Paskah Berdarah di Sri Lanka: Berani Melawan Budaya Kematian

0
420
Para Fransiskan di depan gereja St Anthony di Kochchikade, salah-satu gereja yang menjadi target serangan. Foto: Reuters

Sri Lanka, JPIC OFM Indonesia.com – Peristiwa duka menghiasi perayaan Hari Raya Paskah di Sri Lanka. Betapa tidak, di tengah sukacita Perayaan Paskah, Perayaan Kebangkitan Kristus yang menggembirakan, seperti yang diberitakan BBC Indonesia, setidaknya terjadi delapan ledakan terkoordinasi pada Minggu (21/04). Tiga gereja yang menjadi serangan bom ini berada di Kochchikade, Negombo dan Batticaloa. 

Tiga gereja yang menjadi target bom adalah gereja St Sebastian di Negombo, gereja St. Anthony di Kochchikade dan  di Gereja Zion di kota Batticaloa salah satu gereja di kota yang terletak di wilayah Sri Lanka Timur. Sementara itu, hotel yang diserang adalah Shangri-La, Kingsbury, Cinnamon Grand dan hotel keempat yang semuanya berlokasi di Kolombo.

Selain itu, bom lain juga terjadi di depan Kebun Binatang Dehiwala di Dehiwala-Gunung Lavinia, sekitar 20 menit perjalanan dari ibukota Sri Lanka.

Jumlah Korban Semakin Bertambah

Menurut data yang dilansir BBC Indonesia, selain gedung gereja yang mengalami rusak parah akibat ledakan bom, di St. Sebastian, setidaknya 67 orang dilaporkan meninggal di gereja tersebut.

Juga ada banyak korban tewas dan luka-luka di gereja St Anthony di Kochchikade, salah-satu distrik di Ibu Kota Kolombo. Di antara mereka yang meninggal dunia di Kolombo, sedikitnya ada sembilan orang warga negara asing. Di Gereja Zion menurut sumber rumah sakit di Kota Batticaloa, menurut Laporan BBC Indonesia, setidaknya 27 orang meninggal dunia.

Data terbaru dari pihak berwenang setempat menunjukkan setidaknya 207 orang meninggal dunia dan 450 orang lainnya terluka, termasuk luka parah.

Tugas Kemuridan: Mewujudkan Budaya Kehidupan

Peristiwa duka di balik sukacita Paskah ini menunjukkan masih mengakarnya budaya kematian melalui tindakan-tindakan terorisme yang tidak berprikemanusiaan. Pesan Paskah yang sedang dirayakan, dimana Yesus dengan kebangkitan-Nya menjungkirbalikan budaya kematian yang menguasai manusia seakan-akan tidak mendapat pesan universal.

Wafat dan kebangkitan Yesus melalui peristiwa Bom Sri Lanka pada Hari Raya Paskah menunjukkan bahwa tugas kemuridan orang-orang Kristiani untuk memperjuangkan budaya kehidupan yang telah ditunjukkan Kristus tidaklah selesai pada peristiwa Kristus. Sukacita Paskah tidak berarti bahwa perjuangan untuk mewujudkan budaya kehidupan dari budaya kematian sudah selesai, kita tinggal menikmati hasil karya penebusan Kristus tanpa perjuangan.

Kata-kata Kristus di atas Salib, “Sudah selesai” ternyata mengandung perintah bahwa tugas Kristus sudah selesai, giliran kita untuk melanjutkan-Nya. Pesan Paskah mesti dibaca bahwa setiap hari, pengikut Kristus diminta untuk berani melawan setiap tindakan yang melawan budaya kehidupan.

Mari kita berdoa bagi para korban tindakan keji melalui terorisme di Sri Lanka. Semoga Kristus sendiri juga menyambut mereka pada Hari Paskah ini di Kerajaan bapa yang Abadi.

Editor: Charles, OFM

 

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here