foto: JPIC OFM Indonesia

REFLEKSI, JPIC OFM Indonesia, Kompetisi  bisa terjadi di mana-mana. Di kantor. Di sekolah. Di kampus. Di organisasi. Di partai politik. Di kontestasi pemilu. Dll. Tetapi, kompetisi dengan cita rasa “saudara” bisa jadi hanya terjadi turnamen JPIC Cup.

Dalam turnamen JPIC Cup 2018 yang berlangsung di Lapangan SMAK Fransiskus Kampung Ambon, Jakarta Timur (28 -29/12), saling sikut dan “sikat” tak terhindarkan. Namun, usai pertandingan, kembali saling berpelukan. Gesekan-gesekan yang terjadi di lapangan dibawa dalam candaan sehingga yang terjadi hanyak gelak tawa. Entah.

Berikut remah-remah refleksi yang berhasil dihimpun jpicofmindonesia.com dari beberapa peserta yang ikut dalam turnamen yang dibuka dan konsisten dilaksanakan sejak tahun 2009 ini.

Pertama, Sdr. Iwan Jemadi (Pemain Tim JPIC): futsal, seperti juga sepakbola umumnya, menurut saya merupakan sebuah perayaan. Kita merayakan anugerah kehidupan, perjumpaan dan persaudaraan. Dalam turnamen JPIC, tiga hal itu selalu saya temukan di samping tentu saja nilai-nilai JPIC itu sendiri. Apa yang terjadi di dalam lapangan, bagaimana setiap saudara bermain, lebih dari sekadar perkara kemampuan untuk mengolah si kulit bundar. Hal yang lebih mendasar tentu saja bagaimana orang mendefenisikan dirinya melalui caranya bermain, sungguh dan sungguh-sungguh atau sekadar main-main.Yang kurang barangkali, kita kerap menganggap remeh hal-hal yang sederhana. Barangkali karena ini turnamen internal dan berskala kecil, sehingga detail-detail sederhana kerap diabaikan.

Kedua, Oswin Co’o OFM (Kapten Tim Padua II): pola yang tampak selalu sama bahwa saat bola bergelinding dan dua tim masing-masing memperjuangkan untuk menjebol gawang lawan dan melindungi gawang sendiri, kesan “dia adalah lawanku” sangat kental, tetapi setelah peluit panjang ditiup, “kita ada adalah saudara yg sedang bersukaria di hari-hari menjelang pergantian tahun, saudara yangg tersenyum dan menyalami yang kuat, begitupun saudara yang berani mengatakan “tahun depan giliran kalian bro” kepada yg belum beruntung.

Ketiga, Efendy Marut OFM (Pemain Tim CDR): animo saudara-saudara muda luar biasa, sangat bersemangat, kompetitif dan turnamen-turnamen seperti ini perlu untuk mempererat relasi antarsaudara lewat canda tawa bersama, senda gurau, obrolan2, dsbx….

Keempat, Alexander Nantu (Pemain Tim JPIC): lebih dari sekadar rutinitas tahunan, turnamen jpic cup ini jadi momen persaudaraan. Yang kita rayakan adalah seluruh diri kita: soal sportivitas, profesionalitas, kejujuran, kerja sama, dsb.

Kelima, Pephit Ngabur (pemain Tim JPIC):  Cukup dinamis. Antusias terhadap turnamen untuk 3 tahun pertama masih tinggi. Setelahnya sempat menurun.Tetapi tahun ini antusiasnya seperti 3 tahun pertama itu. Selalu bangga dengan tuan rumah yg selalu konsisten mengurus laga ini dengan baik dan penuh keseriusan. Sebagai mantan Fransiskan seperti ajang reunian dengan saudara-saudara fransiskan yg lain. Mengenal karakter setiap saudara penting juga melalui laga-laga yangg bernuansa kompetitif seperti ini.

Catatan Akhir

Kalau dikatakan kompetisi dengan cita rasa “saudara” hanya terjadi di turnamen JPIC Cup, seperti yang tertulis di paragraf awal tulisan ini, boleh dibilang lebay. Kecebongnya Jokowi dan kampretnya Prabowo akan mengatakan yang sama: lebay!

Tetapi itulah. JPIC Cup memang unik. Bukan terutama mengejar juara atau siapa yang terbaik, tetapi merayakan persaudaraan. Fransiskus Assisi, yang oleh majalah Time tahun 1994 ditempatkan sebagai tokoh spiritual yang paling berpengaruh di milenium II, mengatakan, yang lain (saudara) adalah anugerah.

Dalam nada yang sama dan mengamini apa yang dikatakan sang santo, menerima yang lain sebagai anugerah maka harus dirayakan. Entah dengan cara apa. Tetapi, JPIC Cup 2018 dan tahun-tahun sebelumnya adalah locus persaudaraan itu dirayakan. Salam damai natal dan bahagia menyambut tahun baru 2019! )***


Editor: Rian safio / JPIC OFM Indonesia

Komentar

Komentar