Haneen Abdel Khaleq (foto: thelocal.se)

Internasional/Profil__JPIC OFM Indonesia, Tentang masa depan masing-masing hampir pasti tidak mengetahuinya secara pasti. Masa depan itu wilayah abu-abu, samar-samar. Suka atau tidak. Yang terjadi seperti itu. Kita hanya berhak merencanakan sementara yang menentukan adalah sejarah itu sendiri.

Kita bukan penentu utama arah gerak sejarah termasuk sejarah kita sendiri. Ada dimensi X yang tidak mendiami salah satu tempat dalam diri kita. Dia berada di luar tetapi ikut menentukan sejarah kita. Dimensi X itu tidak selamanya Yang Ilahi. Barangkali sejarah bangsa. Sejarah politik. Sejarah ekonomi. Dll.

Demikian halnya dengan yang dialami Hannen Abdel Khaleg. Perang teluk tahun 1990 mengubah bentangan sejarah hidupnya. Juga sejarah masa depannya. Peristiwa 28 tahun silam itu memaksa perempuan berparas cantik itu mengungsi dari tanah kelahirannya, Palestina.

Saat itu, ia masih berusia sepuluh tahun. Tak sepenuhnya ia mengerti sebab musabab situasi tersebut. Ia bersama keluarga dan sejumlah warga Palestina berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mula—mula di Suriah, Yordania, Qatar kemudian berujung di negeri Kanguru, Australia.

Berawal dari Malmö

Haneen__sapaannya__mengerti betul getirnya jadi pengungsi. Untuk Haneen, pengungsi-mengungsi-pengungsian merupakan hal-hal eksistensial. Ia tidak mengetahui hal tersebut dari cerita-cerita orang, berita-berita media, tetapi dialaminya sendiri; pernah tergores membekas dalam lembaran sejarah hidupnya.

Ketika gelombang pengungsi dari Timur Tengah membajiri Eropa beberapa tahun silam, ia ditawari beasiswa untuk mempelajari Migrasi Internasional dan Hubungan Etnis di Malmö University. Kesempatan itu disambutnya karena ia menyadari panggilannya: jadi pembela pengungsi.

“Pada saat itu ada banyak orang yang tiba di Swedia dari tempat-tempat seperti Suriah, dan banyak percakapan terjadi di sekitar pengungsi dan pencari suaka,” kata perempuan berkulit putih tersebut.

“Berada di Malmö, saya dapat melihat dampak perang terhadap perpindahan dan pergerakan orang-orang secara langsung, dan kemudian dapat pergi ke kelas di mana kami belajar tentang itu dan mendiskusikannya dengan cara akademis,” tutur Haneen.

Dia menambahkan bahwa belajar bersama mahasiswa internasional lainnya dari negara-negara di Afrika, Asia, dan Timur Tengah memperkaya pengalamannya sebagai mahasiswa master di Malmö. “Kami dapat berbagi pengalaman dan pendapat kami yang berbeda tentang hal-hal yang sedang terjadi. Keragaman itu benar-benar berharga,” demikian Haneen.

(foto: mau.se)

Di Hadapan Realitas Kompleks Pengungsi

Suram dan kompleks. Barangkali itu kata-kata yang tepat menggambarkan realitas pengungsi. Banyak masalah. Tidak sekadar soal orang lari dari negeri asalnya. Ada realitas pelik yang berlapis-lapis rumitnya.

“Ada begitu banyak masalah yang dihadapi pengungsi di Lebanon; banyak yang berkaitan dengan hal-hal praktis, seperti dokumen hukum mereka. Sangat melelahkan melihat situasi berubah dari buruk menjadi lebih buruk, dan orang bahkan mempertimbangkan untuk kembali ke Suriah, ”katanya.

“Ketika saya mulai bekerja dengan pengungsi lima tahun yang lalu itu sering sangat sulit. Orang-orang akan mengatakan kepada saya bahwa hidup dalam ketidakberdayaan membuat mereka merasa ingin bunuh diri. Bagi saya, menerima banyak dukungan dari tempat-tempat yang telah saya bantu, dan seiring waktu itu menjadi lebih mudah dan saya telah belajar untuk menghadapinya,” tuturnya lagi

Belajar Mengatasi Persoalan adalah Sebuah Proses

Seabrek kesulitan yang dihadapi tidak menyulut semangat titisan Hawa berparas cantik itu. Mencium luka pengungsi di tengah kegetiran hidup di pengungsian dilaluinya dengan penuh antusias. Tak sejengkalpun ia ingin berpaling: “belajar mengatasi persoalan adalah sebuah proses”.

Tujuannya untuk masa depan adalah untuk membawa perubahan pada kebijakan migrasi, tetapi untuk saat ini Haneen mengatakan dia paling nyaman di lapangan, berinteraksi dengan para pengungsi.

“Mungkin sedikit klise, tetapi yang paling penting bagi saya adalah membuat perbedaan, meskipun itu kecil. Orang-orang ini sedang mengalami apa yang mungkin menjadi periode terburuk dalam hidup mereka, dan saya ingin mendukung mereka dengan segala cara yang saya bisa,” tutup Haneen.)***

Rian safio_tulisan ini merupakan saduran bebas dari sumber-sumber yang dikoleksi penulis.

Sumber: https://mau.se/en/news/the-former-refugee-working-with-asylum-seekers, https://www.thelocal.se/20171129/the-former-refugee-working-with-asylum-seekers-malmouniversity-tlccu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here