BELAJAR MENJADI MANUSIA: Sebuah Pembacaan atas Novel O

0
1279

“Siapakah manusia?”

Ini sebuah pertanyaan penting filsafat manusia, yang jawabannya bisa merupakan sebuah kesunyian panjang. Manusia sangatlah kompleks untuk didefinisikan. Para filosof dalam sejarah filsafat ber­usaha memberikan jawaban. Beberapa usaha untuk menjelaskannya dengan membandingkan manusia dengan hewan. Aristoteles, misal­nya, menyebut manusia sebagai animal rationale (hewan yang berakal budi). Atau sebagai political animal (hewan yang mampu mengorganisir komunitas yang kompleks, kota atau negara). Bahkan bisa ditambahkan definisi Aristoteles tentang manusia sebagai hewan yang tertawa (yang memiliki rasa humor). Dalam semua usaha itu, Aristoteles mendefinisikan manusia dengan menyebutnya sebagai hewan.
Apakah kemudian kita boleh mendefinisikan seekor monyet sebagai manusia yang gagal berakal budi? Seekor tikus sebagai manusia yang tak cakap dan cerdas berpolitik? Entahlah. Barangkali itu sebab, kita mudah mengucapkan nama-nama hewan yang menghuni kebun binatang, manakala bertemu manusia yang luput memaksimalkan akal budinya. “Asu!” misalnya. Atau; “Babi!” Juga ketika tindak korupsi jamak dilakukan para politikus, kita segera menyebut mereka sebagai “tikus kantor”.

Lain Aristoteles, lain pula Max Scheler. Ia bahkan dengan tegas berargumen, manusia tak pernah menjadi hewan, sekalipun manusia bisa menjadi lebih atau kurang dari seekor hewan. Ketika manusia memaksimalkan potensi yang ada di dalam dirinya, ia bisa menjadi jauh lebih unggul dari seekor hewan. Sebaliknya, ketika apa yang ada di dalam dirinya, seperti rasio dan suara hati, tidak difungsikan, manusia bisa lebih berbahaya dari seekor hewan, lebih ganas dan buas. Sejarah punya banyak variasi cerita tentang ini.

Pertanyaan tentang siapa manusia memang sebuah filsafat yang rumit. Namun, filsafat yang sukar ini justru menjadi lebih menarik dinikmati ketika kita membaca novel karya Eka Kurniawan. Dalam O, Eka tidak saja berusaha untuk memberikan jawaban atas pertanyaan siapakah manusia? Eka justru mencoba menyeberang ke sebuah soal lain, ke sebuah pertanyaan yang lebih payah. Apa artinya menjadi manusia? Tidak ada jawaban yang persis. Yang disajikan Eka kemudian adalah sebuah dongeng jenaka, tentang sepasang kekasih (monyet) yang berambisi menjadi manusia.

Novel ini tidak bisa sekaligus kita namakan sebagai cerita fabel, kisah dari dunia binatang. Karena toh sebagian lain isinya menyimpan kisah pergulatan manusia di ibukota. Manusia yang ditampilkan Eka dalam kisah O memiliki narasi beragam. Ada pengedar narkoba yang diintai polisi. Ada polisi jujur seperti Sobari yang diam-diam mengingini kekasih penjahat. Ada pawang topeng monyet yang hidup mengumpulkan receh untuk kemudian dibuang dalam pesta minuman keras pada malam sesudahnya. Ada kisah tentang dua pemulung yang hidup sederhana tapi mendulang syukur. Ada kisah tentang seorang perempuan yang lebih mencintai anjingnya dari­pada suaminya. Ada Endang Kosasih, kaisar dangdut yang menurut O merupakaan penjelmaan kekasihnya. Ringkasnya, manusia dalam cerita Eka mengambil peran yang beragam.
Jika kemudian ditanyakan, siapakan tokoh dalam Novel O yang berhasil ‘menjadi manusia’, barangkali kita hanya bisa menduga-duga sambil terlebih dahulu menjawab apa sesungguhnya arti menjadi manusia?

Menjadi Manusia

Dongeng 470 halaman ini, bermula dari impian terpendam sepasang kekasih, O dan Entang Kosasih, dua monyet penghuni Rawa Kalong. Entang Kosasih ingin menjadi manusia, seperti halnya Armo Gundul yang kisahnya melegenda diceritakan temurun oleh tetua monyet di Rawa Kalong. Entang merasa telah berhasil menjadi manusia setelah sukses membantai polisi Joni Simbolon. Mendadak cerita tentang Entang Kosasih lenyap tanpa jejak di Rawa Kalong, kecuali kepedihan yang ditinggalkan pada kekasihnya, O. Impian yang sama pun menular dalam diri O, ingin menjadi manusia, meskipun alasannya agak romantis, demi sang kekasih. Petualangan O dimulai. Dari Rawa Kalong berpindah ke simpang jalan ibukota, meramaikan sirkus topeng monyet.

