Sdr. Sam Nasada OFM

Jakarta, JPICOFMIndonesia.com Sore ini (10/1), kantor JPIC-OFM Indonesia mendapat kunjungan istimewa dari Sdr. Samuel Nasada Himawan OFM. Pater Sam, demikian sapaan akrabnya, beberapa waktu yang lalu ditahbiskan sebagai imam di Arizona dan berinkardinasi ke provinsi OFM di St. Barbara, USA.

Di masa mudanya, setelah tamat SMA di Jakarta, ia melanjutkan kuliah ke Amerika Serikat. Setelah sempat memulai karir profesionalnya, ia berjumpa dengan para saudara Fransiskan yang menghidupi spirit St. Fransiskus dari Assisi. Semangat keugaharian para fransiskan dalam membela sesama dan lingkungan rupanya amat menarik. Perlahan dan pasti, panggilan Tuhan bersemi dalam dirinya.

Melalui suatu proses discerment yang panjang, ia akhirnya mengikrarkan kaul kekal dalam cara hidup fransiskan religius di Oakland pada Agustus 2016. Selanjutnya, ia menerima tahbisan diakon dari uskup Phoenix, Mgr. Thomas J. Olmsted, pada tahun 2018. Kemudian, pada 3 Desember 2019, ia ditahbiskan sebagai imam. Sdr. Sam OFM melanjutkan pelayanannya di Franciscan Renewal Center yang menaruh perhatian khusus bagi para migran di USA.

Berikut profil dan petikan wawancara dengan Sdr. Sam OFM.

Nama : Samuel Nasada Himawan OFM
Orangtua: Anton Himawan dan Melany Untoro
Saudara : Kristoforus Pardua Himawan
TTL : Jakarta, 29 Maret 1978
Pendidikan formal: Sarjana Muda Teknik Industri di Oklahoma State University, Master Teknik Industri di Georgia Institute of Technology, Master of Divinity di Franciscan School of Theology
Formasi : 2010 postulansi, 2011 novisiat, 2012 kaul pertama, 2016 kaul kekal, 2018 tahbisan diakon, 2019 tahbisan imamat
Tugas/pelayanan saat ini: Franciscan Renewal Center, Scottsdale, Arizona

Kampanye fransiskan dari Provinsi St. Barbara-USA dalam menyuarakan hak buruh migran

Saat ini, Saudara cukup dikenal aktif dalam membela hak-hak migran. Apa motivasinya?

Saya tidak tahu pasti bagaimana mulai tergerak untuk berkarya membantu para migran. Sebagian saya kira karena saya sendiri adalah imigran di negara Amerika Serikat ini. Walaupun saya melalui jalur imigrasi normal dengan sekolah dan pekerjaan, tetapi saya tahu bahwa banyak migran yang tidak memperoleh kesempatan yang sama dengan saya. Saya sangat tergerak lagi ketika Donald Trump, yang sejak masa kampanye sudah kelihatan tidak simpatik dengan hak-hak migran, terpilih menjadi presiden. Ketika itulah saya memutuskan untuk menunda tahbisan diakonat dan membantu Saudara David Buer OFM dari provinsi saya untuk membentuk komunitas baru di dekat perbatasan Arizona-Meksiko.

Bagaimana tanggapan Gereja Katolik Amerika menanggapi isu seputar migran. Bisa ceritakan garis besarnya?

Gereja Katolik Amerika Serikat pada umumnya sangat membela hak-hak migran. Beberapa uskup dan juga konferensi waligereja sering mengeluarkan pernyataan yang membela migran. Yang saya sayangkan adalah realitas di lapangan. Banyak umat Katolik, bahkan sebagian imam, yang mendahulukan identitas politik daripada panggilan mereka sebagai pengikut Kristus. Ada juga uskup-uskup yang tidak terlalu menganggap hak migran sebagai prioritas dalam wilayah mereka.

Saudara juga terlibat dalam Franciscan Action Network (FAN) yang dikenal gigih memperjuangkan kemanusiaan. Bisa menceritakan tentang apa itu FAN? Apa motivasi dan tujuan dari konsern FAN pada isu migran?

FAN dibentuk sekitar tahun 2007 karena terinspirasi oleh Franciscan International (FI). Kalau ada badan lobby Fransiskan di PBB, mengapa tidak ada juga organisasi serupa untuk me-lobby pemerintah Amerika Serikat. Misi FAN adalah menjadi jalur suara dari berbagai cabang Fransiskan untuk membantu merubah peraturan-peraturan dan hukum negara AS supaya lebih mengutamakan perdamaian, peduli lingkungan hidup, mengatasi kemiskinan, dan membela hak asasi manusia, sesuai dengan inspirasi Injil dan teladan Santo Fransiskus dan Santa Klara dari Assisi.

