Fakta dalam Fiksi “Kehidupan di Dasar Telaga” (Telaah Awal dari Perspektif Feminisme)

0
416

jpicofmindonesia.com – Topik ulasan ini diinspirasi kehadiran tokoh Arum dalam cerpen “Kehidupan di Dasar Telaga” karya S Prasetyo Utomo (Kompas, 12 Februari 2017). Meskipun berwujud fiksi, usai membaca cerpen itu terbersit pertanyaan:  apakah Arum, tokoh perempuan yang dihadirkan dalam cerpen itu, merupakan representasi ‘kekalahan sekaligus kemenangan’ perempuan di dunia nyata?

Pertanyaan ini menggugah penulis untuk melawat lebih jauh dengan melacak ‘realitas’ yang dilukiskan dalam fiksi itu, pertama-tama dengan mengumpulkan sejumlah artikel hasil penelitian dan menelusuri berita dari media online, lalu mengaitkannya dengan unsur intrinsik dan ekstrinsik cerpen untuk merefleksikan realitas sosial yang ada. Argumentasi dasarnya, sebuah cerpen, sebagaimana bentuk karya sastra yang lain, lahir dari rahim perasaan dan pemikiran kreatif pengarangnya yang bersumberkan realitas sosial (Nurgiyantoro, 2010).

Dalam memaknai cerpen itu, penulis menggunakan pendekatan kritik sastra feminisme. Pendekatan ini memfokuskan analisis kritisnya terhadap teks yang menempatkan perempuan sebagai “tokoh”. Dalam paradigma ilmu sastra, kritik sastra feminisme sangat revolusioner karena terbukti dapat menumbangkan wacana yang  telah lama mapan dibentuk oleh budaya patriarki. Apakah cerpen “Kehidupan di Dasar Telaga” mengisahkan realitas?

Ulasan ini bermaksud menyibak fakta dalam fiksi: realitas gunung Kemukus. Sehubungan dengan itu, di sini disarankan agar pembaca terlebih dahulu membaca “Kehidupan di Dasar Telaga” dengan menelusurinya di internet menggunakan kata kunci: “cerpen kehidupan di dasar telaga”.

Realitas Gunung Kemukus

Cerpen “Kehidupan di Dasar Telaga” diawali dengan sebuah istilah, sobrah. Oleh pengarangnya, sobrah diberi footnote sebagai “seorang perempuan yang mencari berkah di Gunung Kemukus, setelah ziarah ke makam Pangeran Samodra, dengan jalan berhubungan intim dengan lelaki yang bukan suaminya”. Keterangan ini mengantar penulis untuk mencoba menyelami lebih dalam makna cerpen itu, dan menghubungkannya dengan realitas gunung Kemukus. Tentang hal itu, artikel Mutiara Andalas, “Allah sebagai Kekasih: Narasi Iman Perempuan Pedhotan di Gunung Kemukus” (2016) banyak menginspirasi penulis untuk mencoba merefleksikan makna lebih dalam cerpen itu.

Oleh Mutiara Andalas, realitas gunung Kemukus dibingkai dalam refleksi teologis “epistemologi tubuh yang remuk”. Sementara itu, penulis mendapatkan berita ini dari media online yang melukiskan realitas Gunung Kemukus. Berikut dikutipkan sepenggal berita, “Lokasi wisata Gunung Kemukus di Sragen, Jawa Tengah, dikenal mempunyai daya tarik tidak biasa. Para wisatawan yang datang pasti mempunyai tujuan khusus. Mereka kerap berdalih melakukan ziarah, namun malah asyik berzinah. Ziarah biasanya dilakukan wisatawan di depan makam Pangeran Samudro. Makam ini dianggap keramat bagi penduduk sekitar. Namun, para pengunjung percaya bila ingin pesugihannya lancar (sich!) harus melakukan pesta seks di daerah ini.” (Merdeka.com, 29/6/2016).

Bersanding dengan narasi cerpen, realitas senyatanya diukir elok di dalam “Kehidupan di Dasar Telaga”. Dalam “Kehidupan di Dasar Telaga”, realitas sebagaimana diberitakan media itu dihadirkan pengarangnya melalui narasi dan dialog. Narasi dan dialog yang dihadirkan pengarang menyingkap dengan samar realitas gunung Kemukus. Inilah prolognya, “Perahu meluncur pelan meninggalkan daratan, menyibak biru air telaga.  …  Ada makam seorang kekasih, seorang pangeran dan ibu tirinya yang melarikan diri dari keraton, dikuburkan di puncak bukit itu. Orang-orang menyeberangi telaga, mendaki bukit, ziarah ke makam sepasang kekasih itu, mencari berkah.” Lalu, berzinah?

