Ketika Tambang Mencabut Nyawa

0
362
foto: dokumen pribadi

Opini-JPIC OFM Indonesia.com– Harian Kompas selama tiga hari berturut-turut (17-19 Desember 2018) menginformasikan seputar polemik tambang di negeri ini. Menariknya, polemik  seputar pertambangan ini dijadikan sebagai headline news dengan potret kebobrokan tambang yang cukup memprihatinkan publik.

Dua foto dengan ukuran yang cukup besar sebagaimana terpampang dalam halaman utama edisi 17 dan 18 Desember 2018 menjadi narasi bobrok yang perlu disikapi bersama. Dua foto ini memiliki kekuatan untuk mendeskripsikan situasi tambang di negeri ini. Lubang-lubang menganga yang merusak pandangan mata membuat kita bertanya, benarkah tambang membawa berkah atau justru petaka?

Sebagaimana dalam kedua foto itu, di tengah hijaunya hutan, terdapat lubang menganga, yang menanti korban berikutnya. Apabila berpotensi untuk menelan investor tambang, masyarakat yang menggantungkan nasib pada alam pasti akan bertepuk tangan. “Hore…. Para penjahat yang dikira malaikat telah pergi. Kita bebas! Kita bebas!”. Malangnya, lubang yang menganga justru mencabut nyawa rakyat jelata yang tak bersalah.

Data dari Jaringan Advokasi Tambang (Jatam), sejak 2011-2018, terdapat 32 orang meninggal karena tenggelam dalam lubang bekas tambang. Data Jatam juga mencatat bahwa 3.033 lubang bekas tambang termasuk tambang batubara tersebar di seluruh Indonesia. Perusahan terkait tidak berinisiatif untuk melakukan upaya pemulihan terhadap kerusakan lingkungan karena tambang. Selain itu, lemahnya regulasi dan pengawasan yang serius dari pemerintah menjadi catatan kritis yang perlu disikapi bersama.

Jumlah orang meninggal yang cukup besar karena tenggelam di kolam bekas tambang ditambah kerusakan lingkungan yang serius merupakan persoalan bersama yang harus segera disikapi. Berita Harian Kompas pada penghujung tahun 2018 terkait kehadiran tambang menjadi kesempatan bagi publik untuk melihat dan merefleksikan kembali kehadiran tambang di negeri ini.

Apakah tambang membawa berkah atau justru petaka, kita mempunyai mata untuk melihat. Kita mempunyai mempunyai anak dan tentu akan memiliki cucu. Mereka akan kehilangan tempat bermain ketika di sekeliling mereka hanyalah lubang, bekas peninggalan investor tambang. Pasokan air bersih akan menipis ketika hutan menjadi kolam renang investor tambang. Mari membuka mata!)***

Sdr. Arsy OFM (Calon imam Fransiskan tinggal di Komunitas St. Antonius Padua, Cempaka Putih, Jakarta Pusat

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here