Pendidikan Karakter: MRT dan Budaya Antri

0
285
Sdr. Darmin, OFM

Oleh: Darmin Mbula, OFM

JPICOFM.com – Hari Minggu, 24 Maret 2019,  Moda Raya Terpadu (MRT)  diresmikan oleh  Bapak Presiden RI Joko Widodo. Kita bangga dan bahagia sebab Jakarta, kota metropolitan kini telah memiliki  MRT yang merupakan  simbol kemajuan di bidang Transportasi di era 4.0 dan Society 5.0.

MRT ini kurang lebih dimimpikan sejak 30 tahun yang lalu, kini warga Jakarta menikmatinya sebagai sebuah “greening trasportation.”

Pada kesempatan ini, Presiden Joko Widodo memberikan pesan dengan suara  yang sangat jelas dan tegas serta berwibawa bahwa siapa yang setuju dengan kehadiran MRT silahkan menunjuk jari. Ia juga memberikan pesan agar para penumpang harus belajar berdisiplin, belajar untuk membiasakan budaya antri, jangan berdesak desakan dan berebutan seperti sekarang ini;  dan belajar untuk merawat kebersihan; jangan membuang sampah di MRT ini.

Meskipun, mungkin kita tidak pernah sempat menikmati MRT ini, ingatan akan tiga pesan ini amat penting bagi  kita semua sebagai warga tanah air Indonesia yang elok dan subur. Bagi saya,  pesan ini disebut sebagai “green speaks”, sebuah suara yang membuat rumah tangga, tetangga, komunitas , sekolah kita terasa sejuk, damai dan sejahtera.

Betapa tidak,  sejak dari rumah dan di sekolah dan lingkungan sekitar kita, di jalan dan di tempat tempat umum, kita disadarkan untuk membiasakan seluruh perilaku hidup kita  mulai sekarang dan di sini dengan  budaya disiplin, budaya antri dan budaya kebersihan ( tidak membuang sampah sembarangan).

Manusia dari sebuah bangsa dikatakan maju, berhikmat dan bermartabat dapat dilihat dan diukur  dari kebiasaanya untuk hidup tepat waktu, tidak menunda-nunda pekerjaan dan  menepati janji.

Baca Juga: 

Mengintegrasikan Ajaran Sosial Gereja Dalam Pendidikan Katolik

Pendidikan Ekologis di Indonesia

Berdisiplin diri berarti menghargai waktu sebagai kesempatan penuh rahmat untuk menunjukkan rahmatan lil alamin; menghargai waktu sebagai kesempatan untuk menaburkan kebaikan, belaskasih sehingga semua orang merasakan hidup penuh damai dan sejahtera.

Orang yang disiplin pasti menghargai waktu sebagai cinta kasih sebab tak pernah terlambat untuk memberikan senyum, ucapan ramah tamah, dan mengampuni serta memaafkan dengan penuh iklas dan tulus. Orang yang disiplin adalah orang yang tidak menyia-nyiakan hidup ini dengan ujaran kebencian yang rasialis, dengan meracuni demokrasi deliberatif dengan politik uang dan politik identitas."

Pribadi yang disiplin pastilah orang yang mau berkomitmen dan konsisten membangun manusia Indonesia yang berhikmat dan bermartabat, membangun peradaban kasih persaudaraan sebagai jati diri negara kebangsaan Indonesia.

Ketika orang indonesia tidak suka antri sebenarnya mencerminkan kepribadiaan bangsa kita yang suka banget melanggar hak asasi orang lain. Dengan tidak mau antri, kita tidak menghargai diri kita sendiri dan melanggar hak orang lain.

Bercakap-cakap, dan baca buku serta swafoto, adalah cara lain mengusir kejenuhan dalam sebuah antrian yang panjang.

Presiden juga menegaskan bahwa jangan membuang sampah dan mencoret coret. Orang indonesia suka  sekali membuang sampah sembarangan di tempat umum, di lapangan, di jalan, di kali, di toilet. Agak malas untuk mencari tempat sampah dan menaruh sampah pada tempatnya.

Selain memiliki mentalitas dan perilaku menaruh sampah pada tempatnya sesuai dengan penunjuk mana sampah organik, dan non organik atau mana sampah plastik, kaca, kertas dan basah; juga penting mulai membiasa keterampilan untuk mengolah sampah menjadi pupuk organik atau mendaur ulang.

Budaya menjaga kebersihan merupakan tanda dan sarana untuk menjaga alam bumi kita sebagai rumah kita bersama. Dengan menjaga budaya kebersihan, kita menjaga udara yang bersih, air yang bersih, tanah yang subur dan pohon pohon yang hijau sejuk dan pada gilirannya hidup kita sehat, tidak mudah stress, marah-marah dan cepat tersinggung.

Dengan tiga pengingat yang berkaitan dengan budaya disiplin, budaya antri dan budaya kebersihan, Joko Widodo mau memandang MRT ini bukan saja sebagai transportasi doang, tetapi sebuah simbol manusia Indonesia yang berbudaya dan berkeadaban kasih persaudaraan sebab di dalamnya kita merasakan sebagai sesama saudara sebangsa setanah air dalam perjalanan.

Proficiat, MRT sudah jadi, itulah Indonesia tanah airku yang subur, disiplin, ramah, senyum, suka antri dan penuh pesona keelokan.***

Inakoran.com

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here