Kesadaran tentang pentingnya kepedulian terhadap lingkungan hidup (baca: menjaga kelestarian lingkungan hidup) semakin meningkat dewasa ini. Hal itu dapat dilihat dari besarnya antusiasme masyarakat dan luasnya liputan media tentang tema kepedulian terhadap lingkungan hidup. Bila Anda sering nonton acara TV di akhir pekan, Anda akan disuguhkan berita kegiatan para artis yang kadang-kadang bersentuhan dengan tema kepedulian pada lingkungan hidup. Atau bila Anda rajin membaca koran seperti Harian Kompas misalnya, Anda akan menemukan bahwa tokoh atau warga masyarakat yang mendedikasikan hidupnya untuk menjaga kelestarian lingkungan hidup akan diulas di sana. Banyak orang seperti berlomba-lomba untuk ikut ambil bagian dalam gerakan yang sangat popular ini, gerakan untuk peduli pada lingkungan hidup.

Terbitnya ensiklik Paus Fransiskus ‘Laudato Si’ memperkuat gema panggilan untuk peduli pada lingkungan hidup. Gema dari ensiklik ini terdengar hingga seluruh pelosok dan dengan segera menjadi perhatian publik dunia. Gereja Katolik smesta menyambut gembira lahirnya ensiklik ini dan dengan cepat tersebar hingga menyentuh umat secara pribadi. Lepas dari berbagai kritik tentang patut tidaknya Bapa Suci mengeluarkan ensiklik yang secara spesifik menyinggung soal perubahan iklim dan lingkungan, ensiklik ini telah memicu diskusi di berbagai elemen masyarakat hingga ke lembaga dunia seperti PBB dan Kongres Amerika Serikat. Saya tidak hendak mengulang cerita soal Laudato Si. Yang mau saya tekankan adalah upaya yang dapat dilakukan oleh berbagai komunitas agar semangat kepedulian terhadap lingkungan hidup sungguh-sungguh menjadi sesuatu yang nyata dihidupi bukan sekedar retorika ataupun gerakan pencitraan karena diliput media semata. Gerakan itu harus menjadi gerakan yang melekat dengan keseharian tiap warga dunia sehingga menjadi gerakan bersama yang menyelamatkan, bukan hanya menyelamakan manusia yang ada saat ini melainkan juga manusia yang ada di masa depan dan tentu saja menyelamatkan seluruh alam beserta isinya kini dan nanti.

Berdasarkan besarnya kesadaran untuk peduli pada alam, meski barangkali tidak semuanya murni tapi masih sekedar pencitraan dan mencari panggung untuk diri pelakunya, tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa salah satu ciri menonjol dari awal abad 21 adalah kuatnya arus kesadaran untuk peduli pada lingkungan hidup. Karena itu bisa dimengerti bila hari ini Anda terlibat dalam aksi perusakan lingkungan hidup termasuk berburu satwa liar dan kegiatan Anda itu terekam media, termasuk media sosial, maka Anda akan dengan segera mendapati diri Anda menjadi musuh bersama oleh banyak orang. Sebaliknya, bila hari ini Anda berusaha mencari dukungan untuk menolak segala bentuk eksploitasi terhadap alam demi kepentingan bisnis segelintir orang, Anda ataupun petisi yang Anda buat akan dengan segera mendapat dukungan yang luas. Itu reliatas awal abad 21. Abad di mana gerakan untuk peduli pada alam dan lingkungan sedang mendapat panggung yang luas.

Tidak ada manusia yang ingin hidupnya susah oleh karena habisnya sumber daya alam ataupun akibat terjadinya bencana alam yang disebabkan oleh ulah manusia yang rakus serakah. Semua orang ingin mewariskan bumi yang sama ini untuk anak cucunya dan memastikan bahwa anak cucunya di masa depan bisa hidup berkecukupan dan menikmati alam yang sama indah dan kayanya dengan moyang mereka di masa sebelumnya. Untuk mewujdukan itu maka tidak ada pilihan lain, kita semua dituntut untuk sensitif terhadap alam. Dengarkan rintihannya, lakukan apa yang bisa Anda lakukan, sekecil apapun itu, demi keberlangsungan alam ibu bumi kita. Bagaimana caranya? Apa yang bisa dilakukan?

Pendidikan

Kita sering mendengar ucapan ‘ala bisa karena biasa’ atau ungkapan berbahasa Inggris ‘practice make perfect’. Kebenaran ungakapan ini telah diterima secara luas. Mengikuti makna ungkapan ini, kita tahu bahwa pembentukan karakter pribadi yang baik dan positif tidak bisa terjadi dalam semalam. Membuat hati nurani kita tajam dan dapat diandalkan untuk menjadi pandu dalam kehidupan pemiliknya tidak bisa terjadi dalam sekejap. Itu semua butuh latihan yang konsisten, butuh waktu dan pengorbanan. Sejalan dengan itu, Anda pasti sepakat dengan saya bahwa untuk membentuk pribadi yang peduli dan sensitif terhadap alam perlu latihan, kesabaran dan pengorbanan. Bagaimana model latihannya? Jawabannya pendidikan yang mendalam dan berkelanjutan.

