foto: dokumen pribadi

Jakarta, jpicofmindonesia.com Meski waktu belum menunjuk pkl. 10.00 WIB, banyak umat yang sudah memadati Gereja St. Paskalis Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Sinar surya yang meninggi seolah ikut menyengat semangat umat untuk menghadiri misa terakhir pagi ini, Minggu (7/10).

Namun, kali ini ada yang berbeda. Sebagian umat datang bersama dengan hewan piaraan masing-masing. Mereka datang membawa serta hewan piaraan, seperti anjing, kucing, burung, marmut, ikan dan reptil. Menjelang Misa mulai, total sekitar 64 ekor hewan piaraan berkumpul di pelataran Gereja. Misa ini menjadi puncak dari Masa Liturgi Penciptaan (Season of Creation) yang dimulai sejak 1 September dan berpuncak pada peringatan Hari St. Fransiskus Assisi pada 4 Oktober, orang kudus pelindung ekologi.

Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama Seksi Lingkungan Hidup paroki St. Paskalis, Ordo Ketiga Fransiskan Sekular (OFS) regio St. Paskalis di Cempaka Putih, dan JPIC OFM-Indonesia. Terlihat banyak umat yang sangat antusias mengikuti perayaan tahunan ini.

Ursula Maria Widya Astuti, ketua Seksi Lingkungan Hidup paroki Paskalis, mengungkapkan bahwa Misa pemberkatan hewan pada perayaan puncak Masa Liturgi Penciptaan bertujuan supaya orang dapat menimba spirit hidup St. Fransiskus Assisi yang berani menyapa dan merangkul setiap ciptaan sebagai saudari dan saudara.

Selain itu, menurut Widy, begitu ia akrab disapa, perayaan ini juga mengingatkan manusia yang serakah terhadap bumi, ibu pertiwi. Perayaan ini merupakan doa dan harapan Gereja Katolik untuk bumi, ibu pertiwi yang ‘menangis’ akibat perbuatan eksploitatif manusia yang semena-mena.

“Dengan ini, kita mau mendorong dan mengajak orang untuk semakin peduli, mencintai dan memelihara alam lingkungan dan menjadi sadar bahwa alam bukan sesuatu yang berada jauh di luar sana tetapi menjadi bagian dari diri kita yang membentuk ekosistem kehidupan bersama,” pungkasnya.

Kebiasaan yang harus Dipelihara: Agar Semakin Menumbuhkan Iman Umat

Nixon Tamba, anggota Ordo Fransiskan Sekular (OFS) menyatakan bahwa acara ini telah dirayakan hampir tiap tahun yang membutuhkan partisipasi aktif umat agar mengetahui juga keprihatinan gereja yang luas.

“Perayaan ini telah dirayakan sejak tahun 2012 hingga sekarang. Melalui perayaan ini, umat diingatkan akan keprihatinan Gereja, baik itu soal iman dan moral yang berhubungan dengan manusia, tetapi juga menyangkut kepedulian pada lingkungan dan segenap ciptaan. Puji Tuhan, animo umat sangat positif,” kesannya.

Hal tersebut diamini oleh RP. Jimmy Hendrik Tnomat OFM, pastor rekan, paroki St. Paskalis. Menurut Jimmy, perayaan ini menjadi sarana untuk menggugah kecintaan umat terhadap ciptaan.

“Perayaan ini menggugah kecintaan orang terhadap ciptaan yang ada. Pesertanya tidak hanya berasal dari St. Paskalis karena umat dari paroki tetangga, seperti Katedral, Pulo Mas, dan Kelapa Gading juga hadir. Dua tahun lalu, kami mengadakan Misa pemberkatan tanaman. Mereka membawa beragam jenis tanaman yang indah,” jelasnya.

Selain itu menurut Pastor Jimmy, perayaan ini menjadi kerinduan umat juga terhadap spirit Fransiskan.

