Para Fransiskan di Vihara Budhist

0
312

Tanggal 10-14 Des 2018 ada 17 saudara OFM dari Indonesia, Korea Selatan, Malaysia, India, Myanmar, Thailand, Vietnam, Filipina, dan Amerika. mengadakan retret di Vihara Plum Village di Pak Chong Thailand.

Retret ini atas inisiatif Pastor John Wong OFM dari Komisi Dialog Antar Iman Generalat OFM di Roma yang sudah 5 kali ikut retret di Plum Village Thailand dan 2 kali di Plum Village Perancis di dekat Bordeaux.

Dialog Katolik Budha

Tujuan retret adalah membangun dialog Katolik dengan Buddha lewat retret bersama di vihara Buddhist. Biksu Goh dari Singapura menjelaskan sejarah agama Buddha. Biksu Phap Min menjelaskan 4 Noble Truths dan 8 Folded Noble Paths yang merupakan inti ajaran Sang Buddha untuk transformasi penderitaan.

Para Fransiskan berpose bersama

Para Saudara OFM diberi kesempatan untuk juga sharing St Fransiskus Assisi di hadapan sekitar 160 biksu dan 50 peserta yang sedang retret di Plum Village. Pastor Tom Herbst OFM dari AS menyampaikan refleksi berupa dialog imajiner St Fransiskus Assisi dengan Sang Buddha. Sementara itu, Pastor Francis Lee OFM dari Korea menyampaikan bagaimana kesamaan nilai ajaran Buddha dengan ajaran St Fransiskus Assisi.

Sepasang suami istri dari Jepang yang mengikuti kegiatan tersebut mengatakan sangat terpesona dan bersyukur boleh mengalami bahwa imam Katolik dan biksu Buddha bisa saling memahami dan bekerjasama dalam damai.

Lima orang dari Eco Camp Bandung juga diundang utk mengikuti retret Buddhist di tempat ini. Beberapa orang dari Eco Camp sdh pernah retret di Plum Village Perancis dan menggunakan beberapa latihan sadar penuh dalam kegiatan Eco Camp. Tema retret adalah “interfaith dialogue building brotherhood and sisterhood.”

Retret dimulai dengan minum teh bersama dengan refleksi bahwa di dalam secangkir teh ada benih teh, awan, dan matahari. Biksu Phap Min menjelaskan bagaimana banyak kemiripan ajaran Yesus Kristus dengan Sang Buddha. Ketika dua tiga org berkumpul dalam nama Tuhan di situ Tuhan hadir. Ketika Sangha berkumpul di situ Sang Buddha hadir.

Dalam retret ini peserta bangun pukul 4 pagi dan mengalami sitting meditation, chanting, walking meditation, eating meditation, mindfulness practices, dan sharing happiness berdialog antara dua tradisi yaitu Katolik dan Buddhist utk membangun persaudaraan sejati.

Peserta retret dari Vietnam dan dari Eco Camp pada tanggal 16 Desember masih sempat menghadiri penerimaan 7 novis wanita dan 4 novis pria yang disebut ordination of monk dengan mengucapkan 10 kaul yang intinya adalah hidup sederhana, selibat, taat, vegetarian, menghindari kemewahan, dan setia berlatih nilai nilai Buddhis. Mereka menerima nama baru, jubah, dan dipotong habis rambutnya disaksikan semua biksu dan keluarga.

Dari retret ini para Frasiskan dan peserta dari Eco Camp mengalami indahnya persaudaraan, hidup sederhana, keheningan, makan vegetarian, mengolah penderitaan, dan banyak nilai lainnya.

Sdr. Jhon Wong, OFM sedang menyampaikan presentasi

Tahun 2019, Pastor Michael Peruhe OFM, Provinsial OFM Indonesia, menyampaikan rencana refleksi 90 tahun OFM di Indonesia dan 800 tahun pertemuan bersejarah St Fransiskus Assisi dengan Sultan Malik di Mesir yang menjadi tonggak dialog antar iman yang sangat bersejarah.

Membangun Persaudaran

Retret di Thailand bersama para biksu Plum Village dan berbagai kegiatan lain adalah upaya membangun persaudaraan sejati dan nilagi nilai kesederhanaan dari berbagai tradisi agama dan iman.

Vihara Plum Village di Perancis, Thailand, AS, Jerman, dan Hongkong didirikan Biksu Thay Thich Nhat Hanh yang sekarang berusia 92 tahun dan karena sakit sdh kembali ke Vietnam. Biksu Thich Nhat Hanh menulis puluhan buku yang luar biasa, antara lain “Going Home : Jesus and Buddha as Brothers” , “Living Buddha Living Christ”, How to Love, Peace, Mindfulness Practices, No Mud No Lotus, dll yang sebagian besar sdh diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Ada 14 mindfulness training. Saya sangat terpesona dengan 3 yang pertama yaitu openness, non attachment to views, dan freedom of thought. Kalau kita mau melatih tiga prinsip ini maka kita akan menjadi orang yang terbuka, tidak berpikiran sempit, tidak akan memaksakan pikiran kita, dan selalu mau belajar hal baru dan menghormatinperbedaan pendapat.

Prinsip ini dari agama Buddha tapi lihatlah bahkan ditulis jangan fanatik bahkan dgn ajaran Buddha.

Ayo kita bangun dunia baru di mana kita belajar terbuka karena kita menghargai bahwa kebenaran bisa tumbuh di mana mana dan tidak seorangpun atau suatu kelompok menguasai kebenaran. Justru perbedaan akan memperkaya dan memperindah kehidupa bersama.

RD Ferry – Eco Camp Bandung

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here