Manusia-manusia dalam dongeng Eka, masih berusaha menjadi manusia. Beberapa di antaranya berakhir menjadi binatang, entah menjelma ikan yang berenang bahagia di telaga. Atau menjadi seekor babi yang dikejar dan dihajar massa. Lalu, apa sebetulnya arti menjadi manusia? Sebagian jawabannya mungkin kita temukan dalam dialog tokoh. Misalnya kita temukan di halaman 440. “Aku ing­in melihatmu menjadi manusia,” kata seorang Ayah kepada anaknya yang diketahui bernama Rohmat Nurjaman. Di sana digambarkan ekspresi Rohmat yang mendadak sedih, karena merasa ia belum menjadi apa-apa, belum menjadi manusia. Rohmat hanya seorang tukang ojek (dan karenanya bukan manusia?) Di sini kita bisa menemukan gagasan menjadi manusia berarti menjadi orang yang sukses, kaya dan mapan. Namun, menjadi manusia tidak saja diukur dari kesuksesan. Nasehat Ayah Rohmat kemudian memberikan gambaran lain. “Tapi setidaknya kau mencari rejeki dengan cara yang benar. Tidak merampok, bersekutu dengan setan dan tidak menipu…” Menjadi manusia nampaknya lebih diukur dari prosesnya, dari cara-cara yang digunakan ketimbang dari hasil.

Bahwa menjadi manusia bukan melulu perkara memiliki tubuh seorang manusia. Itulah sebab Joni Simbolon memberikan wasiat mencengangkan kepada Polisi Sabari; “Berhentilah jadi polisi baik. Sedikit menjadi bajingan tak akan mengurangi dirimu sebagai manusia.” (hal 271) Barangkali bagi Joni, perihal menjadi manusia melulu soal tubuh yang dimiliki. Hal yang luput dipahami polisi Joni adalah bahwa seorang manusia seringkali didefinisikan oleh tindakkannya.

Menjadi manusia adalah proses yang tak lekas selesai dengan mengenakan tubuh seorang manusia. Karena manusia tidak melulu sebuah tubuh, tetapi juga melingkupi beragam dimensi dan aspek di dalamnya. Menjadi manusia berarti juga siap ditakar berdasarkan kemampuan untuk memaksimalkan potensi dasariah yang dimilikinya, seperti rasio dan suara hati, demi tujuan yang baik dan benar, bukan demi membenarkan kepentingannya sendiri. Dalam proses men­jadi manusia, pendidikan menjadi kunci integral. Pendidikan yang tidak sebatas yang diperoleh di ruang formal, tetapi yang dialami di semua tempat.

Pendidikan itu, dalam novel Eka, diterima di simpang jalan (seperti yang diperagakan O dalam sirkus topeng monyet, belajar menjadi manusia). Pendidikan yang diusahakan di sebuah surau (rumah ibadat), atau dalam keluarga. Pendidikan universal. Segala tempat menjadi ruang untuk belajar menjadi manusia. Tanpa pendidikan nampaknya manusia bakal gagal dalam proses menjadi manusia. Tak lebih dari seekor binantang yang payah berakal budi.

Perkara O dalam kisah Eka, melulu merupakan usaha memiliki tubuh manusia, tanpa memahami apa artinya menjadi manusia. Yang bisa dilakukan O dan hewan umum­nya hanyalah meniru manusia. Meniru tak pernah membuat seekor hewan menjadi manusia. Dan, ada yang mungkin O tidak tahu dalam dongeng 470 halaman Eka Kurniawan. Bahwa, bahkan manusia yang telah diciptakan Tuhan sebagai manusia seringkali gagal menjadi manusia.

Proses yang tak Lekas Selesai.

“Enggak gampang jadi manusia,” pikir O, tokoh monyet yang membuka novel Eka. Sudut pandang monyet mengatakan demikian. Eka kemudian menambahkan sudut pandang manusia di halaman 423. “Lebih enggak gampang hidup jadi babi,” ujar salah seorang tokoh perempuan.

Sebetulnya ada banyak kisah yang terjalin dalam novel ini. Se­ringkali berhubungan satu dengan yang lain, tapi juga terkadang tak punya kaitan antara cerita. Kita tak pernah benar-benar tahu, apakah O dipertemukan kembali dengan Entang Kosasih setelah perpisahan yang berlangsung di Rawa Kalong. Atau apa sebetulnya yang terjadi dengan sepasang pemulung dan Betalumur? Tokoh-tokoh dalam novel ini, nampaknya muncul dan pergi begitu saja, tanpa keterikat­an cerita satu sama lain. Mungkin, kita memahami novel ini sebagai sebuah cerita yang lebih peduli pada gagasan filosofis, dan terkadang tak hirau dengan kesinambungan cerita.

Kisah O yang tak benar-benar selesai, barangkali sebuah isyarat lain bahwa sebetulnya menjadi manusia merupakan proses yang tak lekas selesai. Menjadi manusia adalah proses yang kesudahannya bisa ditentukan ketika seseorang mati. Nilai seorang manusia, hanya tuntas diberikan ketika ia mati.

Eka Kurniawan, bagaimanapun juga merupakan novelis cerdas nan jenaka. Di mana-mana dalam novel ini, kita mudah menemukan humor tanpa menelanjangi nilai. Ia tak lupa menyertakan kritik sosial. Misalnya, tentang seorang polisi yang memilih berdiam diri, ketika seorang perempuan sibuk mengejar penjahat, Eka menulis demikian. “Kenapa kau juga diam? Kenapa? Kau polisi atau batu?” tanya tokoh perempuan yang bernama Rini Juwita. Sebuah pertanyaan yang menyiratkan kejahatan seringkali tumbuh bersamaan dengan diamnya para penjaga keaamanan seperti polisi.

Membaca novel ini, setidaknya kita kembali dingatkan, menjadi manusia adalah kewajiban seorang manusia, yang sayangnya seringkali gagal dilakukan oleh manusia modern. Mungkin kita perlu cemburu pada seekor monyet dalam ce­rita Eka, yang sekalipun binatang, masih menyimpan gairah menjadi manusia.***

Iwan Jemadi

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here