foto: sipayo.com

“Tapi jalan hidup tidak selalu sesuai dengan rencana orang yang mau menjalaninya.”

Sastra-JPIC OFM Indonesia, Dua hari yang lalu telah dilaksanakan doa untuk memperingati satu tahun meninggalnya sang istri. Mulyanta setuju pada usul anak sulungnya untuk ikut ke rumahnya. Selama ini Mulyanta tinggal bersama keluarga anak bungsungnya. Tepatnya anaknya itu belum punya rumah sendiri, sehingga sesudah menikah masih tinggal bersama orangtuanya.

“Untuk sementara kursus Bahasa Inggris bisa diserahkan ke teman  Pak. Asal teman Bapak itu bisa dipercaya.”  Sesudah mendapatkan teman yang bersedia menggantikan mengajar di kursus Bahasa Inggrisnya, Mulyanta berangkat ke kota anak sulungnya. Ia memperkirakan di kota itu akan dijumpainya Si Wajah Daun Sirih, gadis masa lalunya. Mulyanta tahu gadis itu sekarang juga sudah menjadi nenek, tinggal sekota dengan anak sulungnya.

 Sore itu Mulyanta memainkan gitar usang sambil bersenandung, duduk di balai-balai bambu di emperan rumahnya. Seorang gadis dengan rok biru tua, blus biru muda, rambut ekor kuda, melintas di depan rumahnya. Siapa dia? Aku belum pernah melihatnya. Begitu pikirnya. Ketika gadis itu sekilas menoleh ke arahnya, tampak  jelas wajahnya yang berbentuk daun sirih. Si gadis terus melaju dengan sepedanya. Mulyanta  melanjutkan memetik-metik senar gitar. Untuk apa kupikir orang yang lewat di depan rumah. Ini jalan umum, semua orang boleh lewat.

Esok hari ketika Mulyanta seperti biasa bekerja di rumah Juragan Mangun, menggambar pola-pola kain batik, dijumpainya gadis itu di rumah Juragan Mangun. Dari pembicaraan para buruh batik, diketahuinya gadis itu adalah keponakan Ibu Mangun. Dua tahun lalu  ibunya meninggal. Ketika kemudian ayahnya mau menikah lagi Ibu Mangun yang tidak dikaruniai anak, meminta kepada ayah Mulyanti -begitu nama gadis itu- supaya keponakannya itu tinggal bersamanya. Begitulah awal mula Si Wajah Daun Sirih  tinggal di desa sentra batik itu.

“Gambarnya bagus sekali,” komentar Yanti sambil berdiri di samping kursi Mulyanta yang sedang menggambar di atas meja, pada selembar kain mori yang nantinya akan dibatik.

“Ini pola Sekar Jagad, jadi gambarnya bunga-bunga, sekaligus ranting-ranting juga daun-daun,” kata Mulyanta bangga karena gambarnya dibilang bagus oleh Si Daun Sirih. Begitulah selama liburan sekolah itu Mulyanta bekerja giat di rumah Juragan Mangun. Bukan hanya supaya bisa mendapat upah banyak, tetapi juga supaya bisa melihat wajah Yanti yang menurut Mulyanta unik, menarik. Yanti sendiri ternyata juga senang belajar membatik. Ia belajar dari buruh-buruh batik yang bekerja pada Budhenya. Tempat kerja pembatik dan tempat kerja Mulyanta itu bersebelahan tanpa sekat.  Sambil belajar membatik, Yanti suka curi-curi pandang ke arah pemuda klas tiga SMA itu. Mulyanta juga diam-diam memperhatikan gadis yang menarik hatinya itu.

Betapa senang hati Mulyanta ketika tahu bahwa Yanti masuk ke SMA yang sama dengan dirinya. Yanti kelas dua, Mulyanta sudah kelas tiga.  Yanti kost di kota, sedangkan Mulyanta tiap hari pulang pergi ke sekolah sejauh 15 kilo meter itu dengan sepedanya. Ibu Mangun sering menitipkan makanan untuk Mulyanti. Jadi ada alasan bagi Mulyanta untuk menjumpai Yanti di sekolah.

Mulyanta anak buruh batik yang ayahnya sudah meninggal  hidup berkekurangan. Tapi simboknya bersikeras supaya Mulyanta sekolah.

“Kamu harus  sekolah Mul, Simbok tak mau kamu jadi penyadap nira seperti bapakmu. Meninggal karena jatuh dari pohon kelapa. Kamu tidak boleh memanjat pohon kelapa.” Keinginan simboknya itu  diikutinya karena Mulyanta sendiri ingin sekolah. Maka ia  sangat rajin bekerja di rumah Juragan Mangun. Bukan hanya menggambar pola, tapi apa saja yang perlu dibantu. Termasuk menjadi kusir kereta kuda yang di desa itu disebut andhong, bila Ibu Mangun  mengantar kain batiknya ke kota. Dari kebaikan Juragan Mangun Mulyanta bisa mencapai kelas tiga SMA. Menjadi hal biasa bila Simbok berhutang ke Juragan Mangun untuk biaya sekolah anaknya.