Tunggu dulu! Tokoh sentral perempuan dalam cerpen itu adalah Arum. Tampak bahwa pengarang cerpen tidak secara eksplisit melukiskan latar belakang kehidupan Arum. Akan tetapi, dari narasi dan dialog yang ada dapat terbaca bahwa Arum telah meninggalkan suami dan anak-anaknya. Hal itu berarti, Arum telah mengambil suatu keputusan yang ‘gawat’ berkaitan dengan kehidupannya: ia memilih untuk ziarah bersama Suman, tokoh lelaki di dalam cerpen itu, justru karena Suman tampak lebih membuka diri terhadapnya. Ini narasinya, “Kali ini Arum merasa lebih mengenal perasaan Suman daripada perasaan suami yang ditinggalkannya. Suman tak sungkan-sungkan membongkar rahasia hidupnya di masa lalu. Ia mengakui tak selesai kuliah arsitektur lantaran tak memiliki biaya, memulai hidup sebagai mandor bangunan—sebelum kemudian pelan-pelan menikmati kerja sebagai pemborong….”

Keterbukaan Suman terhadap Arum tampaknya lebih dilihat sebagai suatu penghormatan dan penghargaan Suman bagi dirinya. Dalam hal ini, Suman memiliki satu keunggulan khusus: “keterbukaannya terhadap Arum” bila dibandingkan dengan mantan suami Arum yang dikisahkan tampak lebih gagah dan tangguh namun ‘kering’. Arum rupanya tidak sekadar terampil menilai informasi baru tetapi juga punya kebutuhan psikologis untuk menyayangi dan disayangi (bdk. Tuapattinaya dan Sri Hartati, 2014). Bila hal itu dikaitkan dengan realitas di Gunung Kemukus, keputusan Arum sesungguhnya merupakan representasi dari kehidupan kebanyakan perempuan yang datang berziarah, ia bukan sobrah, pedhotan (bdk. Andalas, 2016).

Pertanyaannya, adakah alasan bagi Arum, juga alasan bagi Suman, untuk sama-sama datang berziarah ke ‘tempat suci’ itu? Pertanyaan di atas dapat dijawab manakala diurai lebih dahulu ‘konteks budaya’ (faktor ekstrinsik) yang ikut membingkai fiksi. Pengarang cerpen ini adalah orang Yogyakarta. Latar tempat dan budaya cerpen ini dibingkai pula dalam budaya Jawa (tengah). Tokoh perempuan yang dihadirkannya pun adalah ‘perempuan Jawa (tengah)’.

Dalam kajian Ambarsari, dkk. (2016) dicatat bahwa keberadaan Gunung Kemukus sangat penting bagi sebagian orang Jawa Tengah yang memiliki kepercayaan terhadap leluhurnya, terutama untuk mendapatkan berkah, kekuasaan, keselamatan, kekayaan, kemakmuran, bahkan jodoh. Tidak heran, kebanyakan orang yang datang ke sana memiliki misi “meminta restu” karena gagal dalam perkawinan.

Jika  hasil kajian Ambarsari, dkk., ditautkan dengan “Kehidupan di Dasar Telaga” yang melukiskan bahwa Arum dan Suman berziarah ke tempat itu dapatlah dilacak bahwa keduanya, rupa-rupanya, datang mencari pesugihan berdasarkan ‘kepentingan’ masingmasing. Di satu pihak, Suman ingin memperoleh berkah dan kekuasaan mengingat latarnya sebagai orang yang gagal masuk calon walikota, juga pernah memiliki seorang isterinya yang cacat fisik,  lalu cerai. Di sisi lain, Arum hendak memastikan bahwa Suman adalah orang terakhir yang akan mengisi kehidupannya setelah gagal menghabiskan bahtera rumah tangga bersama suami sebelumnya. Di sinilah, keduanya ‘dipertemukan’ lantaran kepentingan ‘jodoh’ mengingat masing-masingnya telah gagal total dalam menjalani bahtera rumah tangga sebelumnya.