Bagaimana tanggapan Persaudaraan OFM St. Barbara menanggapi isu ini?

Dalam pertemuan kapitel provinsi kami tahun 2019, salah satu hasil keputusan adalah meminta setiap komunitas, paroki, rumah retret, dan lokasi-lokasi pelayanan lainnya untuk mengadakan kegiatan-kegiatan yang dapat membantu isu migran di masyarakat sekitar mereka. Sayangnya,hal ini tidak selalu mudah karena jumlah para saudara semakin sedikit dan kesibukan mereka pun sudah sangat padat.

Sdr. Sam ikut dalam kampanye membela para buruh migran

Apa tantangan utama Saudara selama aktif membela hak kaum migran? Sukacita apa yang ditemukan dalam perjuangan Saudara selama ini?

Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, saya kadang merasa sedih kalau melihat penolakan untuk membela migran datang dari umat Katolik sendiri. Sukacita yang saya temukan seringkali justru melalui umat dan pemimpin-pemimpin gereja lain yang lebih peduli terhadap migran. Banyak juga orang dan organisasi yang tidak berafiliasi dengan suatu gereja tetapi gigih membela hak kaum migran. Mereka inilah yang menginspirasi saya.

Bagaimana merefleksikan relevansi antara hidup sebagai fransiskan dan membela hak migran? Bisa ceritakan satu contoh pengalaman paling berkesan?

Santo Fransiskus keluar dari keamanan dan kenyamanan hidup di balik tembok pertahanan kota Assisi untuk melayani mereka yang menderita kusta. Saat ini mungkin penderita kusta tidak banyak kita temui lagi. Tetapi sangat banyak orang-orang yang kita perlakukan seperti penderita kusta. Salah satunya di AS ini adalah para migran.
Antara 1998 dan 2017, lebih dari 7000 orang migran tewas ketika mencoba melewati perbatasan, kebanyakan di gurun di Arizona. Suatu ketika sekelompok dari kami berjalan di gurun di dekat perbatasan untuk menempatkan beberapa botol air yang bisa membantu para migran yang berjalan di gurun ini untuk tetap hidup ketika mereka sudah kehabisan air yang dibawa.
Seorang dari kami tiba-tiba berhenti dan terhenyak. Dia menemukan sebuah tengkorak manusia. Sesuai prosedur, kami melaporkan kepada polisi dan menunggu sampai mereka datang. Karena waktu sudah siang, kami duduk dan membuka bekal kami. Saya merasakan saat itu persekutuan para kudus benar-benar nyata. Saudara kita yang mati di tempat itu mungkin belum pernah mendapatkan penguburan yang pantas. Kami yang ada di sana saat itu, dengan bekal seadanya, secara sederhana merayakan kembalinya dia ke pangkuan Bapa di surga.

kunjungan Sdr. Sam OFM ke kantor JPIC OFM Provinsi St. Mikael Malaikat Agung Indonesia (10/1/2019)

Apa arti penting semua perjuangan Saudara tersebut dengan dunia saat ini? Pesan atau harapan Saudara?

Ada semacam tren di dunia saat ini di mana banyak orang memilih pemimpin pemerintahan yang bersikap keras terhadap migran, seperti di Italia, Brasil, dan Inggris. Mereka merasa bahwa negara mereka “diserang” oleh para migran yang berbeda warna kulit, beda budaya dan agama, cara hidupnya tidak sesuai dengan cara mereka, dan alasan-alasan lainnya.
Politik identitas sangat laku karena sangat mudah digunakan untuk menarik massa pendukung. Namun, hal ini tidak sesuai dengan ajaran Kristus, di mana kita dituntut untuk membela mereka yang lemah, mereka yang dipinggirkan.
Harapan saya bahwa para umat Kristiani di mana pun juga tidak termakan dengan politik identitas semacam ini dan tetap mengutamakan misi Kristus di dunia yang dikidungkan oleh Bunda Maria: Tuhan mencerai-beraikan orang yang angkuh hatinya, orang yang berkuasa diturunkan-Nya dari takhta, yang hina dina diangkat-Nya, yang lapar dikenyangkan-Nya dengan kebaikan, orang kaya diusir-Nya pergi dengan tangan kosong (Injil Lukas, 1:46-55).* (Wawancara oleh Sdr. Sulaiman Otor OFM)

TINGGALKAN BALASAN

Please enter your comment!
Please enter your name here