung tinggi martabat manusia. Diyakini bahwa manusia bukan hanya makhluk seperti makhluk pada umumnya. Manusia dimaknai secara khusus. Manusia adalah tanda (signum). Berkat tubuh dan jiwanya, berkat kemampuan nalar, kehendak dan perasaannya, manusia hadir di dunia sebagai tanda dari Penciptanya.

Manusia Sebagai Tanda Allah

Manusia adalah tanda lukisan indah Allah. Seniman Agung menjadikan manusia indah: serupa dengan-Nya. Kedudukan manusia sebagai tanda itu menunjukkan bahwa hubungannya dengan Allah bukan sebuah kebetulan, melainkan sesuatu yang terencana. Manusia bukan makhluk yang sekonyong-konyong ada. Ia diciptakan. Manusia hadir di dunia sebagai makhluk yang dikasihi. Ia tidak terlempar begitu saja. Ia indah!

Manusia adalah makhluk yang indah karena telah dikaruniai kemampuan untuk dapat mengenal Allah, meskipun pengenalan itu bersifat terbatas. Dan justru karena terbatas, maka ia harus berusaha untuk menjadi lebih baik dan lebih utuh. Iman Kristiani meyakini bahwa manusia diciptakan agar ia mengalami kebahagiaan, yaitu tinggal dalam Allah. Allahadalah Kasih. Dan manusia dijadikan agar ia mengalami kasih itu. Dengan kata lain, kasih adalah kerinduan terdalam dalam diri manusia. Tidak ada manusia yang dengan sadar mendambakan kebencian.

Pertanyaannya: siapa itu Allah? Allah bukan hanya penyebab hidup manusia. Tidak cukup mengimani Allah sebagai penyebab pertama; karena jika hanya sebagai penyebab, segala yang buruk dan jahat pun dapat dituduhkan kepada Dia. Allah adalah tujuan akhir ziarah hidup manusia. Allah bukan hanya Pencipta. Ia juga Penyempurna. Santo Agustinus merefleksikan bahwa kerinduan jiwa manusia untuk bersatu dengan Allah itu lebih besar daripada kesatuan dengan dirinya. Sebab, jika Allah mampu menyatukan tubuh dan jiwa manusia, lebih lagi Ia mampu menyatukan manusia dengan diri-Nya.

Manusia: Makhluk Intermediate

Manusia juga sering disebut sebagai mikrokosmos (minor mundus). Sebagai mikrokosmos ia menempati posisi tengah (medium) dalam tata ciptaan, antara realitas korporal (material) dan realitas spiritual, misalnya Malaikat. Bagi Bonaventura, ada tiga substansi ciptaan: dunia spiritual, dunia material, dan campuran antara keduanya. Manusia termasuk dalam kategori yang ketiga. Ia memiliki tubuh dan jiwa.

Terkati posisi tengah manusia itu, Bonaventura menulis: “Tepatlah bahwa Allah menjadikan sesuatu sedemikian rupa sehingga kebijaksanaan-Nya terungkap. Kebijaksanaan seorang seniman terungkap dalam tatanan yang sempurna, dan setiap tatanan tentu terbentuk dari tingkatan: yang paling rendah, yang paling tinggi, serta yang di tengah (intermediate). Jika tingkat paling rendah itu murni bersifat badaniah, dan tingkat tertinggi bersifat spiritual, maka di tengah itu merupakan kesatuan dari keduanya. Kebijaksanaan Allah belum terungkap secara sempurna jika Ia tidak menjadikan ketiga-tiganya. Tepatlah bahwa semua tingkatan itu telah dijadikan”.

Sebagai tanda dari Pencipta yang hadir di dunia, manusia adalah makhluk peziarah (homo viator). Sebagai peziarah ia berjalan (in via) menuju tujuan akhirnya, yaitu tinggal tetap dalam damai, bukan sekedar perasaan damai, tetapi damai batiniah (pacem spiritus), yaitu persekutuan dengan Allah. Ibarat umat Israel yang berjalan keluar dari Mesir menuju Tanah Terjanji, demikian pula manusia berjalan, pergi meninggalkan dunia yang sementara ini untuk mengambil bagian dalam kasih Allah. Selama dalam peziarahan di dunia, pengetahuan manusia akan kebijaksanaan ilahi masih bersifat terbatas, berupa bayang-bayang. Oleh sebab itu pencariannya akan Allah hendaknya terus ia lakukan, sampai ia tiba dalam kesatuan dengan Sang Kebijaksanaan itu sendiri.

Membutuhkan Rahmat Allah

Kiranya menjadi jelas bahwa manusia terus mendambakan Yang Ilahi. Jiwa manusia selalu terarah kepada Allah sang Kasih, Kebaikan Tertinggi. Bagaimana dapat dimengerti bahwa pada manusia terdapat kemungkinan untuk menjadi lebih dekat dengan Allah? Hal itu mungkin karena manusia telah menerima rahmat Allah.

 Daya jiwa manusia bersifat terbatas. Sebab itu keterarahannya kepada wujud yang tidak terbatas (Allah) juga bersifat terbatas. Nah, pada titik batas ini hendaknya manusia membuka diri pada Allah. Rahmat ilahi tentu bukan hasil upaya manusia mencapai kesatuan dengan Allah, melainkan inisiatif Allah sendiri untuk merangkul manusia. Dapat dikatakan bahwa rahmat adalah rangkulan Kebaikan Tertinggi (Allah) kepada wujud yang terbatas (manusia), agar yang terbatas itu menjadi sempurna.

Kerja rahmat tidak terjadi hanya semata-mata oleh jasa manusia. Kepenuhan diri manusia terletak pada kesediaan Allah menyambut jiwa yang rapuh. Bonaventura menulis: “Betapapun siap sedia batin kita, jika tanpa rahmat ilahi, itu hanya ketiadaan belaka”. Dengan kata lain,sukacita manusia menjadi penuh, dan hanya menjadi penuh, ketika Allah Mahakuasa memilih menjadi hina, bahkan mati, agar dosa manusia dipulihkan. Itulah makna misteri Inkarnasi: Allah menjadi manusia agar hidup manusia kembali bermakna.

Keutuhan manusia merupakan tujuan daya rahmat. Dengan rahmat Allah, manusia yang adalah gambaran Allah, menjadi lebih serupa dengan-Nya. Oleh rahmat, relasi manusia dengan Allah semakin intensif. Manusia adalahAllah. Manusia adalah tanda yang indah. Pada saatnya nanti keindahannya menjadi sempurna. Pada saatnya nanti ia berbahagia karena boleh berjumpa dengan Dia yang telah menjadikannya sebagai tanda.

Sumber: www.bernadinusatawolo.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here