“Umat selalu menanyakan, “Kapan akan diadakan lagi Misa (yang peduli lingkungan, red) semacam ini? Ternyata ada antusiasme dan keterlibatan dari umat untuk mengenal dan menghidupi nilai-nilai spirit Fransiskan. Maka, kita selalu merayakannya pada hari Minggu setelah tanggal 4 Oktober agar lebih banyak umat yang dapat terlibat,” tambahnya.

Pastor asal Kefamenanu ini juga berharap agar perayaan ini mampu membangkitkan iman umat.

“Semoga perayaan ini tidak hanya berhenti pada ritual tetapi sekaligus bisa membangkitkan iman orang akan Firman Allah yang hidup dan hadir dalam alam ciptaan. Selain itu, semoga juga menggerakkan orang untuk menjadi pelaku Firman yang terlibat untuk merawat dan memelihara ciptaan yang ada. Spirit persaudaraan St. Fransiskus Assisi turut tertanam dalam diri umat dan niscaya berbuah dalam kesaksian hidup beriman di masyarakat,” harapnya.

Perayaan ini menjawab kerinduan umat. Natasya, salah seorang peserta mengungkapkan kegembiraannya atas perayaan ini.

Super excited ya karena animal blessing seperti ini jarang sekali. Yang pasti bersyukur banget, ternyata bukan cuman kita tetapi piaraan kita juga mendapat berkat dari Tuhan. Saya membawa piaraan saya, Eliot dan Elios. Kemudian ngajak temen dan piaraannya juga, Mika dan Kenji (nama piaraan anjing, red). Apalagi di rumah, mereka udah kita anggap bagian dari keluarga kita. Harapannya, supaya orang-orang lebih aware dan care sama makhluk hidup lainnya,” paparnya.

“Terus, membanggakan banget ya karena bisa ngajak temen lain dari lintas paroki. Terimakasih untuk panitia dan Gereja St. Paskalis yang ngadain acara ini. Semoga tiap tahun acara ini selalu ada dan semakin melibatkan banyak orang agar menjadi kesaksian dalam hidup kita bersama,” ungkapnya.

Misa pemberkatan hewan di Gereja St. Paskalis konsisten diadakan sejak tahun 2012. Pada tahun 2015, berhubung Gereja sedang direnovasi dengan konsep pembangunan gereja hijau, panitia menggantinya dengan Misa pemberkatan tanaman dan lomba Foto: “Me and My Pet.” Kemudian, tradisi Misa pemberkatan hewan ini dilanjutkan kembali hingga tahun 2018 ini.

Kita Semua adalah Saudara dari Ciptaan dan Rekan Kerja Allah

Dalam khotbahnya pastor Kepala Paroki St. Paskalis, RP. Agung Suryanto OFM, menyinggung tentang Misa pemberkatan hewan dan alam ciptaan sebagai ungkapan bahwa kita adalah saudara dari segenap ciptaan.

Dengan nada jenaka, beliau berkomentar, “Itu bukti penghormatan kita kepada hewan dan sekaligus tanaman karena mereka kita panggil sebagai ‘saudara tua’. Bukankah dalam tatanan ciptaan, hewan dan tanaman diciptakan lebih dahulu dari manusia?” ungkapnya disambut tawa umat.

Pastor Agung,  menambahkan ajakan untuk hidup bersaudara dengan menjalankan pertobatan ekologis.

“Mengutip Paus Fransiskus, kita semua harus hidup dalam pertobatan ekologis yang terus-menerus. Tanpa sadar, ternyata dosa yang kita perbuat selama ini turut berdampak buruk pada ibu pertiwi, rumah kita bersama. Jangan sampai lupa akan tugas utama kita sebagai rekan kerja Allah yang turut menjaga keutuhan alam ciptaan yang adalah saudara dan saudari kita,” tutupnya.

Adapun ritus pemberkatan hewan diadakan setelah berkat penutup di halaman Gereja.

