Spirit Laudato Si’: Pertobatan Ekologis Mulai Dari Diri Sendiri

0
569
Eco-Art Creativity, presentasi salah satu kelompok tentang pentingnya Pertobatan Ekologis. foto: doc. pribadi

Bogor_JPIC OFM Indonesia Setelah memberikan rekoleksi untuk siswa-i kelas 7 dan 8 SMP Marsudirini Koja-Jakarta Utara (10-11/10), tim animasi JPIC OFM Goes to School melanjutkan pendampingan retret untuk siswa-siswi kelas IX SMP Marsudirini Kemang Pratama-Bekasi. Retret kali ini dibagi dalam dua gelombang. Gelombang pertama diikuti 130 anak (14-16/10). Gelombang kedua diikuti 129 anak (16-18/10).

Tim animasi JPIC OFM yang diketuai Sdr. Jemadiarto Edison OFM beranggotakan sdr. Edu da Silva (Biara Duns Scotus), sdr. Laurens, Theofano Arito, Marciano Almeida Soares (Biara St. Antonius Padua), sdr. Yan Kamese (Provinsialat St. Mikael Malaikat Agung), dan sdr. Sulaiman Otor OFM (Biara St. Yoseph Cupertino).

sdr. Jemadiarto Edison OFM memberikan arahan kepada para pelajar. foto: dok. pribadi.

JPIC OFM mengusung tema “Spirit Laudato Si’: Pertobatan Ekologis Mulai dari Diri Sendiri”. Semuanya dirangkai dalam spirit ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau) Paus Fransiskus yang terinspirasi dari orang kudus patron ekologi, St. Fransiskus Assisi, yang juga merupakan pelindung sekolah Marsudirini.

Tujuan retret ini, di satu sisi, menganimasi para pelajar untuk mengenal diri, sesama, dan lingkungan. Di sisi lain, mempersiapkan diri-batiniah para pelajar yang akan menempuh ujian akhir sekolah.

Saat sesi “puncta” (pemeriksaan batin di depan Sakramen Mahakudus). foto: dok. pribadi.

Ribka Desclara Bintoro, sangat antusias menceritakan pengalamannya :

“Sesuai dengan tema retret, yaitu pertobatan ekologis, saya belajar bahwa alam semesta membutuhkan kesadaran dan kepedulian manusia. Saya dan teman-teman dibikin panik oleh para frater. Ternyata, ibu bumi sedang sakit parah dan butuh kepedulian manusia. Namun, manusia seringkali mengabaikan jeritan bumi dan mementingkan dirinya sendiri.”

Berbagai isu krisis lingkungan yang ditampilkan rupanya mengusik batin anak-anak untuk menyadari dosa manusia yang turut berdampak pada kerusakan alam.

Ribka, sapaan akrabnya, menambahkan:

“Dalam retret ini, saya dan teman-teman belajar banyak hal. Dari St. Fransiskus Assisi, bukan hanya tentang rasa kemanusiaan, tapi juga rasa “sebagai sesama ciptaan”. Sebagai sesama ciptaan, sudah seharusnya kita melindungi dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.  Kita dapat mulai dari hal sederhana, seperti mengubah gaya hidup dalam kesederhanaan, pola konsumsi yan cukup sehingga tidak membuang-buang sisa makanan, kreatif menggunakan fasilitas ramah lingkungan, tidak mudah putus asa meskipun orang lain belum tergerak mencintai lingkungan, ya tetap peduli pada sesama dan lingkungan.”

“Acaranya menarik dan seru.  Saya paling berkesan dengan meditasi benih, out door session, dan diskusi kelompok tentang isu krisis lingkungan. Dalam diskusi, kami bisa bertukar ide, menelusuri penyebab dan solusinya bersama-sama. Saya ingin mulai dari diri sendiri untuk mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Semoga semua hal yang sudah didapatkan tidak terlupakan,” ungkap siswi ini penuh harap.

Siswa lainnya,  Yatishaa Arihant, turut berbagi pendapat:

“Saya merasa prihatin dan sedih. Kita semua harus bersama-sama menyadari bahwa bumi sedang sakit parah dan butuh bantuan. Di sini saya menyadari rasa peduli ternyata sangat penting. Daripada mementingkan diri sendiri, ternyata kepentingan dunia lebih penting karena ini rumah kita bersama. Kita harus kompak menjaga dan merawat ibu bumi, rumah kita semua.”

rosario Laudato Si’. foto: dok. pribadi.

“Hal yang sangat berkesan, saya semakin dekat dengan Tuhan, sesama, lingkungan, dan diri sendiri. Ternyata pertobatan ekologis itu mencakup seluruh kehidupan kita dan dunia. Selain itu, saya amat terkesan dengan sesi malam hari (Zero Mind State, edit.). Kami semua diajak untuk berkonsentrasi dan fokus membangun tekad untuk berdamai dengan Tuhan, diri sendiri, dan orang tua. Kami berkesempatan menulis surat kepada orangtua.  Saya ingin menjadi anak yang bisa membanggakan keluarga. Saya berharap, saya tidak akan pernah melupakan pengalaman ini.”

Tidak ketinggalan, pelajar lain turut mengunggah komentarnya di akun media sosial, seperti Instagram. Para pelajar ini berbagai cerita tentang retret setelah kembali ke rumah masing-masing.

Akun @Anjaniprameswari, @martha_meslina, dan @theresalovindrina, antara lain, menyinggung sesi meditasi benih atau sekadar menyapa. Semuanya ditanggapi akun @prithadevi dengan komentar kreatif khas anak milenial.

komentar pelajar lainnya di Instagram.

Adapun retret ini diadakan di Rumah Retret Tugu Wisma Wacana Souverdi, Ciawi, Jalan raya Bogor-Puncak milik tarekat SVD Provinsi Jawa. Rumah retret yang nyaman berikut fasilitas memadai, makanan yang nikmat, pemandangan asri, udara bersih turut mendukung kelancaran proses retret ini. (Sdr. Sulaiman Otor OFM)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here