Rupanya Ibu Mangun mau melatih keponakannya untuk bisa juga mengelola usaha batiknya. Maka di saat libur disuruhnya Yanti mengantar kain batik ke kota, ke toko yang sudah biasa menerima setoran kain batiknya. Membayarkan upah para pembatik,  membeli lilin, alat-alat untuk membatik, dan juga obat-obatan untuk memproses kain batik. Semuanya harus dibeli di kota, Mulyanta akan mengantarkan sebagai kusir andhongnya. Di rumah Mulyanta memanggil Yanti dengan sebutan “Jeng Yanti” seperti halnya para buruh batik menyebut keponakan majikannya. Tapi di sekolah Yanti hanya mau dipanggil dengan namanya.

“Di sekolah kamu panggil aku Yanti saja Mul. Tak usah pakai embel-embel Jeng segala.”

“Baiklah,”  jawab Mulyanta. Kesempatan menjadi kusir andhong untuk mengantar Yanti ke kota dan pulang lagi ke desa menjadi waktu yang sangat membahagiakan Mulyanta. Segalanya seperti jadi bersinar. Jalan-jalan berdebu, sawah ladang, perbukitan di kejauhan, langit biru, mega putih, pohon-pohon, semuanya bersinar, semuanya tersenyum. Mulyanta juga senang mendengarkan  Yanti bercerita. Tentang kejadian di sekolah, tentang ibunya yang telah tiada, tentang apa saja. Mulyanta mengatakan suara Yanti itu seperti suara Srikandi, tokoh perempuan isteri Arjuna dalam wayang kulit. Suara yang mengandung kegembiraan dan berlagu.

“Aku nggak enak duduk di belakang Mul. Seperti orang jalan mundur, pusing aku.” Andhong hanya punya dua tempat duduk. Di depan memang menghadap ke depan, tapi yang di belakang terpaksa menghadap ke belakang, paling-paling hanya bisa duduk miring. Mendengar itu Mulyanta tertawa dalam hati. Kalau mau duduk di depan, aku juga lebih senang, batinnya.

“Baiklah,  kamu yang pegang kendali kuda, aku bisa ngantuk-ngantuk di belakang.”

“Huh …, enak saja.” Sejak itu setiap kali mengadakan perjalanan berdua dengan naik andhong, Yanti duduk di depan, di sebelah kusir. Tetapi hal itu dilakukannya sesudah agak jauh dari rumah. Mereka berdua tetap malu bila dilihat oleh Juragan Mangun dan  para buruh batik, duduk berdampingan dalam andhong.

 Lulus SMA Mulyanta kuliah di kota lain yang lebih jauh lagi dari desanya. Tapi tiap libur selalu pulang, membantu Juragan Mangun dan berjumpa dengan Yanti. Jarak jauh malahan membuat Mulyanta dan Yanti lebih bebas berbicara, lewat surat. Mul, kamu jangan meninggalkan aku ya. Kalau untuk kuliah, itu tidak apa-apa. Tapi jangan meninggalkan aku untuk selamanya. Mulyanta pun menjawab dalam surat. Kalau kamu tidak meninggalkan aku, Yanti, tidak akan pernah terjadi aku meninggalkan kamu.

Tapi jalan hidup tidak selalu sesuai dengan rencana orang yang mau menjalaninya. Lulus SMA Yanti menerima lamaran. Anak pemilik toko batik di kota, yang juga sudah merintis usahanya sendiri di bidang batik. Yanti mengikuti saran Ibu Mangun, yang ternyata juga tahu bahwa keponakannya sebenarnya mencintai Mulyanta.

 “Lamaran sebaik ini jarang terjadi dua kali dalam hidup, Yanti. Biarlah Mulyanta mengejar cita-citanya. Kelak kalau dia sudah selesai kuliah dan bekerja, tak akan kurang-kurang gadis yang mau menerima dia menjadi suaminya.” Meski berurai air mata di kamarnya, Yanti menerima kata-kata Budhenya.

Mulyanta tak menyangka ia begitu cepat bisa berjumpa dengan gadis masa lalunya. Saat itu ia menjemput cucunya yang masih di TK. Ternyata Mulyanti juga menjemput cucunya.

            “Bu Yanti ….”

  “Pak Mul ….” Sementara itu cucu Mulyanta keluar dari kelas dan berlari menuju kakeknya sambil berseru: “Embah Kakung ….” Disusul cucu Mulyanti keluar dari kelas yang sama. Berlari menuju neneknya sambil berseru: “Eyang Putri ….” Sambil menyambut sang cucu, Mulyanta tersenyum dan berkata dalam hati: “Sekarang tidak ada lagi Mulyanta dan Mulyanti. Yang ada Embah Kakung dan Eyang Putri. Tapi Si Wajah Daun Sirih masih ada saat ini, di sini, di depan mataku.”)***

Sr. Maria Antonia SFS___Sukabumi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here