Perlindungan terhadap Hewan yang Dilindungi

Panitia juga melibatkan tim dokter hewan dari GloriusZ Pet dalam acara ini. Drh. Arsentina Panggabean, MAP mengungkapkan kegembiraannya karena menjadi pengalaman pertamanya bisa berpartisipasi di Gereja St. Paskalis.

“Bagus banget ya. Gereja Katolik memang luar biasa karena tidak hanya melayani manusia tetapi semua makhluk hidup ciptaan Tuhan, termasuk hewan-hewan ini. Saya seorang Kristen tetapi bukan Katolik. Di Gereja saya belum ada acara seperti ini. Saya appreciate bener acara ini. Karena apapun yang menjadi ciptaan Tuhan harus kita jaga,” ungkapnya.

Drh. Arsentina berharap agar Gereja turut berperan dalam menjaga hewan yang dilindungi.

“Lebih bagus lagi, pihak Gereja ikut menyuarakannya, bahkan turut serta memberkati alam ciptaan sehingga hewan-hewan piaraan ini juga lebih dekat dengan manusia. Maka, yang perlu kita waspadai adalah orang-orang yang membawa hewan-hewan yang dilindungi. Kita arahkan agar orang tidak memelihara hewan yang dilindungi, bahkan meminta untuk melepaskannya ke habitat asalnya,” harapnya.

Selain itu, beliau juga mengharapkan perlunya kerjasama antara Gereja dengan Pemerintah.

“Pemerintah juga mempunyai agenda Peringatan Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional di bulan November. Acara seperti ini sebaiknya mengajak kerja sama sekaligus menginformasikan kepada Pemerintah bahwa Gereja juga memiliki kepedulian terhadap lingkungan hidup,” ungkapnya)***

Sdr. Fransiskus Sulaiman Ottor OFM

4 COMMENTS

  1. Trimakasiiih frater Fresco buat liputannya, semoga Kita semua tergugah dan terus bergerak bagai virus menebarkan kepedulian terhadap makhluk hidup sebagai saudara Dan saudari Kita demi terwujudnya keutuhan ciptaan. Amiiin. God bless us all

    • iya, sama-sama. Proficiat juga untuk panitia yang sudah mempersiapkan acara ini dengan sebaik-baiknya sehingga semua berjalan lancar dan sukses. Semoga makin banyak orang yang semakin peduli terhadap keutuhan ciptaan. Berkat Tuhan.

  2. Terimakasih Fr. Fresco untuk liputannya. Tks juga untuk bu Widhi untuk kerjasamanya. Sukses acaranya Terharu banget. Sekitar 6 tahunan saya ikut acara ini di Paskalis; pada awalnya tidak mudah untuk mengajak umat mengerti arti bersaudara bersama ciptaanNya. Hewan lebih banyak dianggap sebagai pengganggu manusia sehingga bisa seenaknya disiksa, dianiaya hingga cacat atau mati. Kalaupun untuk diambil dagingnya, prosesnya banyak dilakukan dengan sadis. Puji Tuhan dengan kerjasama Romo, Diakon, Frater dan semua pihak yg cinta lingkungan, semakin banyak umat di Paskalis yang peduli pada ciptaanNya bahkan menyebar ke sekitarnya dan tempat yang jauh. Semangat terus…Berkat Tuhan untuk kita semua.

    • Makasih juga ya bu Odilia udah mau berbagi pengalaman. Memang, perayaan pemberkatan hewan jarang dirayakan dalam liturgi kita. Perayaan ini khas dalam tradisi fransiskan dan kiranya sesuai seruan “Laudato Si” makin kontekstual dengan kebutuhan zaman kiwari. Pesan bagi kita semua, kiranya perayaan-perayaan lain yang serupa (pemberkatan tanaman, syukur atas hasil bumi, dll) jangan hanya berhenti pada euforia ritual-formalisme belaka. Namun, memotivasi dan menginspirasi banyak orang agar semakin menaruh rasa-dan-aksi-peduli pada keutuhan alam ciptaan dalam kehidupan keseharian kita semua. Pax et Bonum.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here