Foto: http://plusarquitectura.info

Stories are the secret reservoir of values: change the stories that individuals or nations live by and you change the individuals and nations themselves. (Ben Okri, 1996:21)

Obral Ide, JPIC OFM Indonesia. Bagi orang kebanyakan di negara kita, Arunachalam Muruganantham mungkin terdengar seperti sebuah mantra. Siapa yang menduga ternyata itu adalah sebuah nama. Oleh majalah Time nama ini dimasukkan dalam daftar 100 orang berpengaruh pada tahun 2014.

Siapa dia sebenarnya? Jika merujuk pada kutipan dari Ben Okri di atas, Arunachalam kiranya termasuk dalam orang-orang yang berusaha mengubah kisah yang dihidupi di lingkungannya yang memasung kaum perempuan, terutama perempuan yang paling dekat dan dicintainya, yaitu istri dan saudari-saudarinya. Arunachalam ingin “menulis” kisah baru di daerahnya terkait cara pandang masyarakat terhadap menstruasi.

Oleh sutradara India, R. Balki, kisah hidup Arunachalam kemudian dijadikan film berjudul Padman (2018). Dalam film tersebut dikisahkan bagaimana perjuangan Arunachalam dalam membuat pembalut yang murah tetapi dengan kualitas yang sama dengan produksi pabrik besar. Dengan melihat tahapan proses produksi yang terjadi di pabrik melalui internet, Arunachalam akhirnya memutuskan membuat sendiri mesin penghasil pembalut.

Namun, tantangan besar yang dihadapinya adalah sesuatu bernama “tradisi”. “Biarkan wanita mengurus apa yang menjadi masalah kaumnya”, kira-kira demikian bunyi tradisi yang hendak didobraknya. Sebuah narasi yang terlanjur kokoh karena diterima begitu saja oleh masyarakat di lingkungan Arunachalam dan terlarang untuk dipertanyakan.

Baca juga: Erwiana Sulistyaningsih: dari Korban Jadi Pejuang Hak Buruh Migran

Tradisi memang tidak selalu bisa dilacak kemunculannya. Apa yang pasti ialah tradisi senantiasa memakai narasi tertentu agar dapat bertahan hidup dan dipercaya oleh mereka yang menerimanya dan mengarang suatu narasi tertentu telah menjadi bagian dari hidup manusia sebagai makhluk berbahasa yang mengalami mutasi pohon pengetahuan.

Yuval N. Harari dalam bukunya Sapiens berpendapat bahwa letak keistimewaan bahasa kita terdapat pada keluwesannya. “Kita bisa menelan, menyimpan, dan menyampaikan banyak sekali informasi mengenai dunia di sekitar kita…namun informasi terpenting yang perlu disampaikan adalah tentang manusia, bukan tentang singa dan bison.

Bahasa kita berevolusi sebagai cara bergosip.” Meski demikian, pandangan ini segera pula ditepis. “Apa yang justru istimewa dalam bahasa manusia ialah kemampuannya menyampaikan informasi mengenai hal-hal yang tidak ada…kemampuan untuk membicarakan soal fiksi ini adalah ciri paling khas bahasa sapiens

Anda tidak akan pernah bisa meyakinkan monyet untuk menyerahkan sebatang pisang kepada Anda dengan menjanjikan kepadanya pisang dalam jumlah tak terbatas di surga monyet setelah ia mati.” Namun fiksi, menurut Harari, telah memungkinkan kita bukan hanya untuk mengkhayal ini-itu, melainkan melakukannya bersama-sama. Tantangannya ialah bagaimana meramu sebuah kisah yang efektif dan membuat orang lain untuk mempercayainya.

Baca juga: Politik Jender

Sampai di sini, saya kira pada dasarnya kita semua diperbolehkan untuk ragu dan dimungkinkan untuk curiga pada segala hal, khususnya pada setiap kisah dan narasi-narasi yang disebar dan tumbuh serta menjalar di sekitar kita. Sebab, ada begitu banyak kisah dan narasi yang sebenarnya tidak sungguh-sungguh kokoh untuk dipertahankan dan tidak harus selalu dipercaya begitu saja. Ada begitu banyak cerita yang meneguhkan dan membuat orang lain menjadi bijak, tetapi ada juga yang berujung pada tipu daya. Misalnya, ketika Anda mengaku dipukul ternyata baru saja melakukan operasi plastik.

Saya pikir penting untuk membaca dan memahami kembali arti tradisi sebagai suatu “Engkau” sebagaimana diuraikan oleh Hans-Georg Gadamer yang diringkas dalam uraian tentang kata Bildung. Kata Bildung dapat dijelaskan sebagai hasil proses formatif dan transformatif yang diperoleh lewat belajar yang tentunya tidak sekadar kognitif melainkan holistis, yaitu menyangkut seluruh diri manusia. Mungkin proses itulah yang dialami Arunachalam dalam perjuangannya membuat pembalut murah sebagaimana terungkap dalam film Padman.

Sebuah proses formasi dan transformasi ketika mengalami perjumpaan dengan yang lain sebagai “Engkau”. Keutamaan yang lahir di sini saya kira ialah sikap mendengarkan dan berusaha memahami yang lain dalam keberlainannya berbicara. Lantas, bagaimana dengan mereka yang selalu men-dungu-kan orang lain? Mungkin mereka itu perlu didengarkan dan berusaha dipahami dalam ke-dungu-annya berbicara.***

Sdr. G. F. W. Ranus, OFM

Komentar

Komentar