Ulang Tahun Rumah Singgah Kesehatan St. Antonius Padua ke-18, dok. pribadi

JAKARTA, JPIC OFM Indonesia, Rumah Singgah Kesehatan St. Antonius Padua memperingati ulang tahun yang ke-18 pada 17 November 2018. Perayaan  syukurnya dilaksanakan pada Sabtu (24/11). Ulang tahun ke-18 ini dirayakan dalam suka cita  Misa syukur yang dipersembahkan RP Gusti Nggame, OFM.

Perayaan ulang tahun kali ini didahului dengan Misa syukur, meniup lilin kue ultah bersama para pasien serta pengurus inti, dan dilanjutkan dengan makan malam bersama. Acara ini dihadiri pasien, perawat, para saudara muda  (frater Fransiskan, red), umat dari paroki St. Paskalis Cempaka Putih dan Hati Kudus Kramat , dan warga RT/RW sekitar.

pasien dan pengurus Rumah Singgah meniup lilin bersama, dok. pribadi

Dalam Spirit Cinta Kasih Tanpa Memandang Perbedaan

Fr. Theofanus Arito OFM, Ketua Rumah Singgah, dalam sambutannya mengatakan ulang tahun kali ini bertemakan: ‘Cinta Beda Agama’. Ia mengungkapkan bahwa tema ini dipilih sebagai upaya dialogis JPIC-OFM yang diaktualisasikan Rumah Singgah untuk membela hak-hak kaum miskin dalam semangat pelayanan penuh kasih.

Namun, tambah fr. Arito, sapaannya, seringkali tidak mudah karena sentimentalitas agama dewasa ini mejadi tantangan utama pelayanan ini. “Seiring meningkatnya sentimen sekelompok kaum muslim terhadap agama Kristen akhir-akhir ini, ternyata berimbas pada penilaian orang terhadap pelayanan kita. Apalagi, Rumah Singgah ini kan ada di tengah kompleks perumahan mayoritas muslim. Sementara kita menerima semua orang tanpa membeda-bedakan. Tidak hanya yang beragama, yang tidak punya agama pun kami terima,” tandasnya.

Sementara itu, RP Gusti Nggame OFM dalam khotbahnya menyinggung kisah sebuah Gereja yang diberi nama San Francesco a Ripa di Roma-Italia untuk mengenang St. Fransiskus Assisi yang menaruh perhatian khusus pada orang kusta. Di situ terdapat panti yang dikelola para Fransiskan untuk melanjutkan tradisi St. Fransiskus merawat orang kusta sampai kini.

Imam asal Ruteng-Manggarai ini menegaskan, “Saat ini, orang-orang kusta bukan hanya mereka yang terkena sakit kusta. Namun, lebih dari itu “orang-orang kusta” dewasa ini adalah para imigran dan tuna wisma. Mereka adalah “orang kusta” yang membutuhkan uluran tangan kita. Karya Rumah Singgah merupakan bentuk solidaritas kita tehadap orang-orang yang membutuhkan perhatian cinta dan rumah untuk berlindung.”

Kesan dan Pesan 

Di usianya yang ke-18 tahun, ada banyak kesan dan harapan yang muncul dari mereka yang mengenal, terlibat, dan mengalami kasih dalam pelayanan kasih di Rumah Singgah.

Dr. Lindawati Suhalim dan dr. Jose, misalnya, mengaku senang ketika diminta untuk mengecek kondisi kesehatan para pasien meskipun tidak dibayar. “Rumah Singgah ini merupakan contoh karya sosial yang sangat baik. Delapan belas tahun tentu bukan usia yang muda lagi. Harapan saya, sosialisasi visi-misi Rumah Singgah harus lebih digalakkan supaya dikenal luas. Semakin dikenal, semakin banyak orang yang dapat ditolong,” kata dr. Linda.