Interpretasi di atas dibuktikan dengan barisan katakata dalam cerpen, “Bertemu dengan juru kunci yang berwajah keriput, berpakaian lurik, Arum merasa tenteram. Lelaki tua itu menerima siapa jua dengan senyum tulus. Sepasang matanya tak menyembunyikan kepurapuraan. Dari bibirnya senantiasa mengepul asap rokok kretek. …. Juru kunci itu sangat santun pada Suman, seperti sudah mengenal sangat lama. Tetapi Arum tak berani menyingkap keakraban ini menjadi sebuah kesimpulan: Suman sering ziarah ke makam ini. Tentu tidak ziarah seorang diri. Dia datang ke makam ini bersama perempuan sobrah? Lama Suman berdoa. Matanya terpejam, seperti ingin membebaskan segala kesialan hidup di masa lalu.”

Narasi di atas sekaligus memperlihatkan bahwa Arum tampak jeli melihat alternatifalternatif yang ada sebagai dasar pengambilan keputusan. Bagi seorang ibu, meninggalkan suami dan anak-anak itu tidak semudah membalik telapak tangan. Akan tetapi, Arum tampak tegar. Ia memilih “berziarah” ke tempat itu sebagai solusi bagi sisi lain hidupnya: ia mau menjalani kehidupan bersama Suman. “Ziarah” dilihatnya sebagai suatu alternatif pemecahan masalah pribadinya. Ia memiliki komitmen untuk tidak dijadikan sobrah oleh Suman, tetapi lebih sebagai pasangan hidup. Perhatikan dialog keduanya, [Suman]: “Di sekitar sini banyak penginapan. Kita bisa bermalam.”  [Arum]: “Menginaplah sendiri. Aku akan turun ke kota.”

Narasi dan dialog di atas memperlihatkan bahwa Arum memiliki ketegasan soal komitmen. Komitmen, dalam hal ini, merupakan tanggung jawab moral, lebih dari sekadar sebuah ‘kontrak’. Ketika banyak orang, laki-laki dan perempuan – dalam fakta dan fiksi– datang ke tempat itu dengan tujuan mencari pesugihan karena beredarnya mitos wasiat Pangeran Samodra dan Dewi Ontrobulan tentang kewajiban untuk berhubungan seksual dengan peziarah lain yang bukan pasangan hidupnya sebagai syarat pelengkap ‘doa’, tokoh Arum justru dilukiskan sebagai tokoh yang murni datang berziarah, enggan untuk menjadikan dirinya (atau dijadikan) sebagai “sobrah”.

Benang Simpul

Fakta-fakta yang dikumpulkan penulis dari sejumlah artikel jurnal dan berita online menyibak takbir bahwa tokoh Arum yang dihadirkan dalam “Kehidupan di Dasar Telaga” adalah tokoh yang memperjuangkan harkat dan martabatnya sebagai perempuan dan ibu. Ia merupakan representasi yang sesungguhnya dari para perempuan di dunia nyata yang senantiasa berupaya untuk bertanggungjawab terhadap dirinya, mampu memecahkan masalah pribadinya, dan mampu mengambil risiko tanpa melibatkan diri di dalam praktik-praktik sesat yang merendahkan martabat dirinya.

Perjuangan Arum dalam pergulatannya pada setiap keputusan sekaligus merupakan representasi dari realitas seorang ibu pedhotan di Gunung Kemukus sebagaimana temuan Mutiara Andalas: “Seorang ibu pedhotan bersuami yang menyewakan bilik penginapan ambil inisiatif menyelamatkan para perempuan remaja dengan memulangkan mereka ke rumah orangtua. Ratapan perempuan di bawah umur menggerakkan hati ibu ini untuk menyelamatkan mereka dari ancaman eksplotasi jika mereka memilih tinggal di Kemukus lebih lama.”

Temuan Mutiara Andalas ini sekaligus mengungkapkan bahwa keputusan ibu pedhotan itu sesungguhnya merupakan sebuah keputusan yang didasarkan pada pertimbangan nurani. Keputusannya merupakan upaya keberpihakannya pada perempuan, suatu keputusan yang secara tepat merepresentasikan keterlibatan perempuan dalam memperjuangkan harkat dan martabat kaumnya. Inilah benang simpul “fakta di dalam fiksi”.)***

Antonius Nesi, Pendidik di STKIP St. Paulus Ruteng, Flores, NTT

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here