Pendidikan yang saya maksud bukan pendidikan yang bersifat formal di dalam kelas melainkan pendidikan non-formal di dalam dan di luar lingkungan sekolah. Saya cenderung melihat bahwa pendidikan non-formal di dalam dan di luar sekolah sangat berpengaruh dalam membentuk pribadi yang peduli dan sensitif terhadap alam dan linkungannya. Pendidikan non-formal di dalam dan di lingkungan sekolah mengacu kepada pola hidup dan kebiasaan yang dibangun di dalam pagar sekolah, keluarga dan masyarakat lebih luas.

Ketika menyebut kata pendidikan, yang saya maksud adalah segala upaya konkret untuk mengubah perilaku dan sikap yang dilakukan oleh berbagai pihak atau elemen masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan kesadaran orang tentang nilai-nilai, dalam hal ini lingkungan, dan permasalahan lingkungan yang pada akhirnya dapat menggerakkan orang tersebut untuk berperan aktif dalam upaya pelestarian dan keselamatan lingkungan untuk kepentingan generasi sekarang dan yang akan datang. Kelompok sasaran dari kegiatan ini adalah kelompok usia sekolah. Mereka merupakan sumberdaya yang sangat potensial di masa mendatang jika dipersiapkan dengan baik melalui proses pendidikan.

Dengan ini saya hendak menyatakan bahwa proses ini perlu dimulai dari lingkungan sekolah. Mengapa lingkungan sekolah? Karena di sana kontrol terhadap proses hingga langkah terakhir dapat dilakukan dengan mudah. Selain itu kenyataan bahwa murid lebih mendengar gurunya daripada orangtua mereka menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam melakukan gerakan ini.

Di dalam lingkungan sekolah proses pendidikan ini dapat dilakukan dengan menciptakan budaya bersih dan peduli lingkungan. Sekolah misalnya, bisa menciptakan semacam aturan yang jelas dan tegas, lengkap dengan segala prosedur yang tersistematisasi dengan konsekuensinya yang jelas yang pada intinya untuk membiasakan anak didik bersikap peduli pada lingkungannya, seperti mampu membedakan jenis-jenis sampah, mengetahui ke mana sampah jenis tertentu harus dibuang, tindakan apa yang harus diambil setelah sampah-sampah itu dikumpulkan, dan seterusnya. Bila perlu para murid dilibatkan dalam menentukan proses lanjutan terhadap sampah yang telah dikumpul hingga sampah buangan itu menjadi sesuatu yang berharga dan dapat dimanfaatkan dalam wujudnya yang baru.

Para murid juga bisa dilibatkan untuk mengolah jenis sampah yang bisa dijadikan kompos hingga turut memutuskan untuk apa kompos itu digunakan. Kompos misalnya bisa dimanfaatkan untuk menyuburkan tanaman yang ditanam di lingkungan sekolah, juga bisa dipakai untuk memupuk kebun sayur kecil yang sengaja diadakan di dalam lingkungan sekolah. Proses lengkap semacam ini sangat bermanfaat dalam menciptakan pribadi yang berkarakter peduli dan sensitif terhadap alam bila dilakukan secara konsisten dan menjadi bagian dari budaya atau kebiasaan keseharian di sekolah.

Apa yang dilakukan di sekolah harus juga dilakukan di lingkungan keluarga dan masyarakat. jadi perlu sinergi antara sekolah, keluarga dan masyarakat luas. Para murid perlu didorong untuk menjadi agen perubahan baik di keluarga maupun lingkungan sekitarnya. Hal itu misalnya dapat dilakukan dengan memberi mereka proyek daur ulang atau proyek peduli lingkungan lainnya yang harus mereka lakukan di rumah dan di lingkungannya. Agar gerakan ini menjadi gerakan bersama, sekolah perlu melibatkan orang tua dan aparat pemerintahan di tingkat paling bawah seperti RT.

Melihat rantai proses yang cukup panjang, harus diakui bahwa upaya untuk menciptakan manusia yang sensitif terhadap alam tidaklah mudah. Tetapi bagi orang yang membiarkan harapannya untuk melihat dunia yang semakin baik tetap hidup hambatan dan rantai proses yang cukup panjang ini tidak akan menjadi halangan. Mari kita menjadikan diri kita dan orang-orang yang ada di sekitar kita pribadi yang peka dan peduli dengan alam, sebab hanya dengan itu kita bisa mewariskan alam yang indah dan menghidupkan untuk generasi yang akan datang. (Maksimus Adil, Pengajar di Jakarta Nanyang School, BSD)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here