Dialog Imajiner Partai Margasatwa

0
202

ITIK: Kami merasa heran saja, koq nenek moyang manusia itu Kera ya? Aneh tapi nyata. Badan kera kecil karena hidup dan makan secukupnya saja, tidak egois dan menimbun-nimbun harta dan makanan seperti manusia.

BEBEK: Benar Tik, bahwa kera itu hidup dan makan secukupnya tapi makanan mereka itu kan hasil curian dari kerja keras tuan kita (manusia).

ITIK: Ya, memang benar Bek, bahwa kera itu pencuri, tapi itu mereka lakukan karena lapar. Lhaaaa manusia, sudah kenyang menimbun-nimbun harta masih saja mencuri, membabat hutan, merusak habitat hidup margasatwa, mencemari alam, dan yang paling parah, korupsi sampai perut gendut sementara manusia yang lain mati kelaparan. Ahhh, kita tinggalkan saja pembicaraan ini, bisa jadi kita dinilai sedang terjebak dalam provokasi dan ujaran kebencian dalam Partai Margasatwa.

BEBEK: Tapi hatiku sangat sedih. Sungai-sungai kini banyak yang mengering. Memang saat ini curah hujan cukup tinggi dan longsor terjadi di mana-mana tetapi itu tidak bertahan lama karena tidak ada hutan tangkapan. Air hujan terus mengguyur bumi tetapi segera meresap dan mengalir sampai jauh ke laut. Kalau ada aliran sungai yang mengalir, itu pun karena hasil dari bisingan mesin yang tiada henti. Yang lebih menyedihkan, kini banyak sawah berubah menjadi tumpukan batu beton mewah. Akibatnya perut kami kosong karena persediaan makanan kami semakin menipis.

ANJING: Manusia menyayangiku karena kesetiaanku. Siang malam aku selalu berjaga. Gonggonganku mampu menghalau musuh yang mencoba mengganggu ketenteraman tuanku. Mereka memberi kepercayaan padaku untuk menjaga harta mereka. Siapa yang akan menjaga rumah tuanku kalau aku tidak tercipta.

ITIK: Aku ingin mandi. Ingin rasanya aku berenang ke kolam yang berlimpah airnya. Tetapi aku tidak tahu jalan menuju ke kolam itu karena aku ini hanyalah seekor bebek yang berjalan secara spontan mengikuti perasaan saja. Yang di depan akan menjadi penuntun hidup kawanan kami. Padahal, saudaraku yang berjalan di depan tidak mengerti ke mana jalan yang harus kami tempuh hingga tiba di tujuan. Manusia yang kami andalkan menjadi penuntun sering bersikap ceroboh. Perhatikan, tak sedikit saudara-saudaraku mati keracunan obat yang ditaburkan pak tani zaman millenial untuk membasmi hama. Tuanku duduk merenung menyesali kecerobohannya karena telah membawa kami ke pintu maut.

ANJING: Meski manusia sering memukul dan menendangku, aku tetap setia padanya. Manusia menuntutku untuk berlaku sopan terhadap mereka. Tetapi manusia tak pernah sekalipun berlaku sopan padaku. Mungkinkah karena karena aku hanya seekor anjing? Manusia memberiku makan dengan cara melempar. Jarang sekali menggunakan tangannya untuk mengulurkan tulang pada mulutku. Makanan basi pun mereka berikan padaku. Anehnya, mereka selalu bangga dan mengira aku bahagia dengan makanan basinya. Jarang aku mendapat makanan yang selezat dimakan tuanku. Begitukah caranya manusia memberikan sesuatu kepada yang lain?

BEBEK: Tuan Politisi dari Partai Margasatwa, aku berdoa kepada Tuhan agar tuan berhati-hati dalam mengayunkan setiap langkah. Semoga tuan politisi senantiasa membiarkan diri dituntun oleh-NYA agar kami kawanan bebek yakin bahwa kami tidak tersesat dalam tuntunan tuan.

ANJING: Dan aku juga berdoa kepada tuan politisi, agar melayani dengan penuh setia dan amanah di ladang politik. Semoga tuan politisi, selain menjaga kami, juga mau menjaga bumi dan negeri ini dari segala macam kejahatan.

Sdr. Andre Bisa, OFM

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here