Dr. Jose menambahkan, “Saya selaku umat Katolik sangat senang dengan kehadiran Rumah Singgah karena menjadi sebuah kesaksian Gereja dalam mensharingkan dan menampilkan wajah kasih Tuhan kepada sesama yang miskin papa. Semoga para frater tabah dan kuat dalam melayani para pasien, khususnya opa-omanya. Saya akui itu tidak mudah. Saya salut.”

Bu May, pengurus harian dan perawat yang sehari-hari melayani di Rumah Singgah mengungkapkan kebahagiaannya, “Saya bahagia dan mensyukuri pengabdian saya di sini sebagai suatu panggilan untuk melayani. Apalagi kehadiran para frater juga meringankan beban saya sebagai penanggung jawab harian para pasien di sini. Harapannya, para frater selalu setia untuk melayani di Rumah Singgah.”

Michellynie Nona, salah satu pasien Rumah Singgah mengungkapkan rasa terima kasihnya: “Saya senang karena sudah dibantu pengurus Rumah Singgah. Di tengah hingar bingar kehidupan keras di Jakarta, ternyata masih ada orang-orang baik yang menawarkan keramahan dan tempat tinggal. Saya bersyukur dan merasa ini sebagai keluarga baruku. Harapannya, para frater semakin setia menjalani tugas-tugasnya. Selain itu, untuk masukan, sebaiknya para frater harus berani tegas terhadap pasien yang rewel. Jangan sampai kemurahan hati para frater membuat pasien menjadi semakin manja. Sebaliknya, para pasien juga perlu sadar bahwa para frater melayani di sini karena kerelaan, jadi engga usah nuntut macem-macemlah…”.

Sementara itu, Jason dan Icha, OMK paroki St. Paskalis-Cempaka Putih, menyampaikan proficiat atas ulang tahun Rumah Singgah yang ke-18. Jason menyampaikan kebanggaannya terhadap para saudara muda, “Keren banget lihat frater-fraternya gak jaim dan kompak dalam melayani opa-oma di Rumah Singgah.” Bayangan selama ini bahwa tugas frater hanya untuk berdoa, kuliah, mengajar katekese, dan memimpin retret/rekoleksi pun sirna. Ternyata, para frater juga mau melayani orang-orang sakit, miskin, dan terpinggirkan seperti di Rumah Singgah.

Senada dengan Jason, Icha menambahkan, “Super excited banget ya bisa lihat para fraternya kompak gitu. Semoga makin dikuatkan dalam panggilannya. Ke depannya jangan lupa untuk selalu melibatkan lebih banyak kaum muda lagi (OMK, red) untuk melayani di Rumah Singgah.”

Sekilas tentang Rumah Singgah Saat Ini

Untuk diketahui, Rumah Singgah Kesehatan St. Antonius Padua beralamat di Jl Tanah Tinggi 3 No 7B, RT06/RW01, Kelurahan Tanah Tinggi, Johar Baru, Jakarta Pusat.

Jumlah penghuni pasien Rumah Singgah tidak pernah stabil. Kadang banyak, kadang sedikit. Hal ini bisa dimengerti karena Rumah Singgah adalah rumah untuk persinggahan. Siapapun bisa datang dalam keadaan terdesak dan bisa pergi kapanpun setelah kondisinya membaik.

Saat ini, ada 5 orang pasien yang tinggal di Rumah Singgah. Pasien harus kembali ke tempat asal bila kondisinya telah pulih. Namun,  keadaan pasien yang sakit, renta, tanpa keluarga dan tempat tinggal, seringkali membuat para pengurus harus menemani mereka hingga saudari ‘maut’ datang menjemput.

Selamat ulang tahun yang ke-18 ya Rumah Singgah Kesehatan St. Antonius Padua. Semoga para pengurusnya tetap semangat melayani Tuhan dan sesama.)***

Sdr. F. Sulaiman Ottor OFM/JPIC OFM Indonesia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here